
Varo tak sabar memberitahu kabar baik yang didapatnya kepada Rena. Varo melirik jam di tangannya, belum terlalu malam untuk kembali ke yayasan dan berbicara dengan Rena.
Varo melajukan mobil dengan kecepatan penuh menuju yayasan, tak sampai satu jam dia sudah kembali parkir di area gerbang yayasan sosial tersebut.
Varo menghentikan mobilnya sedikit lebih jauh dari tempat biasanya karena melihat dua orang yang sedang berdiri di depan gerbang. Mereka adalah Rena dan Niko.
Nyali Varo langsung ciut untuk mendekat karena melihat keduanya sedang bermesraan. Yang tampak di penglihatan Varo saat ini, Rena sedang tertawa bahagia di depan Niko. Posisi Niko membelakanginya. Varo pun melihat mereka berpegangan tangan, padahal tidak sama sekali, suasana pencahayaan yang remang remang lah yang membuat pikiran negatif Varo semakin menjadi jadi.
"Ah sudahlah, sebaiknya aku pulang, tak guna aku disini, hanya akan mengganggu mereka" Varo segera memutar balik arah mobilnya.
.
.
.
"Aku balik ya Re" Niko berpamitan setelah selesai membahas mengenai rencana untuk mengembangkan yayasan dengan Rena.
"Makasih ya kak, terimakasih atas pengertiannya" Rena kembali membahas tentang statusnya yang telah dilepas oleh Niko.
"Iya sama sama adekku" Niko menjawab dengan begitu tulus layaknya seorang kakak
.
__ADS_1
.
.
"Hei, ngapain berdiri disitu" dokter Desi mengirimkan pesan kepada Varo. Dia yang baru saja sampai di yayasan mendapati Varo yang telah memutar balik arah mobilnya.
Varo terkejut membaca pesan itu, dan seketika rencana yang telah disusunnya berubah. Varo berencana akan memberitahu Desi identitas Rena sebenarnya, biarlah nanti Desi yang mengatur cara untuk memberitahu Rena.
"Kak Desi dimana? bisa jumpa sebentar?" Varo mengirimkan pesan balasan.
"Ini baru sampai yayasan, kamu kesini aja, aku baru balik dari perjalanan dinas, masa tega sih suruh aku untuk keluar lagi" Desi mengirimkan pesan jawaban lagi untuk Varo.
"Ini penting kak, mengenai kamu dan Rena" Varo terus memaksa.
"Kak Desi mau kemana?" Rena bertanya dengan heran, karena tak biasanya wanita itu keluar malam, ditambah lagi dengan kondisi baru saja pulang dari luar kota.
"Aku ke depan bentar, ada teman mau jumpa" wanita baik itu menjawab singkat.
"Hati hati ya kak" Rena sedikit khawatir melihat kondisi Desi yang tampak lelah.
.
.
__ADS_1
.
Tubuh Desi gemetaran saat bukti demi bukti yang ditunjukkan oleh Varo ada di tangannya. Semuanya begitu nyata, adiknya yang bernama Alina, yang dahulu hilang diculik ternyata adalah Rena. Gadis malang yang ditemukannya dengan penderitaan luar biasa, gadis yang dirawatnya dengan kasih sayang yang tulus. Ternyata benar ikatan darah tak pernah berbohong.
"Kak Desi, are you okay?" Varo tampak khawatir setelah melihat Desi yang tak henti menangis.
"Aku gak percaya dengan semua yang telah terjadi ini, aku benar benar gak menyangka" Desi sesenggukan.
"Semua sudah diatur oleh Allah kak, sekarang semuanya terserah kak Desi. Tugasku selesai, aku hanya akan memastikan Rena bahagia dengan jodoh pilihannya" Varo berkata dengan nada putus asa.
"Terimakasih Varo" Desi kehilangan kata kata.
Hampir lima belas menit Varo berusaha menenangkan Desi dan akhirnya berhasil. Setidaknya Varo tenang membiarkan Desi pulang dengan mengendarai mobilnya sendiri dalam keadaan sudah tak lagi menangis.
"Kak, hati hati ya" Varo mengantarkan Desi hingga masuk kedalam mobilnya.
"Varo, setelah semua yang kamu lakukan, apa tak ingin mendapatkan hasilnya? cobalah rebut hati Rena lagi" Desi mencoba membakar semangat Varo.
"Dengan melihat Rena bahagia itu cukup kak" Varo tak yakin dengan ucapannya.
"Kiara sudah cerita semuanya, pengorbanan mu luar biasa Varo, terimakasih" Desi kembali terharu. Wanita itu sangat berterimakasih karena Varo selama ini menyayangi adiknya.
"Apa yang kulakukan, tak setimpal dengan apa yang ku perbuat kak, Rena berhak mendapatkan yang lebih baik" Varo kembali mencoba bersikap bijaksana.
__ADS_1
"Aku tau apa yang kau ucapkan tak sesuai dengan apa yang ada di hatimu, jangan berpura pura tegar" Desi menepuk pundak Varo sebelum akhirnya melajukan mobil, dia ingin segera pulang ke yayasan dan memeluk adiknya yang telah lama dicari.