Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Kampus Zifa


__ADS_3

Varo melajukan mobilnya menuju kantor. Sebelumnya Varo telah meminta izin selama dua jam untuk terlambat datang ke kantor. Tapi karena Rena tak membutuhkannya, Varo memilih untuk menyibukkan diri dengan bekerja.


Hati Varo begitu bimbang. Kadang Rena menunjukkan sikap nyaman bersamanya, namun setiap kali ada Niko Rena langsung berubah, menjauhinya dan selalu membela Niko.


"Rena, apa aku masih bisa berharap untuk memilikimu?" Varo bergumam sendiri sambil terus memijit pelipisnya yang tegang. Tumpukan file pekerjaan didepannya semakin menambah kegundahan hatinya. Varo lagi lagi dilanda kegalauan.


"Hai Varo" Alya sudah berdiri di hadapan Varo dan membawakan secangkir kopi kesukaan Varo.


"Lagi banyak kerjaan ya?" Alya berusaha memancing obrolan.


"Iya Al" Varo menjawab singkat, suasana hatinya tak bagus.


"Oiya, aku mau undang kamu kerumah, papa ingin jumpa" Alya mengutarakan tujuannya.


"Aku cuma ingin menjalin silaturahmi kok, gak bermaksud apa apa" Alya mulai berakting karena Varo terlihat ingin menolak ajakannya.


"Gak janji ya Al, aku masih sibuk dengan urusan pengajian empat puluh hari kematian mama" Varo beralasan. Tak sepenuhnya bohong, karena memang tak berapa lama lagi waktu untuk pengajian mamanya akan tiba.


"Oiya, gak terasa ya, aku mau bantu deh, kami butuh apa?" Alya mengalihkan fokusnya. Apapun yang bisa membuatnya dekat dengan Varo akan dilakukan.

__ADS_1


"Makasih Al, cukup doanya aja" Varo menolak dengan halus keterlibatan Alya dalam hidupnya.


.


.


.


Sementara itu, Rena yang diantar oleh Niko telah sampai di kampus ternama yang akan menjadi tempatnya menuntut ilmu.


"Aku turun dulu ya" Rena bersemangat hendak pergi segera.


"Eh kamu gak kerja?" Rena berusaha mencari alasan.


"Gak Re, aku bisa masuk kapan saja aku mau, itukan perusahaan ku" terdengar nada sombong dalam kalimat pria itu.


"Ya uda, terserahlah" Rena tak peduli. Keduanya berjalan beriringan memasuki lobi kampus elit itu.


Rena mendapatkan akses masuk untuk menemui ketua yayasan di lantai tiga dari resepsionis kampus. Segera saja Rena berjalan menaiki tangga demi untuk segera menemui sang ketua yayasan.

__ADS_1


"Kak Rena, Niko" Zifa menyapa mereka persis di saat Rena sampai di lantai dua gedung itu. Wajah Zifa nampak terkejut.


"Hai Zifa, ini kampus kamu?" Rena senang akhirnya ada seseorang yang dikenalnya di tempat ini.


"Iya kak, aku kuliah disini" jawab Zifa.


"Aku mau menemui ketua yayasan, Alhamdulillah aku dapat promosi beasiswa, secepatnya aku akan kuliah lagi" Rena langsung menceritakan apa yang terjadi kepada Zifa. Ekspresinya sangat gembira.


"Alhamdulillah, selamat ya kak Rena" Zifa ikut terbawa bahagia saat melihat tingkah laku Rena.


"Lalu om Niko kesini ngapain?" Zifa yang sedari tadi mencuri pandang kepada Niko memberanikan diri bertanya.


"A..aku menemani Rena" Niko gugup dengan jawabannya sendiri.


"Oh iya, sebagai pasangan yang baik memang harus begitu, kemana pun pasangannya pergi pasti akan ditemani, kak Rena beruntung begitu disayangi sama pak Niko" Zifa menyindir pria itu.


Niko yang mendengar ucapan Zifa hanya mampu menunduk tak berani berkata kata.


"Ya udah kak, lanjut deh, aku mau masuk kelas juga, sampai jumpa lagi ya" Zifa pamit menjauh dari kedua orang itu.

__ADS_1


"Ya udah, kamu hati hati ya, aku duluan" Rena menyalami gadis imut itu dan segera menaiki tangga menuju lantai tiga tempat ruangan kepala yayasan berada. Sementara Niko mengekor di belakangnya dengan langkah ragu. Sekali sekali menoleh ke belakang melihat kearah Zifa yang berjalan gontai masuk kedalam kelasnya.


__ADS_2