Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Bola mata milik Varo


__ADS_3

Malam hari di yayasan.


Rena berada di dapur berniat untuk membuat susu untuk Alif.


Varo yang baru saja mengganti pakaian kaget melihat Rena yang muncul tiba tiba. Untung saja dia telah memakai pakaian ganti yang disediakan oleh yayasan serta masker yang selalu dipakainya. Sejak awal datangnya Varo sebagai Via, masker wajah ini tak pernah dilepasnya.


Rena yang tak menatap lawan bicaranya memudahkan penyamaran Varo. Jika saja dia menatap atau memperhatikan lebih dekat, dia pasti akan langsung mengenali pria itu.


"Malam mba Via, Rena pinjam sebentar ya dapurnya" wanita itu menyapa dengan ramah.


Varo alias Via hanya bisa mengangguk tanpa mengeluarkan suara.


Rena kembali sibuk dengan pekerjaannya, tak menyadari kalau mata dalam milik Varo terus menatapnya.


"Mba Rena, bikin susu buat siapa?" Varo menulis pertanyaan untuk Rena.


"Buat anak Rena, namanya Alif, mba Via belum jumpa ya?" Rena menjawab.


DEG....Varo menelan salivanya.


"Rena punya anak? bukankah kak Desi bilang kalau dia tak pernah disentuh oleh mantan suaminya" beribu pertanyaan berputar putar di pikiran Varo.


"Mba Via makasih ya, Rena mau ke kamar Alif dulu" suara Rena mengagetkan Varo dari lamunan.


Varo memandangi Rena yang berjalan terseok seok hingga menghilang di balik pintu kamarnya.


Varo mengusap usap pelipis nya menghilangkan pusing yang tiba tiba menyerang.


"Aku harus menanyakan langsung ke kak Desi apa yang terjadi" Varo bertekad.


Varo mengetuk beberapa kali pintu ruangan kerja Desi. Dia ingin segera mendapatkan jawaban atas kalimat Rena tadi.


"Mba Via mau nyari kak Desi ya?" Rena yang telah selesai menyusui Alif berpapasan dengan Varo.


Varo hanya mengangguk.

__ADS_1


"Kak Desi cuma sesekali menginap disini. Dia dirumah suaminya. Kalau ada yang mau dibicarakan besok pagi baru bisa" Rena menjelaskan.


Varo buru buru menulis pertanyaan untuk Rena.


Jadi di rumah ini cuma kamu dan anak anak?" tanya Varo.


"Ada ibunya mbak Desi, Bu Indah namanya, tapi jam segini udah tidur, jangan diganggu" jelas Rena lagi.


Varo paham dan mengucapkan terimakasih lewat tulisannya.


"Oiya mba Via jangan panggil Rena pake kata mba ya, sebut nama Rena aja" sebelum Rena pergi dia menyampaikan permintaannya.


Varo tersenyum mengiyakan meskipun Rena tak memandang kearahnya.


Rena berjalan melangkah ke arah taman. Varo yang masih mematung ditempatnya ingin menyusul Rena. Ini kesempatan bagus untuk dia berbincang ringan dengan Rena.


Tadi siang dokter Desi menjelaskan kepadanya, kalau Rena bisa diajak berbicara dalam keadaan santai dan tenang. Varo merasa ini saatnya.


"Rena saya boleh ikutan duduk disini? saya bosan didalam" Varo memberikan kertas kepada Rena dan dibaca oleh wanita itu.


Tak ada percakapan apa apa diantara mereka, Rena hanya diam sambil membaca majalah yang dipegangnya, sementara Varo sibuk mengendalikan degup jantungnya.


Untuk pertama kali selama dua tahun penantiannya, Varo bisa duduk bersebelahan lagi dengan Rena, menikmati malam meski dengan identitas berbeda.


Jilbab instan milik Rena tertiup angin, membuat pesona gadis itu bertambah manis di mata Varo.


Varo kembali teringat pertemuan awal dengan Rena di gerbang yayasan. Rena memakai hijab, sederhana namun tampak begitu mempesona. Rena memang selalu mempesona.


"Rena, mau dibikinkan cemilan atau makanan lagi gak?" Varo memulai pembicaraan.


"Makasih mba Via, Rena masih kenyang".


Varo mengacungkan jempolnya untuk memberi kode setuju.


Rena kembali membaca majalahnya, sekali sekali tangannya memijit kakinya yang sakit.

__ADS_1


Varo kembali ingat, kondisi kaki Rena masih menjadi misteri, ada apa sebenarnya yang terjadi.


Varo membulatkan tekad, dia akan menanyakan masalah ini langsung kepada Rena.


"Rena, kakimu kenapa? jatuh ya?" Varo menulis dan memberikan kepada Rena.


"Cacat mbak" Rena menjawab singkat, wajahnya sendu.


"Maaf" Varo menulis.


"Tak apa mbak" Rena memberikan senyum sekilas kepada Varo.


"Bagaimana bisa kamu cacat, arghhhhh banyak sekali misteri" Varo geram sendiri.


Setengah jam lebih Varo menemani Rena duduk menikmati alam. Sebelum akhirnya Varo kembali mengajak Rena ngobrol.


"Disini dingin, masuk kedalam yuk" Varo menulis.


"Mba Via duluan aja, Rena masih ingin disini" tolak Rena.


Varo tak menjawab, dia pergi ke kamarnya dan mengambil selimut, dia balik untuk menemui Rena yang masih di taman.


"Pakai ini ya, dingin" Varo menyampirkan selimut ke tubuh Rena.


DEG....


Tangan Rena menyentuh tangan Varo yang sedang mengambil selimut. Jantung Varo rasanya ingin melompat karena bahagia.


Rena tak menyadari itu, dia hanya bermaksud memakai sendiri selimut itu, tak ingin merepotkan Via.


Varo yang terdiam karena sentuhan Rena saat ini masih dalam posisi setengah menunduk di atas Rena yang duduk.


Rena yang merasa aneh, mengangkat kepalanya dan mata mereka bertemu.


"Hik.." Rena tiba tiba menangis dan mendorong tubuh Varo menjauh.

__ADS_1


Mata itu, bola mata itu tak mampu ditutupi, itu milik Varo, Rena tak akan bisa lupa.


__ADS_2