
"Huekkk" Rena menyambut pagi dengan memuntahkan semua isi perutnya. Varo begitu khawatir dengan kondisi sang istri yang tampak kepayahan.
"Sayang" Varo memijat tengkuk Rena untuk memberikan sedikit rasa nyaman.
"Sebaiknya kita kerumah sakit sekarang, aku tak bisa membiarkan mu begini terus" Varo memberikan perintah.
"Aku gak mau ke rumah sakit, aku mau ke yayasan, sudah lama gak jumpa Alif, aku rindu" tak dapat ditahan tangisan Rena keluar begitu saja. Varo merasa aneh dengan tingkah Rena saat ini.
"Hei jangan menangis" Varo mencoba menenangkan istrinya.
"Aku mau jemput Alif sekarang, Alif udah kelamaan ditinggal, kasihan kak Desi dan ibu kerepotan" Rena masih saja terisak, entah mengapa hatinya begitu melow.
"Iya sayang, maaf ya karena kamu ikut bantu aku di ruko jadi jarang jumpa Alif" Varo merasa bersalah.
"Mau sekarang" Rena sangat manja, jauh berbeda dengan kebiasaan sebelumnya.
.
.
.
"Alif" Rena bergegas mengejar putra kesayangannya yang tengah bermain bersama kak Desi di terasa rumah yayasan.
"Maafkan bunda ya nak, lama gak jemput kamu" Rena kembali menangis mendekap putra angkatnya itu.
"Sssttt, ada apa?" kak Desi memberi kode bertanya kepada Varo.
Varo menaik turunkan bahunya pertanda kebingungan. Sejak kemarin Rena bertingkah aneh, dia tak mengerti.
"Kamu sehat dek?" Desi memeluk sang adik yang terus menerus menciumi Alif.
__ADS_1
"Alhamdulillah sehat kak, cuma kemarin masuk angin sedikit" Rena menjawab pertanyaan kakaknya.
"Udah berobat?" Desi tampak khawatir dengan kondisi Rena.
"Udah kak, semalam udah dipijitin sama kak Varo" Rena menunjuk kearah suaminya.
"Syukurlah" Desi kembali memeluk adik kesayangannya itu.
"Hai kesayangannya papa Varo, sini gendong" Varo bermaksud mengambil Alif dari gendongan Rena. Karena Varo pun sangat merindukan batita lucu itu.
"Kak, jangan pake parfum ini lagi ya, baunya gak enak" Rena kembali merasakan mual karena aroma tubuh Varo.
"Hah" Varo mengendus aroma tubuhnya sendiri.
"Ini parfum aku kan kamu yang pilih, ini wangi yang sama seperti sebelumnya" Varo semakin dibuat bingung dengan tingkah Rena.
"Gak suka kak, bau banget" Rena berdiri menjauhi Varo sambil menutup hidung.
Desi yang berada tak jauh dari mereka terus mengamati, sepertinya dia mencurigai sesuatu terjadi kepada tubuh Rena, namun ia tak berani mengungkapkan. Kemungkinan itu seharusnya hanya tiga puluh persen, hanya sebuah keajaiban yang bisa terjadi apabila dugaan Desi benar.
"Hahaha, kasihan banget sih kamu" Desi mendekati Varo yang kebingungan.
"Kak, coba deh sini aku bau gak?" Varo mencari pembelaan dari kakak iparnya itu.
"Huekkk, iya bau banget" Desi semakin menjadi mengerjai Varo. Pria itu semakin bertambah galau.
Desi melangkah mendekati Rena yang bermain bersama Alif di taman.
"Dek, gimana jualannya, lancar?" kak Desi memulai pertanyaan kepada Rena.
"Lancar kak, hari ini tutup dulu sebentar, aku mau jemput Alif" Rena menjawab pertanyaan kakaknya.
__ADS_1
"Wah senangnya Alif berkumpul lagi sama mama papa" kak Desi menyambut gembira rencana Rena. Beberapa hari tak bersama Rena memang Alif menjadi rewel. Namun berkat ketelatenan Desi menjaga keponakannya itu, Alif akhirnya mau dibujuk dan mau makan serta bermain.
"Kak Desi, Rena minta obat pusing juga mual ya kak, akibat masuk angin beberapa hari lalu, aku jadi selalu pusing dan mual, apalagi kak Varo tuh, parfumnya bikin tambah pusing" Rena mengadukan keluhannya kepada sang kakak.
"Kamu bukan masuk angin sepertinya sayang, juga bukan salah parfum Varo, ada sesuatu yang sedang tumbuh yang tak kalian sadari, tunggu beberapa hari lagi ya, nanti kak Desi periksa" dengan senyum tertahan Desi menjelaskan kondisi adiknya itu.
.
.
.
Sementara itu, di lain tempat, mantan suami Rena yaitu Nathan telah mengetahui keberadaan Rena. Pria berusia hampir setengah abad itu saat ini dalam keadaan sakit cukup parah. Dokter memvonis juragan kaya itu menderita penyakit kanker stadium akhir. Umurnya telah dipastikan dokter tak lebih dari tiga bulan, hanya keajaiban yang dapat menyelamatkannya.
"Assalamualaikum" terdengar suara seseorang di pintu gerbang yayasan mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam" salah satu anak di yayasan bergegas keluar dan membukakan gerbang.
"Kak Rena, ada yang nyariin" Rena yang kebetulan ada di yayasan saat itu heran.
"Siapa yang nyariin aku?" Rena menyimpan tanya dalam hati.
"Siapa dek?" Rena mencoba mencari informasi lewat anak yang memberikan kabar kepadanya.
"Seorang bapak bapak duduk di kursi roda beserta dua orang pengawal" anak yayasan itu menjelaskan.
Rena memilih bergegas menemui orang itu, mungkin saja ada urusan penting dengannya. Varo sang suami tengah melakukan tugas rutin wajib lapor ke kantor polisi yang lokasinya cukup jauh dari yayasan. Rena akan dijemput kembali di sore hari.
Rena keluar dari kamar berniat menemui tamu misterius nya itu. Saat telah berada di ruangan tamu, langkah Rena terhenti. Tamu tak diundang yang ada di hadapannya saat ini adalah orang yang paling dihindarinya. Orang menakutkan yang menorehkan trauma mendalam di hidupnya.
"Tu...tuan Nathan" Rena gemetar menyapa pria itu.
__ADS_1