Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Akhir ingatan Varo


__ADS_3

Varo sampai di apartemen, dan membuka pintu. Baru saja satu kakinya melangkah masuk Rena sudah muncul dan langsung memeluk dirinya.


"Kak Varo, aku khawatir banget, aku minta maaf ya kalau aku salah, jangan diamkan aku lagi" lirih Rena sambil terus memeluk Varo.


Varo tercekat. Dia lemah karena pelukan Rena. Niatnya kesini untuk memutuskan hubungannya dengan Rena. Tapi bagaimana mungkin dia tega melihat Rena saat ini.


"Ma..maaf aku cuma lagi banyak kerjaan, aku lupa mengabari" kalimat itu akhirnya yang mampu dikeluarkan Varo kepada Rena.


"Iya kak, Aul juga bilang gitu. Lusa kita udah menikah, sebelum cuti pasti kak Varo sibuk banget, aku gak boleh egois gangguin kakak terus" terang Rena lagi.


Varo hanya diam tak tau mau melakukan apa.


"Kak Varo udah makan? Rena siapkan ya.


Varo menuruti semua yang dilakukan Rena pada dirinya. Dia duduk di meja makan dan melihat Rena sudah menyiapkan beberapa macam makanan untuknya.


"Kamu masak banyak?" tanya Varo.


"Iya kak. aku yakin hari ini kak Varo balik, dan Alhamdulillah filling aku benar" ucap Rena.


Varo setengah mati menahan air matanya yang mengambang. "Sebentar lagi aku akan kehilangan mu" batin Varo.

__ADS_1


.


.


.


Varo menghabiskan makanan yang disiapkan Rena. Pola makannya yang berantakan akhir akhir ini karena menjaga mama di rumah sakit membuat lidahnya tergugah dengan masakan Rena yang lezat.


Setelah mandi dan tubuhnya lebih segar, Varo mengambil dokumen penting di lemari penyimpanannya.


"Rena kesini lah" Varo memanggil kekasihnya itu mendekat.


"Mungkin kak Varo gugup menghadapi hari pernikahan, Aulia kemarin bilang gitu" Rena menghibur dirinya sendiri.


"Ini semua dokumen penting kepemilikan apartemen, kamu pegang ya, aku akan alih namakan semuanya atas nama kamu" Varo menjelaskan.


"Untuk sementara kios di renovasi, besok tukang mulai kerja, nanti kalau udah rapi kamu bisa jualan lagi, tapi tetap jaga diri ya".


"Kios itu juga sudah aku beli atas nama kamu, nanti pemilik lama pasti akan menemui untuk menyerahkan dokumen" Varo terus menjelaskan tanpa melihat kearah Rena.


"Dan satu lagi, kartu ATM Kemarin masih ada?" Varo menatap Rena sekilas dan kembali menurunkan pandangan.

__ADS_1


"Masih" jawab Rena bingung."


"Itu adalah bentuk tanggung jawab aku sebagai suami untukmu. Didalamnya sudah ada sejumlah uang dan akan ku tambah setiap bulan. Itu nafkah suami untuk istri. Pergunakanlah dengan baik. Lakukan apa saja yang menurutmu harus dilakukan" Varo terus menjelaskan detail semuanya kepada Rena.


"Kak Varo mau kemana? kan kita mau bersama, kita akan selalu bersama setiap hari kan, kenapa harus dikasih pesan kayak gini" Rena bingung.


"Aku takut lupa, ini semua hak kamu, yang penting aku jelaskan dulu" Varo berkelit.


"Lusa kita menikah, besok kita dipingit dulu ya. Kita tidak boleh bertemu dulu. Ajaklah keluargamu menginap disini untuk menemani. Ajak juga Aulia atau siapapun yang kamu mau" ucap Varo.


"Jadi malam ini kak Varo gak nginap?" Rena berkata setengah berharap.


"Aku nginap di rumah mama, kita akan jumpa lagi nanti di hari pernikahan" ucap Varo sambil menarik Rena kedalam pelukannya. Dadanya bergetar naik turun menahan perih di hatinya.


"Aku pamit ya, maafkan aku, jaga diri kamu baik baik" kalimat terakhir dari Varo.


Pria itu mencium lembut kening Rena. Lama dan dalam. Dia meresapi semua kenangan terakhir bersama Rena ini. Akan disimpan dalam lubuk hatinya yang dalam.


Akhir cerita yang tak bahagia.


Flashback offf

__ADS_1


__ADS_2