Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Varo dan perasaannya


__ADS_3

Niko mengantarkan Rena kembali ke rumah yayasan. Wajah ceria wanita itu sedikit berubah kebingungan saat melihat ada dua buah mobil mewah terparkir di halaman yayasan.


"Re, sepertinya ada tamu, rame tuh didalam" ucap Niko.


"Iya kak, kok rame ya, ini bukan lagi jam kunjungan, udah terlalu malam" Rena menimpali.


"Yuk lihat dulu" Niko segera turun dan mengajak Rena sekalian.


Rena menajamkan penglihatannya saat melihat seorang wanita didalam rumah yang sedang membagi bagikan banyak makanan dan mainan untuk anak anak. Tubuh wanita itu tenggelam akibat dikerubuti anak anak, tapi mendengar suaranya Rena tau siapa wanita itu.


"Aul?" Rena mengeluarkan suara untuk memastikan benar atau tidaknya wanita yang sedang duduk itu adalah sahabat karibnya dulu.


"Surprise" Aulia menyembulkan kepalanya dari balik tubuh anak anak yang mengerubunginya.


"Ya Allah, ini benar Aul?" Rena histeris tak percaya.


"Gak percaya, ini coba aku cubit, sakit gak?" Aulia mencubit pipi Rena dengan gemas.


"Aw, sakit" Rena mengusap pipinya yang memerah akibat perbuatan sahabatnya itu.


Kedua wanita itu langsung berpelukan. Rena masih tak percaya kalau salah satu sahabat terbaiknya dulu sekarang kembali lagi.


"Aul, kamu kenapa bisa sampai disini, aku rindu" Rena terisak memeluk Aulia.


"Ada banyak banget cerita buat kamu, tapi sekarang lepasin dulu pelukan ini, aku gak bisa nafas" Aulia yang memang kocak dari dulu kembali menggoda Rena.


"Duh aku ketinggalan nih" Aldi yang muncul dari arah dapur menyapa keduanya yang masih saling melepas rindu.


"Aldi, kamu disini juga?" Rena mengalihkan perhatian kepada Aldi beserta nampan berisi banyak makanan yang dibawanya.


"Aku yang bawa Aul kesini, aku pernah janji akan membuat suatu kejutan besar buatmu kan Re, inilah dia kejutan itu" Aldi menjelaskan.

__ADS_1


"Ah, baik banget sih kamu, benar benar sahabat terbaik" Rena terharu dengan apa yang diperbuat Aldi kepadanya.


"Aku gak cuma bawa Aul hari ini, di belakang ada satu orang lagi yang datang" Aldi memberitahu Rena.


"Hari ini adalah hari bahagia ku, lamaran ku kepada seorang gadis diterima, jadi aku ingin merayakannya bersama kalian semua" Aldi kembali menjelaskan.


"Apa ada yang aku lewatkan?" Rena melirik kearah Aulia yang sedang menahan senyum malu malunya.


"Nanti ku jelaskan, tolong bantu bawain makanan dulu ya, itu di dapur masih banyak, aku bawa seorang chef kesini" Aldi meminta Rena datang ke dapur.


Sementara itu, Niko juga sudah larut dengan permainannya bersama anak anak, dia tak terlalu memperhatikan apa yang dilakukan Rena dan tamunya.


.


.


.


"Kak Varo" Rena berdiri di depan pintu dan menyapa Varo.


Varo membalikkan tubuhnya yang tadi membelakangi Rena.


"Hai Re" Varo melirik sekilas kearah Rena dan kembali fokus ke makanan yang sedang diolahnya.


"Ini semua makanan kak Varo yang bikin?" Rena mulai mendekat dan berdiri di samping Varo.


"He, iya Re, perintah bos Aldi" jawab Varo singkat tanpa melihat sedikitpun kearah Rena.


"Udah dari tadi ya disini?" Rena terus mengajak Varo mengobrol, meski ia merasa kalau Varo sedikit berbeda, tampak sangat menjaga jarak dengannya.


"Tadi pulang kerja langsung kesini" jawab Varo lagi.

__ADS_1


"Kamu didepan aja Re, takut kotor kecipratan minyak, biar aku selesaikan tugasku" Varo meminta Rena menjauh secara halus.


"Aku mau bantu kak Varo aja disini ya, kasihan sendirian" Rena menolak permintaan Varo.


"Udah biasa kok sendiri, sebaiknya temani teman teman kamu diluar, udah jumpa Aulia kan, pasti banyak yang mau kalian bahas" ucapan Varo terdengar begitu sendu.


.


.


.


Tak berapa lama, berbagai hidangan yang lezat dan menggugah selera sudah tersedia di meja makan.


"Bos, gue udah selesai, gue duluan pulang ya" Varo berbisik kepada Aldi untuk berpamitan.


"Loh kok balik cepat, kita makan dulu sama sama" Aldi menahan keinginan Varo.


"Gue makan dirumah aja, adek gue sendirian kasihan" Varo terus mencari alasan.


"Ya udah terserah lu aja" Aldi tak lagi dapat menahan keinginan Varo.


Aldi tau Varo merasa tak nyaman karena kehadiran Niko yang sekarang menjadi kekasih Rena, ditambah lagi dengan Aulia yang terus mengintimidasi Varo dengan tatapan benci.


"Semuanya, saya pamit duluan ya, masih ada keperluan lain" Varo berpamitan kepada semua orang yang berada di meja makan. Tak sedikitpun Varo melihat kearah Rena. Varo benar benar menjaga hatinya agar tak kembali terbawa perasaan.


Niko yang menyadari kejanggalan sikap Varo hanya senyum senyum tipis, dia masih berniat menjahili pria itu. Dia belum akan membuka identitas hubungannya dengan Rena yang saat ini telah berubah.


"Kak Varo gak ikut makan bareng kita?" Rena tampak terkejut.


"Maaf ya, Zifa nungguin dirumah, kasihan dia sendirian" Varo menjawab pertanyaan Rena, masih dengan tanpa melihat kearah lawan bicaranya itu.

__ADS_1


"Ya sudah, aku duluan ya, assalamualaikum" Varo segera melangkah dan menghilang secepat mungkin dari ruangan itu.


__ADS_2