Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Varo tak percaya diri


__ADS_3

Dengan beralasan ingin pergi ke toilet, Kiara meninggalkan Rena berdua dengan Varo.


Varo yang dulu mungkin saja akan langsung mengambil kesempatan dan mendekati Rena tanpa memberi ruang.


Namun Varo yang sekarang sangat menghargai Rena dan menghargai privasi wanitanya itu.


Varo tetap duduk di seberang meja dengan sesekali mencuri pandang kepada Rena yang tampak sangat cantik meski tak ada riasan diwajahnya.


"Diminum dulu" Varo berbicara dengan sangat sopan.


Rena hanya mengangguk tak tau harus bersikap bagaimana.


"Dalam rangka apa kesini Re?" Varo mulai membuka pembicaraan. Dalam hatinya berdoa agar Rena membalas pertanyaannya.


Dan doa Varo dikabulkan.


"Itu teman ku Kiara sedang ada seminar disini, aku diminta menemani" kalimat itu meluncur dari bibir Rena. Kalimat terpanjang dalam percakapannya bersama Varo pasca insiden kegagalan pernikahan.


Varo menahan senyum yang hampir meledak di bibirnya, Rena membalas ucapannya, bagi Varo ini lebih berharga daripada mendapatkan uang ber miliar miliar jumlahnya.


Rena kembali membuang muka, dia tak ingin terlibat percakapan lagi dengan Varo.


Pria itu menyadari Rena tak nyaman, dia memutuskan meninggalkan Rena sendiri, dengan alasan ingin membersihkan peralatan di dapur.


"Em, Rena mau makan apa?" pertanyaan awal dari Varo.


"Tidak, terimakasih, sebentar lagi kami mau balik ke hotel" Rena menolak.

__ADS_1


"Oh baiklah, aku mau membersihkan peralatan dulu, enjoy ya" Varo bergegas pergi.


Varo menghentikan langkahnya saat berada di dapur yang tertutup. Pria itu duduk di lantai dengan kepala disandarkan ke dinding. Rasa haru dan bahagia menyatu.


Varo bahagia karena bisa melihat Rena dalam keadaan yang lebih baik seperti sekarang. Tapi sikap Rena dan kondisi hidup Varo saat ini membuatnya tak punya kekuatan untuk memiliki cinta Rena lagi.


"Berhenti berharap Varo, lu gak pantas buat dia" bisikan dalam hati Varo semakin kuat menguasai.


"Varo, Varo" suara Kiara membuyarkan lamunan Varo. Setetes air ketulusan hati yang keluar dari matanya segera dihapus oleh Varo.


Dia bergegas keluar dan menemui Kiara yang memanggilnya.


"Gue balik ya, Rena gak mau lama lama" Kiara berpamitan.


"Makasih ya" Varo menepuk bahu sahabatnya itu.


"Siapa? Niko?" Varo memastikan.


"Yes, betul sekali" Kiara memberi kode dengan tangannya.


"Dia memang pria yang baik, cocok buat Rena" ujar Varo lirih.


"Dia memang lebih baik, lebih tampan dari lu, lebih kaya juga, tapi dia gak punya cinta sebesar yang lu punya untuk Rena" Kiara mencoba membangkitkan semangat Varo.


Varo tersenyum getir, dia memang mempunyai rasa cinta yang sangat besar kepada Rena, namun juga memiliki dosa yang besar, tak pantas rasanya dia memaksa Tuhan untuk menjodohkannya dengan Rena.


"Ya udah, ayo gue antar sampai depan" Varo menyudahi pembicaraan.

__ADS_1


Rena sudah menunggu di depan coffee shop Varo sedari tadi. Kiara beralasan ingin membayar bill minuman mereka karena itulah Rena tak curiga saat kedua orang itu mengobrol.


"Terimakasih ya pak Varo, anda sangat baik, semoga murah rejeki" Kiara memulai drama di hadapan Rena.


"Re minuman kita dikasih free sama si ganteng ini" ujar Kiara.


Rena menoleh kearah Varo.


"Terimakasih" ucapan tulus itu keluar dari mulut Rena.


Varo terpukau, ucapan Rena barusan masuk menembus relung hatinya.


"Kalian naik apa?" Varo berusaha mengalihkan pembicaraan. Dia tak ingin perubahan wajahnya kelihatan.


"Jalan, itu hotel kami dekat" Kiara menjawab sambil menunjuk kearah hotel dengan bangunan yang menjulang tinggi.


"Boleh bareng? kebetulan aku kearah sana juga" tiba tiba semangat Varo yang tadi kendor kini meningkat lagi.


"Wah senang sekali, kita jadi rame, agak ngeri juga sih sebenarnya, kita kan cewek cewek berdua, cantik pula, takut ada yang godain" Kiara menjawab dengan gaya lucu.


"Gimana Re?, aku boleh bareng kalian?" Varo menanyakan pendapat Rena.


"Itu cafe nya gimana?" Rena memastikan.


"Udah tutup, tinggal dikunci aja" Varo meyakinkan.


Rena mengangguk pertanda setuju.

__ADS_1


"Ok baiklah, terimakasih Rena" Varo lega.


__ADS_2