Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Frustasi


__ADS_3

Varo bersiap menjemput Zifa saat panggilan masuk dari adiknya itu datang lagi.


"Mas, aku pulang diantar teman, mas Varo gak usah jemput ya, ini aku udah dijalan" Zifa mengirimkan pesan.


"Kami benar gak kenapa kenapa?" Varo membalas pesan itu, dia ingin memastikan kondisi adik sepupu kesayangannya itu.


"Iya, gak ada apa apa kok, ini udah mau balik" Zifa segera membalas pesan.


"Ya udah kalau gitu, mas Varo langsung ke kantor ya, kamu hati hati dirumah, hari ini ke kampus gak, mobilnya masih mas pakai" Varo kembali mengirim balasan.


"Pakai aja mas, aku gak ngampus hari ini" jawab Zifa.


"Kamu lagi balas pesan siapa? serius bener" Niko yang sedang melajukan mobilnya merasa terganggu melihat Zifa yang asyik sama ponselnya.


"Eh maaf, ini lagi balas pesan mas Varo, takut dia khawatir" Zifa menjelaskan kepada Niko.


"Oh, aku pikir siapa" Niko spontan menanggapi.


"Tenang aja sayang, kamu kan pacar aku, aku orangnya setia kok" Zifa menjelaskan kepada Niko.


Pria itu terdiam dan menatap Zifa sekilas. Dalam hati Niko ada keraguan setiap kali Zifa mengingatkan akan statusnya.

__ADS_1


.


.


.


Sementara itu, Varo telah tiba di kantor dan memarkirkan mobilnya di tempat yang telah disediakan. Pria itu berjalan lesu tak bersemangat memulai harinya. Semua ini karena keputusan Rena yang lebih memilih Niko daripada dirinya.


"Hai bro, lemas benar, kenapa?" Aldi yang melihat kedatangan Varo menyapa.


"Eh gak kok, aman" Varo menyembunyikan perasaan gundahnya.


"Hai Al" Aldi menjawab sapaan Alya, sementara Varo hanya memberi sekilas senyuman tipis dan kembali cuek.


"Varo, nanti makan siang yuk, kan udah lama kita gak makan bareng" Alya bersikap manja terhadap Varo.


"Gue banyak kerjaan Al" Varo menjawab dengan nada jutek. Dia tak nyaman dengan sikap Alya yang berlebihan.


"Kerjaan apa? hari ini santai kok, gak banyak lah, gue rasa lu ada waktu buat makan siang, sekalian cari tau info perusahaan ini lebih banyak dari Alya, dia kan senior disini" Aldi membantah alasan Varo.


"Ok kalau gitu, aku ke ruangan kamu ya nanti" Alya yang telah sampai di depan ruangannya segera keluar dari lift dan meninggalkan kedua pria itu.

__ADS_1


Varo melayangkan tatapan tajam penuh amarah kepada Aldi. Bisa bisanya pria itu sengaja menyodorkan dirinya kepada Alya.


"Santai bro, lu emang harus move on dari Rena, udahlah buka hati buat wanita lain yang jelas jelas tertarik pada lu, soal jodoh siapa yang tau" Aldi menjelaskan dengan diplomatis.


"Ah terserahlah lu aja bos, gue duluan" pintu lift terbuka di lantai yang dituju Varo. Pria itu bergegas keluar meninggalkan Aldi yang terkekeh menahan tawa melihat Varo yang menahan kesal.


.


.


.


"Jika jodoh tak kemana" Varo mengulang kalimat yang diucapkan Aldi.


"Ya Tuhan, andai engkau memberikan hamba satu kali kesempatan lagi. Hanya satu permintaan hamba, jodohkan kembali hamba dengan Rena, hanya dia yang hamba mau ya Tuhan" Varo berdoa didalam hatinya.


Varo menatap wajah cantik Rena yang tersenyum kepadanya di layar ponsel.


"Hai cantik, kalau kamu bukan jodohku, bolehkah aku menggugat Tuhan?, karena aku tak menginginkan wanita manapun selain kamu" ucap Varo kepada foto itu.


"Arghhhh gue mulai gila" Varo berteriak frustasi. Hari harinya terasa semakin berat dan melelahkan setelah mendengar keputusan Rena.

__ADS_1


__ADS_2