Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Benang kusut mulai terurai


__ADS_3

Hari berlalu.


Kebahagiaan menyelimuti keluarga besar Rena dan Varo. Untuk sementara Rena diminta tetap tinggal di yayasan, hanya Varo yang akan menjalankan restoran mereka. Kondisi kehamilan Rena penuh resiko, mereka harus benar benar menjaganya.


Tak terasa proses wajib lapor Varo pun telah selesai, waktu dua minggu yang diperintahkan telah dijalankan Varo, hari persidangan pun telah datang.


Sebelum hari persidangan datang, Varo dan pengacaranya mengunjungi rumah Alya untuk mencari jalan keluar. Varo masih berharap ada jalan damai, karena bukti bukti di tangan mereka cukup kuat untuk membalikkan posisi Alya. Varo tak ingin Alya dijebloskan ke penjara apalagi dalam keadaan hamil seperti saat ini.


"Al kami datang kesini dengan niat baik" Varo berkata begitu lembut saat menemui Alya.


"Varo, apa kau berubah pikiran? kita akan menikah kan?" Alya mulai berhalusinasi.


Varo tersenyum getir melihat kondisi mantan pacarnya ini.


"Orangtua mu dimana? apa aku boleh menemuinya?" Varo merasa tak akan ada ujungnya jika berbicara dengan Alya.


"Tunggu ya, aku akan panggil papa" Alya bergegas menuju kamar orangtuanya.


Sementara menunggu, Varo mengirimkan pesan kepada istri kesayangannya.


"Sayang, aku masih di rumah Alya" Varo mengabarkan.


"Doakan semoga hari ini dia mau bernegosiasi ya" Varo kembali mengirimkan pesan.

__ADS_1


"Semangat papa Varo" Rena mengrimkan sebuah foto dirinya bersama Alif. Senyuman Rena di foto itu membuat semangat Varo menggebu. Varo mengusap wajah di foto itu dengan sayang, senyuman terus terkembang di bibirnya. Sang pengacara yang duduk di sebelahnya pun paham apa yang sedang dilakukan Varo.


"Kau laki laki yang sangat beruntung" pak pengacara menepuk nepuk pundak Varo, mengungkapkan kekagumannya.


.


.


.


"Mau apa kalian kesini?" papa Alya muncul dari arah dalam rumah dan langsung membawa aroma permusuhan.


"Selamat pagi tuan Kusuma, perkenalkan saya Hitler, pengacara saudara Varo" kali ini giliran pak pengacara yang mengambil alih suasana.


"Apa lagi yang mau kalian bahas, saya hanya menuntut pria yang menghamili putri kesayangan saya untuk segera menikahinya, hanya itu" papa Alya mengutarakan keinginannya.


"Apa bapak yakin saya yang menghamili?" kali ini giliran Varo yang bertanya. Varo tak tahan untuk tak membela diri.


"Kau pikir putriku wanita apa? kau pikir dia gampang tidur dengan laki laki sembarangan?, aku tau siapa Alya, dia gadis baik baik" pak Kusuma menangis menjawab pertanyaan Varo.


"Lihatlah Al, begitu yakinnya papamu kalau putri satu satunya ini adalah wanita yang baik" Varo mencoba mengetuk pintu hati Alya.


Raut wajah Alya pucat pasi mendengarkan percakapan orang orang diruang tamunya ini. Apalagi setelah mendengar ucapan sang ayah yang begitu mempercayai dirinya. Rasa bersalahnya tak bisa dikuasai.

__ADS_1


"Baiklah saya rasa cukup pertemuan kita hari ini. Nona Alya, sebaiknya anda manfaatkan waktu anda sebaik mungkin. Besok saat persidangan semua fakta akan terungkap. Kami hanya tak tega melihat kekecewaan keluarga yang begitu mempercayai anda" pak pengacara memperingatkan Alya mengenai kemungkinan yang akan terjadi di persidangan.


"Keluar kalian semua, keluar" Alya histeris ketakutan. Dia tak dapat mengendalikan diri.


Varo mengusap kasar wajahnya melihat kondisi Alya. Ia tak menyangka dulu pernah menjalin hubungan begitu lama dengan gadis bertopeng ini. Selama hampir lima tahun mereka bersama, Alya selalu lemah lembut di depannya, jauh berbeda dengan apa yang dilakukannya sekarang.


.


.


.


Sementara itu, Rena yang tengah bermain dengan Alif di yayasan mendapatkan telepon masuk dari sebuah nomor tak dikenal.


Rena ragu untuk mengangkatnya, namun juga sangat penasaran karena terus menerus berdering.


"Selamat siang Bu Rena, saya asistennya pak Nathan. Saya meminta kesediaan anda untuk segera datang ke rumah sakit xxx. Kondisi tuan Nathan sudah sangat lemah, beliau ingin bertemu anda untuk terakhir kalinya" ucapan dari seseorang di seberang telepon membuat Rena gelisah.


Rena segera mematikan sambungan telepon itu, mendengar nama Nathan disebut saja sudah membuatnya gemetaran.


Bu Wiya yang juga berada di yayasan terus memantau Rena. Sejak kedatangan kembali Rena dan Varo ke yayasan Bu Wiya tak berani menampakkan muka. Wanita itu selalu menghindar dan bersembunyi. Rena pun tak memaksa Bu Wiya untuk menemuinya, Rena cukup memantau dari bu Indah dan Zifa yang terus melaporkan perkembangan kesehatan wanita itu.


Bu Wiya mendengar percakapan Rena dengan orang suruhan tuan Nathan. Ketakutan menyelimutinya. Dia tak ingin membuat Rena kembali mendapatkan penderitaan dari orang itu, terlebih lagi kondisi Rena yang lemah pasca hamil.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang Bu Wiya bergegas pergi ke rumah sakit xxx yang disebutkan. Bu Wiya sendiri lah yang akan menemui pria itu. Apa yang telah dimulainya maka akan diselesaikannya.


__ADS_2