Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Via


__ADS_3

Hari ketiga pasca kejadian pingsannya Rena.


Gadis itu sedang berjemur menikmati matahari di halaman depan yayasan. Wajahnya sudah lebih cerah, tak sepucat sebelumnya.


Sebagai seorang ahli kejiwaan, Desi berhasil terus memberi sugesti kepada Rena untuk tenang dan menghilangkan ketakutannya.


Selama tiga hari ini pula setiap hari Varo mengunjungi rumah yayasan itu. Meskipun tak sampai masuk kedalam, setidaknya Varo merasa tenang melihat kondisi Rena yang semakin stabil.


Varo belum berjumpa dengan mamanya dan belum menjelaskan apapun. Pria itu memilih kembali ke apartemen dan pada siang hari berada didalam mobil untuk terus merasa dekat dengan Rena.


Penampilannya semakin tampak lusuh. Bulu bulu halus di sekitar wajahnya mengganggu ketampanannya.


Semua pekerjaan tak menjadi prioritasnya. Otaknya tak bisa berpikir saat ini. untung saja Adam adalah seorang yang bisa diandalkan, dialah yang menggantikan Varo untuk sementara.


Pasca pertemuannya dengan dokter Desi, Varo memang memilih memperhatikan Rena dari jauh saja.


Dia bagaikan mimpi buruk untuk Rena. Jika dia hadir di hadapan Rena, bisa jadi gadis itu akan kembali pingsan, bahkan kehilangan nyawa. Varo takut itu terjadi, dia tak ingin Rena bertambah menderita dengan kehadirannya.


"Mba Rena aku kedalam dulu ambil air minum ya, mba jangan kemana mana, disini aja, aku cuma sebentar kok" anak kecil yang dari tadi menemani Rena pamit masuk.


Tinggallah Rena sendirian di taman itu. Rena yang sedang duduk memilih berdiri dan menghampiri bunga bunga dalam pot yang bermekaran. Kaki pincangnya yang terseok seok menjadi perhatian Varo.


"Kenapa kakinya?" Varo gelisah melihat kondisi Rena yang berjalan tertatih tatih itu.


"Ngapain disini?" suara dari Desi sang pemilik yayasan mengagetkan Varo. Pria yang sedang berdiri di semak semak itu tak menyangka akan ditemukan oleh Desi.


"Eh maaf kak, aku cuma melihat keadaan Rena, aku gak ganggu dia" ucap Varo menjelaskan. Varo takut Desi akan mengusirnya.

__ADS_1


Desi tersenyum. Kali ini ini dia tampak lebih ramah kepada Varo.


"Kenapa gak coba mendekat? katanya kemarin rindu?" goda Desi.


Varo menggeleng gelengkan kepalanya.


"Aku gak berani kak, dosaku kepadanya terlalu banyak, biar lihat dari sini aja" ucap Varo pasrah.


"Hmm dasar laki laki lemah. Usaha dong, gak mau jadi bagian masa depan Rena?" Desi kembali memancing.


Varo menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Ikut aku, kelamaan mikir kamu gak ada aksi" Desi menarik tangan Varo mengikutinya ke mobil.


"Ini kamu pakai, ganti di mobil aja" Desi menyerahkan sebuah baju seragam berlambang yayasan xxx.


Varo keluar dari mobil dengan pakaian yang diberikan Desi.


"Ok, sekarang pakai ini" Desi menyerahkan sebuah rambut palsu, dan juga kacamata.


Meskipun Varo bingung, dia tetap melaksanakan apa yang diperintahkan.


"Sempurna" Desi berdecak kagum melihat penampilan Varo yang berbeda.


"Yayasan ini sedang membutuhkan juru masak, karena Rena sakit dia tak mungkin dibebankan untuk kerja" Desi memulai penjelasannya.


"Bersikap lah selayaknya orang baru yang tak mengenal Rena. Tinggal disini selama kamu bisa bertahan untuk dekat dengan Rena. Dan satu lagi, pastikan identitas mu tak diketahui Rena. Ingat ya, sedikit saja dia terkejut, sama artinya dengan selangkah kakinya di tanah kuburan" ucap Desi menakuti Varo.

__ADS_1


"Baik kak, terimakasih atas kesempatan ini" Varo girang.


"Ingat ya, ini kesempatan terakhir, pergunakanlah dengan baik, lihatlah dia dengan hati yang tulus, jangan lagi ada rasa benci untuknya" Desi menceramahi Varo kembali.


Pria itu mengangguk, setitik pencerahan untuk dekat dengan Rena mulai muncul, dia akan gunakan sebaik baiknya.


Desi dan Varo melangkah menuju gerbang yayasan. Perjuangan Varo dimulai dari saat ini. Untuk sementara inilah jalan terbaik.


.


.


.


"Dek udahan jemurnya, udah panas banget ini" Desi menyapa Rena dan mengajaknya masuk kedalam rumah.


Rena menyambut Desi dengan senyuman, dan kembali menunduk saat mengetahui Desi datang dengan seseorang. Rena tak mau melihat orang yang tak dikenalnya.


"Dek, ini aku bawa pegawai baru yang akan kerja disini. Untuk sementara dia yang akan bantuin kita masak" Desi memulai pembicaraan.


"Namanya Via, dia akan tinggal disini sementara, Rena gak keberatan kan? Desi meminta pendapat Rena.


"Iya kak, terserah kakak saja" Rena menjawab.


"Salam kenal kak Via, saya Rena" gadis itu melihat sekilas kepada orang baru didepannya dan kembali menunduk.


"Ya sudah, ayo sekarang masuk, panas banget disini" Desi memegang lengan Rena dan menuntunnya untuk berjalan ke dalam rumah.

__ADS_1


Varo tak bisa mengendalikan hatinya. Rena berada sangat dekat dengannya saat ini namun tak bisa dijangkau.


__ADS_2