Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Makan siang bersama


__ADS_3

"Ibu bisa kesini sesuka hati ibu, kapan saja, kami akan senang sekali menyambut ibu" Rena mengambil alih pembicaraan kala dia melihat wanita di depannya tampak sedih saat menceritakan keluarganya.


"Mba Rena, mau masak apa buat makan siang?" Rahman menginterupsi percakapan antara dua orang wanita itu.


"Oh iya, sebentar lagi waktunya makan siang" Rena tak menjawab ucapan Rahman.


"Ibu makan siang disini ya, cobain masakan Rena" gadis itu bersemangat.


"Apa tidak merepotkan?" tanya Bu Lidya segan.


"Ya tidaklah Bu, malah Rena sangat senang".


"Rena ijin sebentar masak di dapur ya, ibu silahkan menikmati teh nya, kalau mau melihat lihat sekitar tempat ini juga boleh. Ada kamar anak anak di sebelah sana" Rena mengarahkan Bu Lidya.


"Iya, nanti saya lihat lihat lokasi ini, silahkan lakukan kegiatan mu" Bu Lidya menjawab.


"Baiklah, permisi Bu" Rena berdiri perlahan dari duduknya dan berjalan ke arah dapur dengan langkah terseok seok.


Bu Lidya terus memperhatikan gadis berhijab itu. Rasa tak biasa mengusiknya. Entah apa yang telah terjadi pada gadis itu, fisiknya tampak berbeda.


Bahkan saat Rena berbicara dengan Rahman, Bu Lidya kembali menemukan ada luka bekas sayatan di pipi Rena. Luka itu tertutup oleh hijabnya, namun jika diperhatikan lebih jelas luka itu memang ada.


Bu Lidya memutuskan untuk berjalan ke arah taman yang tadi dijadikan Rena tempat mengajar anak anak. Dia butuh udara segar untuk menjernihkan pikiran.


Beberapa menit berada di taman, seorang wanita yang seumuran dengan Bu Lidya lewat dan menyapanya.


"Selamat siang Bu, tamunya Rena ya?" wanita itu menyapa.


"Eh tunggu tunggu, kamu Lidya kan?" saat berhadapan wanita itu mengenali Bu Lidya.

__ADS_1


"Indah?" Lidya memastikan kalau wanita di depannya adalah Indah sahabatnya saat SMA dulu.


"Iya aku Indah" wanita itu histeris kegirangan.


Kedua wanita itu berpelukan melepas rindu. Hampir puluhan tahun mereka tak berjumpa.


"Wah aku gak menyangka, kita jumpa lagi saat udah jadi nenek nenek, cucumu udah berapa orang?" Bu Indah menanya sahabatnya itu.


"Belum, anakku bahkan belum menikah" Bu Lidya tampak murung.


"Oh pantas kamu masih tampak awet muda, ternyata masih jadi tante tante belum nenek nenek seperti ku" Bu Indah menggoda Lidya.


"Haha, kamu bisa aja" mereka kembali tertawa bersama.


"Kamu ngapain disini?" Bu Lidya baru menyadari dan menanyakan kenapa sahabatnya itu bisa ada di yayasan ini.


"Ini yayasan aku yang kelola" jawab Bu Indah.


"Oh kamu masih ingat Desi anakku? sekarang dia sudah jadi seorang psikiater terkenal di kota ini, Rena adalah pasien yang sedang dalam pengawasannya. Untuk sementara dia ditempatkan disini" Bu Indah menjelaskan.


"Pasien psikiater? ada apa dengannya?" Bu Lidya semakin bingung dengan informasi yang didapatkannya.


"Iya jadi Rena itu adalah..." ucapan Bu Indah terputus saat Rena datang dan menyapa keduanya.


"Bu, kalian saling kenal ya?" Rena menyapa.


"Eh nak, iya ini adalah Lidya, sahabat ibu jaman muda dulu" Bu Indah menjelaskan.


"Wah syukurlah, akhirnya jumpa lagi" ucap Rena.

__ADS_1


"Makan siang sudah disiapkan Bu, ayo kita makan sama sama" Rena menawarkan.


"Wah mantap ini, kalo Rena sudah masak kamu pasti akan ketagihan dan sering kesini" ujar Bu Indah sambil menggandeng Lidya sahabatnya itu menuju meja makan.


Rena mengekor di belakang kedua wanita itu dengan langkah pelan. Menyeret sebelah kakinya.


Meja makan super panjang dan diisi oleh banyak anak kecil. Rena dengan sabar mengambilkan satu persatu menu yang diminta oleh anak anak itu. Rena nampak sangat tulus dan perhatian. Bu Lidya terus memperhatikan sikap Rena yang luar biasa itu.


"Eh Lidya, anakmu siapa namanya yang ganteng itu?" Bu Indah heboh sendiri.


Deg...


Bu Lidya langsung tegang saat pembahasan mengarah ke arah anaknya. Jika dia menyebutkan nama Varo pastilah Rena menyadari.


"Dia lagi diluar negeri, ada bisnis disana" jawab Bu Lidya pendek.


"Aku lupa namanya, siapa ya, Alva, atau siapa sih?" Bu Indah masih saja membahas nama.


"I..iya Alva" jawab Bu Lidya berbohong. Tak sepenuhnya bohong, karena nama lengkap anaknya adalah Alvaro.


"Apa dia sudah punya calon istri?" tanya Bu Indah lagi.


"Em, sudah sepertinya" Bu Lidya menjawab ngasal. Dia menatap Rena yang sedang serius dengan makanannya. Gadis itu tampak datar dan melamun murung.


"Nak Rena, apa kamu sudah menikah?" Bu Lidya memberi pertanyaan tanpa basa basi.


Wajah Rena tampak berubah sedih, gadis itu memaksakan tersenyum dan menggeleng.


Bu Indah langsung memberi kode kepada Lidya untuk diam dan tak melanjutkan perbincangan.

__ADS_1


"Rena, ini sayuran masih banyak, Rena tolong bungkus buat tetangga ya" Bu Indah mengalihkan pembicaraan.


"Baik Bu" Rena mengangguk patuh.


__ADS_2