Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Cemburu


__ADS_3

Wajah Niko pias mendengar ucapan Zifa kepada Rena. Sorot mata Niko tajam mengarah kepada Varo seolah meminta penjelasan.


Varo memperhatikan semuanya dalam diam, tatapan tajam dari Niko disambutnya dengan berani. Tak sedikitpun Varo gentar, Rena adalah miliknya dulu, sekarang dan selamanya.


"Pak Varo, tamu sudah menunggu didalam, mari masuk" Adam mengambil alih suasana.


Varo mengangguk, dengan santai pria itu berkata kepada Zifa, "dek ajak kak Rena masuk kedalam".


Zifa menyambut perintah Varo, "Kak Rena, ayo ikut aku". Zifa menarik tangan Rena dan mengajak gadis itu masuk kedalam.


"Terimakasih atas kehadiran anda pak Niko" Varo menyapa Niko dan melangkah masuk mengabaikan pria itu.


Prosesi pemakaman berjalan lancar. Varo benar benar menunjukkan baktinya kepada sang ibu untuk terakhir kalinya. Mulai dari hal hal kecil semua tak luput dari pantauan Varo.


Hingga saat ini, gundukan tanah merah menjadi saksi terkuburnya cinta pertama dalam hidup Varo. Resmi sudah dia menjadi yatim piatu tanpa orang tua dalam hidupnya.


"Mas Varo, ayo balik" Zifa mengajak Varo pulang. Sudah setengah jam lebih pria itu berdiam diri didepan pusara yang masih basah itu. Zifa sangat khawatir, namun Varo tak bergeming.


Di lokasi itu hanya tersisa beberapa orang terdekat Varo, termasuk Rena dan Adam, ditambah dengan Niko yang selalu berdiri di sebelah Rena sedari awal.


"Rena, ayo pulang" Niko mengajak Rena balik ke yayasan.

__ADS_1


Varo segera menoleh kearah sumber suara. Tatapannya tak suka melihat Niko memegang tangan Rena.


"Iya, sebentar ya pak, Rena pamitan dulu" Rena bergerak menjauhi Niko dan mendekati Varo.


"Kak, aku pamit ya" Rena menyapa Varo hendak berpamitan.


Varo diam, membuang muka kearah lain. Dia menghindari tatapan Rena.


"Zifa, kak Rena pamit ya" karena Varo mendiamkannya Rena memilih berpamitan kepada Zifa.


"Baik, terimakasih untuk semuanya kak Rena" Zifa menanggapi.


Rena berlalu menjauh dari pemakaman bersama Niko, meninggalkan Varo dalam kecemburuan mendalam.


Rena dan Niko saat ini berada dalam mobil yang melaju perlahan membelah jalanan ibukota.


"Re udah makan belum? kita makan dulu ya" Niko menawarkan.


"Gak lapar pak, kita pulang aja ya, aku dah rindu sama adek adek yayasan, sama Alif juga" Rena menolak secara halus.


Niko tau ada yang tak wajar dengan hubungan Rena dengan Varo. Pria itu menahan diri untuk tak bertanya terburu buru. Dia ingin memberi waktu kepada Rena untuk menenangkan suasana hatinya.

__ADS_1


Perjalanan kedua insan berlainan jenis itu berakhir dalam keheningan. Tak ada percakapan apapun, hingga akhirnya mobil mewah milik Niko diparkir di depan gerbang yayasan.


"Terimakasih pak" Rena segera turun dan setengah berlari masuk kedalam rumah.


"Kak Rena" anak anak yang sedang berkumpul di ruang tengah bersorak kegirangan menyambut kedatangan Rena.


Alif yang sedang dalam gendongan Bu Indah memberikan gerakan khas bayi yang meminta untuk digendong.


Rena segera memeluk satu persatu adik adik kesayangannya itu. dan terakhir mencium dan membawa Alif kedalam pelukannya. Tak lupa Rena juga mencium tangan Bu Indah sebagai bentuk rasa hormat.


"Rena, kamu sehat nak?" Bu Indah menanyakan kabar Rena.


Lama Rena memandang wajah wanita paruh baya itu, sebelum akhirnya mengangguk.


"Bu, apa ibu sudah tau kabar kalau Bu Lidya meninggal dunia?" Rena spontan bertanya.


"Innalilahi wa innailaihi rojiun" Bu Indah mengelus dadanya, wanita itu sangat terkejut, sahabat yang beberapa bulan lalu mengunjunginya kini telah berpulang.


"Apa yang terjadi? dan kenapa kamu mengetahuinya?" Bu Indah menginterogasi Rena.


"Panjang ceritanya bu, Rena minta izin nanti sehabis makan malam ingin mengobrol dengan ibu dam juga kak Desi. Ada yang mau Rena bahas" ucap gadis itu.

__ADS_1


"Baiklah, sekarang sebaiknya kamu berisitirahat terlebih dahulu" jawab Bu Indah menanggapi.


"Baik bu Rena ke kamar dulu" Rena bangkit bersama Alif melangkah masuk ke kamar yang sudah lama ditinggalkannya.


__ADS_2