Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Persiapan kembali ke Indonesia


__ADS_3

Dengan kehadiran Adam, semua urusan Varo menjadi lebih terhandle. Dengan sigap Adam menghubungi kolega Varo di Indonesia untuk menyambut kepulangan jenazah. Begitu juga prosedur rumah sakit, penerbangan dan administrasi lainnya, semua selesai dengan sempurna. Bakat seorang asisten handal masih melekat di jiwa Adam.


"Sebaiknya lu pulang dan berkemas, persiapkan semua yang akan dibawa, sekitar dua jam lagi kita akan melakukan penerbangan" Adam memerintah Varo.


"Jangan lupa, mandi yang bersih, lu tampak lusuh bos" Adam kembali memberi peringatan.


"Mba Rena, tolong ya bantu bos Varo untuk mengurus dirinya, kita tak mungkin membiarkannya sendiri" kali ini Adam memerintah Rena.


"Eh jangan, gak usah, kasihan Rena capek, gue bisa sendiri kok" Varo spontan menjawab. Dia tak ingin lebih merepotkan Rena.


"Ayo kak Varo, apa yang diucapkan pak Adam benar, kita harus gerak cepat, waktunya sedikit, aku bantu ya, gak repot kok" Rena menarik tangan Varo hingga pria itu berdiri.


Adam memandang Rena dan Varo yang perlahan menghilang dibalik pintu. Sebersit senyum muncul di wajahnya. Semoga bos nya Varo bisa kembali seperti dulu setelah Rena kembali hadir dalam hidupnya. Sudah sangat lama Adam tak melihat Varo bahagia. Aura seorang pebisnis tangguh dari seorang Alvaro seolah mati sejak kisah cintanya dengan Rena kandas.


.


.


.


Zifa telah mendapatkan kabar kematian tantenya langsung dari Adam yang menelepon ke ponselnya.


Setelah menghubungi sanak saudara, Zifa mengirimkan broadcast message ke beberapa kontak ponselnya. Zifa berharap cara ini bisa dengan cepat membuat informasi tersebar, agar proses saat jenazah tiba tak memakan waktu lama karena banyak yang membantu.


Tak disangka, salah satu pesan itu masuk ke ponsel Niko. Pria itu tersentuh karena ucapan yang dituliskan Zifa. Dia memintakan maaf untuk almarhumah tante yang sudah dianggapnya bak ibu sendiri dan sangat disayanginya.

__ADS_1


"Zifa pasti sedang bersedih, sebaiknya aku menemuinya" spontan Niko mengambil keputusan. Padahal saat ini dia tengah berada di kantornya dengan setumpuk file yang belum selesai dikerjakan.


.


.


.


Kembali ke negara Australia, dimana Rena dan Varo berada.


Varo membawa Rena ke rumah kediaman orang tuanya selama di negara ini.


"Ini rumah ku, dulu aku ingin membawa mu kesini dalam kondisi bulan madu, tapi.." ucapan Varo terjeda.


Rena segera mengambil alih suasana, dia tak mau membahas tentang masa lalu.


.


.


.


"Kak, ini dompetnya, ini ponselnya" Rena yang sedang membantu Varo membereskan barang yang akan dibawanya pulang ke kampung halaman mengembalikan barang barang Varo yang sedang disimpannya.


"Astaga, kamu dapat dimana?" Varo takjub. Dia memang selalu ceroboh, sering kehilangan barang.

__ADS_1


"Tadi berceceran dan dikembalikan oleh petugas kebersihan rumah sakit" Rena menjelaskan.


Varo mengangguk dan tersenyum tipis.


"Makasih Re" ucap Varo tulus. Keduanya kembali membereskan barang barang.


"Semua udah siap kak, aku tunggu diluar, kak Varo mandi dulu aja" Rena bergegas keluar.


Varo tak sempat menjawab, dia menatap punggung Rena yang dengan cepat menghilang di balik pintu.


Varo segera menyelesaikan urusan bersih bersihnya, jenazah sang mama harus segera diproses untuk pulang ke tanah air, untuk sementara urusan hati yang berantakan harus di ketepikan dahulu.


.


.


.


**Bantu author menumbuhkan semangat menulis dong readers🙏


Vote, like, komen sangat diharapkan.


Oiya, karya baru author untuk lomba berjudul "TAKDIR BEDA DIMENSI" sudah ada ya, boleh dong di intip intip juga.


Sebentar lagi kita lanjut next chapter Rena dan Varo ya.

__ADS_1


❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️**


__ADS_2