
"Kita pergi sekarang?" Varo bertanya kepada Rena yang masih bengong.
Rena mengangguk dan berdiri mensejajari Varo.
Perjalanan mereka kembali ke rumah masa kecil Rena itu tak lama, tak sampai setengah jam mereka telah parkir didepan teras rumah itu.
Naluri untuk melindungi Rena seperti telah tertanam kokoh dalam diri Varo. Dengan sigap pria itu turun dan membukakan pintu untuk Rena, tak lupa genggaman tangannya selalu menyertai setiap langkah wanita manis itu. Seolah tubuh Rena akan ambruk bila tak dipeganginya.
"Tetap didekat ku ya" bisik Varo kepada Rena saat kembali membuka pintu rumah itu.
Setelah mereka masuk dan memastikan kondisi aman, barulah Varo dan Rena berpencar mencari benda benda yang sekiranya dapat dijadikan bukti petunjuk untuk mengungkap masa lalu Rena.
.
.
.
__ADS_1
Varo yang berada di ruang tamu tengah membuka laci laci yang isinya tampak sangat berantakan. Satu persatu benda didalamnya disortir oleh pria itu.
Sementara Rena, bertugas memeriksa bagian kamar. Wanita itu seolah mengalami Dejavu. Beberapa tahun lalu dirinya pernah menghabiskan waktu di kamar itu. Setiap pojok tempat itu mengingatkannya akan tangisan dan kebahagiaan yang dialami mulai dari kecil hingga dewasa.
Airmata Rena tak terasa menetes. Waktu begitu cepat berlalu, banyak impian yang diharapkannya yang belum mampu diwujudkan. Salah satunya adalah sangat ingin hidup bahagia bersama dengan orang orang yang menyayanginya.
Rena duduk diatas ranjang sambil terus menyortir satu persatu benda benda masa lalu miliknya. Air matanya terus menetes.
Rena tak menyadari Varo yang berdiri di depan pintu mengamatinya sedari tadi. Pria itu ikut tersentuh melihat kondisi Rena saat ini.
"Udah ketemu belum petunjuknya" Varo mendekati Rena.
"Kok malah nangis" Varo spontan mengusap air mata Rena. Varo sangat tulus memperlakukan Rena.
"Disini banyak kenangan. Dari kecil hingga dewasa aku disini, setiap kali aku dimarahi bapak atau ibu aku akan menangis di pojok itu. Dan meja itu adalah tempat terbaikku. Disana aku biasa menuliskan semua impian impian masa depanku, kadang berkhayal menjadi seorang princess, kadang memimpikan menjadi wanita karir yang sukses" Rena terus bercerita dan menunjuk tempat tempat yang disebutkannya itu.
"Tapi semua hanyalah khayalan masa kecil, sampai aku umur segini pun, aku tetaplah Rena yang gagal, tanpa prestasi apa apa dan bukan siapa siapa" wanita itu kembali berbicara dengan Isak tertahan.
__ADS_1
Varo menggigit bibirnya menahan sakit akan ucapan Rena. Rasa bersalah itu muncul lagi. Mengapa Varo harus menjadi salah seorang dari bagian hidup Rena yang buruk.
"Eh kok malah curhat, ayo kita lanjutkan, kak Varo udah menemukan sesuatu?" Rena tersadar dan segera menghapus air di matanya.
"Belum" Varo menjawab dengan tatapan terus melekat kepada Rena.
"Ayo kak cari lagi, keburu sore" Rena mendorong tubuh Varo agar segera bangkit dan melanjutkan misi mereka.
Namun Varo kembali menggenggam tangan Rena yang tadi mendorong tubuhnya. Tatapan pria itu tak dapat diartikan. Tak disangka, Varo menarik Rena dan memeluknya. Memeluk wanita yang telah diberinya penderitaan.
Mulut Varo sudah tak lagi mampu mengucapkan kalimat permintaan maaf. Sudah terlalu banyak, hingga kini iya tak tahan lagi dan memeluk Rena sebagai bentuk ketidakberdayaannya membuat Rena bahagia.
Rena membelalakkan mata tak percaya dengan perbuatan Varo. Saat ini dia berada dalam pelukan seorang pria yang dulu nyaris menjadi suaminya. Wangi tubuh Varo masih sama, menghanyutkan dan sangat nyaman.
"Lepas kak" Rena susah payah mendorong tubuh Varo menjauh darinya.
"Kalau kak Varo terus begini, lebih baik kita gak usah lanjutkan pencarian ini" Rena mengancam. Dia tak mau Varo kembali menguasainya.
__ADS_1
Varo mengusap kasar wajahnya. Lagi lagi ia tak terkendali. Tak sepantasnya ia memeluk Rena. Haruskah permintaan maaf lagi yang terus diucapkannya. Sungguh rasanya Varo malu terus menerus mengulang kesalahan demi kesalahan.