Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Diagnosa mengejutkan


__ADS_3

Varo benar benar terkuras habis tenaganya karena perbuatan Rena kali ini. Entah mengapa terasa ada yang berbeda dengan semua tingkah Rena, khususnya selama satu minggu belakangan. Pria itu tertidur pulas hingga azan subuh berkumandang membangunkannya.


Varo mengelus lembut pipi sang istri yang juga tertidur pulas di sampingnya. Tubuh wanita itu dibalut selimut hampir seluruhnya, hanya menyisakan bagian wajah saja yang bisa dilihat Varo.


"Sayang, bangun ayo sholat dulu" Varo mencoba membangunkan Rena.


Rena menggeliat dan membuka matanya.


"Aw" Rena merintih kesakitan memegangi perutnya yang kram.


Varo spontan berdiri dan mendekati istrinya itu.


"Re kamu kenapa?" wajah Rena yang begitu pucat membuat Varo sangat cemas.


"Kita ke rumah sakit sekarang" Varo memakai pakaian seadanya serta memakaikan pakaian untuk Rena juga, dengan sigap semua hal yang dibutuhkan nanti di rumah sakit disiapkan Varo dan dimasukkan kedalam tas milik Rena.


Varo membopong tubuh Rena keluar kamar. Istri tercintanya itu terus meringis menahan sakit sambil memegangi perutnya.


Suasana yayasan yang masih sepi membuat tak seorang pun mengetahui apa yang sedang terjadi dengan kedua orang itu.


KLIKKKK...


Sabuk pengaman telah dipasangkan oleh Varo. Setelah memastikan kondisi istrinya itu nyaman, Varo segera melajukan mobil menuju rumah sakit terdekat.


"Sabar ya sayang, sebentar lagi sampai," Varo sangat panik melihat kondisi Rena.


Tak sampai setengah jam, Rena dan Varo telah berada di ruangan pemeriksaan UGD. Jalanan yang masih sangat sepi membuat semua hal berjalan lancar dan cepat.


"Dokter bagaimana kondisi istri saya?" Varo langsung memberondong dokter jaga yang baru saja selesai memeriksa Rena.


"Tak ada yang perlu dikhawatirkan, aktivitas yang istri anda lakukan semalam menjadikan penyebab perutnya menjadi kram. Hal ini lumrah terjadi pada kehamilan usia muda.


Janin masih terlalu lemah, sebaiknya kegiatan kalian sedikit dikurangi ya" dengan senyum tertahan dokter itu menjelaskan apa yang terjadi pada Rena.

__ADS_1


"Maksudnya dok?" Varo masih belum mengerti kemana arah pembicaraan dokter di hadapannya ini.


"Anda tak tahu kalau istri anda hamil?' dokter kembali melempar pertanyaan yang membuat Varo terkejut.


"Ha..hamil? maksud anda Rena hamil?" Varo bak orang linglung kembali mengulang ucapan dokter tersebut.


"Iya, hamil" dokter muda itu mulai hilang kesabaran dengan sikap suami pasiennya ini.


"Bukankah kalian pasangan menikah? bagaimana mungkin anda begitu terkejut dengan kabar ini?" dokter itu dengan nada heran bertanya kepada Varo.


"Istri saya divonis tidak bisa hamil karena mengalami masalah dirahimnya dokter, jadi saya masih belum percaya dengan ini semua" Varo bersikukuh membantah diagnosa dokter.


"Ok, saya akan memberikan rujukan untuk menemui dokter spesialis kandungan, sebaiknya anda konsultasikan dengan beliau" dokter UGD ini mulai memahami kebingungan Varo.


.


.


.


"Kak, apa kata dokter?" Rena menyapa suaminya yang muncul dalam keadaan linglung.


"Tunggu sebentar ya sayang, kamu masih dalam observasi, sebentar lagi akan ada dokter spesialis yang datang untuk pemeriksaan lanjutan" Varo memberitahu Rena dengan informasi yang singkat saja. Dia tak ingin membuat istrinya itu khawatir.


"Drrrtttt .....drttttt" ponsel Varo bergetar. Panggilan masuk dari Bu Indah segera diangkatnya.


"Assalamualaikum nak, kalian dimana?" terdengar nada suara Bu Indah begitu khawatir.


"Maaf Bu Varo lupa mengabari. Kami ada di rumah sakit Bu, Rena tadi pagi sakit perut" Varo menyusun kalimat sebaik mungkin agar wanita bersahaja itu tak terlalu khawatir.


"Tapi ibu tenang saja, kemungkinan Rena salah makan, tak terlalu mengkhawatirkan, sebentar lagi kami pulang" Varo kembali menenangkan.


"Oh syukurlah nak, tadinya ibu mau mengantarkan Alif ke kamar kalian, dari bangun tidur dia terus cariin Rena" Bu Indah menjelaskan alasannya menelepon Varo.

__ADS_1


"Maaf ya Bu, kami tak sempat memberitahu siapapun, kondisinya tadi sedikit panik" Varo kembali menjelaskan.


"Iya nak, tak apa. Cepatlah pulang ya" Bu Indah menutup sambungan telepon setelah sebelumnya menitipkan salam untuk Rena.


.


.


.


Varo kembali fokus dengan Rena setelah menyimpan kembali ponselnya.


"Alif nyariin bundanya" Varo menjelaskan isi percakapannya dengan bu Indah kepada Rena.


"Kasihan Alif, pagi pagi udah ditinggalin" Rena memasang wajah sedih membayangkan putra kesayangannya itu.


"Sebentar lagi kita pulang ya, tinggal menunggu dokternya datang" Varo memberi ketenangan kepada Rena.


.


.


.


Rena memasang wajah bingung saat seorang dokter wanita datang dan memeriksanya. Dokter itu membawa peralatan USG dan mengoleskan gel pemeriksaan di perutnya.


"Tenang ya sayang, dokter ingin memastikan" Varo yang berada di samping Rena dan terus menggenggam tangan istrinya itu berbisik memberikan semangat.


"Selamat bapak dan ibu, janin kalian sehat, ini sebuah keajaiban" ucapan dari sang dokter sukses membuat Varo dan Rena terkejut.


"Jadi benar dok istri saya hamil?" Varo kembali mengulang pertanyaannya.


"Iya benar, tak ada yang tak mungkin jika Tuhan sudah berkehendak, selamat ya buat kalian berdua" sang dokter meyakinkan diagnosanya dan memberikan print hasil USG kepada Varo.

__ADS_1


Sebulir cairan bening jatuh membasahi foto USG itu, buah cinta mereka yang masih berukuran sangat kecil ada didalamnya, memberikan kebahagiaan tak terkira untuk kedua orang tuanya.


__ADS_2