
Rena yang sedang mengompres dahi Varo tak menyadari kalau pria itu terus menatapnya. Sesekali bahkan Rena membelai rambut Varo yang jatuh ke handuk basah yang ada di kepalanya.
Varo meresapi semua perhatian Rena. Pria itu memejamkan mata, tak ingin waktu cepat berlalu, andai dia harus terus sakit, dia rela asal Rena ada di sisinya.
Rena yang menyangka Varo tertidur memandangi wajah pria itu lebih dekat. Dia rindu wangi rambut Varo, dia rindu menyentuh wajah Varo, namun Rena meyakinkan diri, dia tak boleh terlena, saat ini Varo adalah hanya teman biasa.
Kiara masuk ke kamar Varo setelah menunggu Rena yang tak balik ke kamar cukup lama.
"Re, Varo kenapa?" Kiara terlihat khawatir.
"Badannya panas banget, kayaknya demam, kan udah beberapa hari begadang nungguin di rumah sakit" Rena mengambil kesimpulan.
Kiara mencoba mengecek kondisi Varo. Meskipun dia seorang dokter ahli kecantikan, untuk pemeriksaan standar kesehatan pasien dia masih bisa.
"Re, tekanan darah Varo rendah, dia kelelahan ini, kita harus siaga, takutnya dia drop" Kiara melebih lebihkan.
Kondisi Varo sebenarnya stabil, hanya demam biasa, tapi Kiara langsung menemukan ide untuk menambah kedekatan antara Rena dan Varo.
"Aku bisa sih bantu jagain dia disini, tapi besok aku harus seminar pagi, gimana ya?" Kiara mulai ber akting.
"Rena aja yang nungguin, besok juga kan gak kemana mana, udah packing juga, tinggal bawa koper buat pulang besok malam" Rena mengambil keputusan.
Varo mendengar semuanya. Hatinya sangat bangga mendapatkan perhatian begitu besar dari Rena.
"Ya udah kamu makan dulu Re, aku jagain Varo sampai kamu selesai makan" perintah Kiara.
__ADS_1
"Ya udah, aku ke sebelah ya" Rena yang perutnya sudah keroncongan dari tadi memutuskan untuk mengisinya terlebih dahulu.
Varo membuka mata saat Rena pergi.
"Udah gue duga" sindir Kiara
"Bukan gitu, gue emang beneran demam, apa salahnya gue minta perhatian dari Rena" Varo membela diri.
"Besok malam kami pulang, jadi gimana, cerita antara kalian berakhir sampai disini?" Kiara mengingatkan.
"Ingat bro, di Indonesia ada Niko yang udah tergila gila sama Rena" Kiara kembali mengingatkan.
"Gue gak pantas buat Rena, kalau memang Rena bahagia dengan Niko gue ikhlas, berarti gue bukan jodohnya" ucap Varo getir.
"Lemah lu, udah maksimal gini usaha gue buat perjuangkan kisah cinta kalian, malah lu sendiri yang tak mau berjuang" Kiara marah kepada Varo.
Lagian saat ini gue bukan siapa siapa, gue pemuda gagal, gak punya apa apa untuk di banggakan, kasihan Rena kalau bersama gue, dia berhak bahagia, dia berhak mendapatkan yang lebih baik" ungkap Varo menahan sakit di hatinya.
Ikhlas itu susah.
.
.
.
__ADS_1
Rena kembali ke kamar Varo setelah menyelesaikan makannya.
"Kiara aku sudah selesai, gantian ayo, biar kamu istirahat juga" Rena mengingatkan.
"Ya udah, tolong ya Re" Kiara bergegas pergi.
Kiara kesal sendiri karena Varo yang lemah dan tak mau berjuang. Padahal Kiara sudah mempunyai banyak rencana indah untuk mempersatukan mereka.
Sementara itu, Rena yang sudah berada di sebelah Varo kembali mengecek suhu tubuh pria itu. Rena menempelkan telapak tangannya ke dahi Varo.
"Belum turun juga" gumam Rena.
Varo membuka mata melihat kearah Rena yang sedang memeriksanya.
"Rena, makasih ya" ujar Varo lemah.
"Eh kak Varo udah bangun" Rena terkejut, tangannya segera ditarik menjauh dari tubuh Varo.
Varo mengangguk, dia terus memandangi Rena. Dia ingin menyimpan wajah itu untuk terakhir kali, sebelum besok Rena pergi kembali ke kehidupannya yang bahagia tanpa Varo.
"Kak Varo tidur lagi aja" Rena risih karena terus dipandangi Varo.
Varo menggeleng.
"Aku takut saat nanti bangun kamu udah pergi" ucap Varo spontan.
__ADS_1
"Tidak kak, aku jaga disini sampai besok pagi, mudah mudahan demam kak Varo turun. Pesawat kami besok malam" jawab Rena polos.
"Rena, apa kamu dan Niko akan menikah?" tiba tiba Varo menanyakan hal tak terduga.