Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Pertemuan mengejutkan


__ADS_3

Penerbangan ke Indonesia.


Varo dan Rena sedang berada didalam pesawat sewaan pribadi. Mereka dijadwalkan akan mendarat di Indonesia sekitar 6 jam lagi.


Varo mengusap pelipisnya. Sakit kepala berat menyerang. Varo yang belum sepenuhnya sehat membuat kondisinya naik turun.


Sementara Rena, duduk berhadapan dengan Varo. Wanita itu tak henti membaca doa dari buku yang dipegangnya. Dia tak menyadari Varo memandang dengan penuh rasa haru.


"Re, boleh bicara sebentar?" Varo berpindah posisi, sekarang dia duduk di sebelah Rena.


Rena mengangguk.


"Apa yang mama bicarakan dengan mu terakhir tadi?" Varo memulai pembicaraan.


"Hik, bisakah kita tidak membahas itu sekarang?" Rena langsung menangis. Varo tak menyangka reaksi Rena akan seperti itu.


"Re, sampai kapan kita terus mengulur waktu, hampir tiga tahun aku tersiksa dengan ini semua.


Andai aku tegas dan tak lemah sebagai laki laki, mungkin saat ini aku dan kamu sedang merawat anak anak kita, aku gak akan kehilangan putraku" Varo terbawa emosi.

__ADS_1


Rena menutup telinganya dengan kedua tangan. Dia tak ingin mendengar ucapan Varo.


"Rena, atas nama mama dan seluruh keluarga ku, aku memohon maaf sebesar besarnya, aku bersedia menanggung semua dosa dosaku kepadamu" nada suara Varo berubah lembut. Saat ini pria itu duduk bersimpuh dibawah kaki Rena.


"Apa yang ingin kak Varo dengar?" Rena mulai luluh.


"Bu Lidya menceritakan kalau sebenarnya beliau lah orang yang membuat aku terpisah dari orang tuaku. Beliau punya andil besar atas penderitaan yang kualami dari kecil, beliau yang membuat aku tak bisa menikmati indahnya rasa saling menyayangi dalam keluarga, beliau jahat, apa salahku?" Rena histeris.


"Ibu kandung ku dan mama kak Varo adalah sahabat lama, aku dulu sering dititipkan kepada beliau. Karena kelalaian Bu Lidya aku hilang diculik orang, ibu kandung ku tak sanggup menerima kenyataan dan meninggal dunia, apa kak Varo tahu ini semua?" Rena bertanya masih dengan tangisan.


Varo menggeleng. Sang ibu hanya sempat memberi tahu kalau kemungkinan Rena adalah adiknya dokter Desi.


Penerbangan berjalan hening dengan pikiran masing masing, Rena dan Varo duduk berjauhan. Sementara Adam hanya bisa mengutuk kelakuan bosnya sendiri, bisa bisanya pria itu melewatkan kesempatan emas untuk mendekati Rena.


Hingga tibalah saatnya pesawat yang mereka tumpangi mendarat kembali ke tanah air.


Varo bersiap turun saat pesawat sudah berhenti sempurna, Rena berada di belakangnya. Spontan tangan Varo menggenggam erat tangan Rena.


Saat wanita itu ingin menepis genggaman itu, Varo memohon.

__ADS_1


"Aku butuh kekuatan" ucap Varo hingga membuat Rena tak berdaya. Kedua insan itu turun pesawat bergandengan.


Varo dan Rena segera masuk kedalam mobil yang telah disediakan, diiringi dengan mobil yang berisi peti jenazah di belakangnya.


Varo hanya diam sepanjang perjalanan, tekadnya sudah bulat, setelah semua urusan pemakaman selesai, Varo akan segera mengurus keluarga Rena.


Sesampainya di depan rumah Varo, Zifa sudah menyambut sang kakak dengan tangisan, kedua orang itu berpelukan.


"Mas, aku gak nyangka tante pergi secepat ini" ucap Zifa.


"Ikhlaskan ya dek, biar jalan mama lancar" Varo menanggapi dengan bijak.


"Rena?, kamu ada disini?" Niko yang tadinya mendampingi Zifa terkejut karena kakak yang diceritakan Zifa ternyata adalah Varo, orang yang ditemuinya di rumah sakit saat Rena sakit, dan lebih terkejut lagi saat menemukan Rena yang sedang bersama Varo.


Zifa mengurai pelukannya kepada Varo dan mendekati Rena yang kebingungan menghadapi Niko.


"Mba Rena, makasih karena udah dampingi mas Varo dimasa sulitnya" ucap Zifa sambil memeluk Rena.


Ucapan Zifa ini bagaikan petir yang menyambar jantung Niko. Terjawab sudah apa yang diucapkan Zifa kala itu.

__ADS_1


__ADS_2