Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Berteman


__ADS_3

Rena menutup matanya dengan kedua tangan untuk menyembunyikan kesedihan.


Varo memberanikan diri meraih tangan itu, namun saat Varo hendak memegang, Rena menepisnya dan berdiri menjauh.


"Jangan sentuh" Rena tampak ketakutan. Varo segera menghentikan aksinya. Renata masih belum pulih dari trauma, dia tak boleh memaksa.


"Maaf Re" Varo kembali mencoba menenangkan.


"Aku minta izin Re, beri aku kesempatan menemukan orang tuamu dan mengembalikan kehidupan mu lebih baik. Setelah itu aku janji akan menjauh" Varo mengungkapkan tujuannya.


"Jangan lagi menjauh dariku, aku janji tak akan menggoda mu lagi. Mau kah kau menganggap ku sebagai seorang teman?" Varo menawarkan.


Rena teringat perkataan Kiara tadi malam. Kenangan baik tentang Varo lebih banyak dibanding kenangan buruk, dia harus mencoba menerima Varo sebagai seorang teman.


Rena mengangguk. Saatnya membuka lembaran baru. Cerita tentang Dia dan Varo sudah berakhir.


.


.


.


"Silahkan tuan dan nyonya, jam besuk sudah dimulai" suara seorang perawat memecah keheningan diantara kedua orang itu.


"Ayo Re" Varo bangkit dan mengajak Rena bersama. Keduanya melangkah masuk bersama kedalam ruangan ICU.


Rena menggenggam tangan Bu Lidya. Tak tampak sedikit pun kebencian di hati Rena buat wanita itu.

__ADS_1


"Assalamualaikum Bu, ini Rena, Rena kesini mau besuk ibu" Rena berbisik di telinga wanita itu.


Bu Lidya belum memberi respon apapun, tubuhnya tetap kaku tak merespon.


Rena berada di ruangan itu sekitar lima belas menit. Setelah itu dia pamit kepada Varo, Rena berniat kembali ke hotel.


"Semoga ibu segera sembuh ya kak, aku balik" Rena berpamitan.


"Tunggu Re, biar kuantar sekalian, ada yang mau ku beli ke swalayan" Varo ingin mengantar Rena karena khawatir wanita itu akan tersasar. Dan Varo paham sifat Rena yang tak ingin merepotkan, karena itulah dia mencari alasan ingin ke swalayan.


.


.


.


"Re, kita ke swalayan dulu ya, biar gak mutar mutar" ajak Varo.


"Ayo" Rena bersemangat.


Didalam swalayan Varo dan Rena berkeliling. Varo mendorong troli belanja sementara Rena berjalan di sampingnya.


"Kak Varo mau beli apa?" Rena kebingungan karena melihat barang barang yang dibeli Varo semuanya jajanan dan cemilan.


"Ini mau beli ini" jawab Varo cuek.


Stik keju, cemilan aroma keju dan beberapa hal lain yang biasanya Varo tak terlalu suka, Rena masih ingat semuanya.

__ADS_1


"Kak Varo sekarang suka makanan keju begini?" Rena penasaran.


Varo hanya tersenyum. Dia tetap memasukkan ke dalam troli makanan lain yang menurutnya Rena pasti suka.


Beberapa menit setelahnya Rena dan Varo terpisah. Rena terlalu asik berkeliling melihat pernak pernik lucu di bagian aksesoris hingga tak menyadari kalau Varo ketinggalan jauh di belakangnya.


Varo yang menyadari Rena tak ada akhirnya mencari gadis itu, dan menemukan diantara tumpukan boneka.


Varo terkesima, Rena tampak sangat cantik dengan latar boneka besar di belakangnya.


Klik....


Varo berhasil mencuri satu lagi foto Rena. Didalam foto itu Rena yang berpakaian serba hitam tampak mencolok dikelilingi boneka berwarna pink.


Varo tetap di posisinya, menunggu Rena dari depan stand pernak pernik itu. Setelah beberapa menit, Rena kembali menghampirinya dan disambut dengan senyuman oleh Varo.


"Mana belanjaannya?" Varo bingung karena Rena tak membawa apapun.


"Cuma lihat lihat kok, ayo kak takut kesorean" Rena mengajak Varo.


"Ok, tolong dorong ini ke kasir sebentar ya, aku mau ambil sesuatu yang ketinggalan" Varo meminta kepada Rena.


Gadis itu mengangguk dan tanpa curiga mendorong troli mengikuti antrian di kasir.


Varo masuk kedalam stand pernak pernik yang tadi didatangi Rena. Varo melihat sebuah aksesoris hijab yang sangat cantik yang tadi dipegang Rena. Dia akan memberikan kepada Rena saat pulang nanti. Varo segera membayar dan membungkus benda itu dengan indah.


Varo menyusul Rena kedalam antrian kasir. Semua mata pengunjung mencuri pandang kepada mereka. Pasangan yang sangat serasi. Seorang pria tampan dengan wanita yang cantik. Andai pernikahan mereka tak gagal, pasti saat ini mereka sedang berbelanja sebagai sepasang suami istri yang bahagia dengan seorang putra kecil buah hati mereka.

__ADS_1


__ADS_2