Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Hari pertama


__ADS_3

Tak disangka tak diduga. Hari pertama Varo dan Rena berwirausaha, pengunjung ramai berdatangan.


Rena bertugas sebagai kasir sekaligus pengawasan umum. Dia harus memastikan semua berjalan baik.


Sementara Varo, sibuk di dapur bersama satu orang pegawai, mereka bertugas membuat minuman serta menu menu spesial yang harus dimasak fresh saat pemesanan.


Varo mengintip dari bilik dapur kondisi restorannya yang diluar ekspektasi. Semua kursi terisi penuh. Rasa haru sekaligus bangga menyelimuti hatinya. Dia belum ditinggal oleh penggemarnya. Dibalik semua berita buruk yang beredar tentang dirinya, namun masakan hasil olahan tangannya masih digemari dan banyak peminat.


Pandangan Varo beralih ke meja kasir dimana sang istri berada saat ini. Wanita itu tampak sibuk melayani pelanggan yang membayar pesanan mereka.


"Mas Joko, tolong dilanjutkan ya, saya mau bantu bagian depan" Varo memberi perintah kepada asistennya dengan sopan.


"Baik pak" Pemuda itu juga menjawab dengan sopan perintah Varo.


"I Love U" Varo muncul dari belakang dan mengecup pipi Rena yang sedang konsentrasi menulis sesuatu di buku. Saat ini belum ada pelanggan yang datang ke meja kasir untuk membayar.


"I Love U too" Rena menyambut ucapan cinta Varo dengan tetap melanjutkan pekerjaannya.


"Capek gak sayang?" Varo memastikan kondisi Rena.


"Gak, harus semangat" wanita itu menunjukkan senyuman manisnya.


"Kalau capek jangan dipaksa ya, bilang kepadaku, biar aku yang lanjutkan" Varo mengkhawatirkan keadaan Rena.


"Iya sayang" Rena membelai lembut wajah tampan Varo.


Saat Varo dan Rena asyik bercengkrama berdua, seorang pelanggan mendekat.

__ADS_1


"Hai mas Varo, saya senang anda buka restoran baru disini, kami sangat rindu hasil olahan tangan anda, semenjak restoran anda yang dulu tutup, kami merasa kehilangan" seorang pelanggan menghampiri Varo dan memberikan testimoni membanggakan.


"Ah terimakasih bapak, saya senang anda masih berkenan berkunjung di tempat kami sekarang" Varo memberikan hormat untuk pelanggan loyalnya ini.


"Apa nona cantik ini istri anda?" pelanggan itu mengalihkan pandangannya ke arah Rena.


"Iya bapak, wanita cantik di sebelah saya ini adalah istri tercinta saya" Varo dengan bangga memperkenalkan Rena.


"Kalian pasangan yang serasi, saya bisa lihat kalau diantara kalian berdua tersimpan cinta yang dalam, pertahankan ya" pelanggan itu kembali berkata. Kali ini lebih seperti nasihat pernikahan.


"Terimakasih bapak" Rena dan Varo membungkukkan badan pertanda hormat kepada orangtua bersahaja itu.


.


.


.


Hari pertama restoran dibuka telah usai. Varo dan Rena telah berada di lantai atas untuk beristirahat santai sejenak.


Para karyawan mereka pun sudah pulang ke rumah masing masing.


"Hufttt" Hembusan nafas Varo terdengar begitu lega.


"Sayang ini pendapatan hari ini" Rena memberikan tumpukan uang kepada Varo.


Varo menyunggingkan senyum tipis. Dulu uang segitu tak ada apa apanya buat dia. Biaya untuk nongkrong nya bahkan lima kali lipat dari itu. Namun kini recehan demi recehan harus dikumpulkan demi menyambung hidup.

__ADS_1


"Kamu yang simpan semua ya" Varo menolak menerima uang dari Rena.


"Simpan buat masa depan kita nanti" Varo berkata dengan ekspresi biasa namun menusuk jantung Rena. Masa depan seperti apa yang mereka akan jalani, masa depan berdua saja tanpa keturunan yang lahir dari rahimnya.


"Hei, kok bengong, ayo kita istirahat" Varo tak menunggu izin langsung menggendong tubuh Rena ke atas ranjang.


Sebuah pelepasan kepenatan dibutuhkannya saat ini. Jalan keluar agar bisa tuntas semua adalah dengan menyatukan diri dengan sang istri yang selalu tampak menggairahkan di hadapannya.


.


.


.


Sementara itu, di rumah utama milik keluarga Prasetya. Zifa sedang sibuk mengurus Bu Wiya. Wanita itu telah dinyatakan sembuh dan menjalani pengobatan rawat jalan di rumah.


Zifa memang mengajukan diri untuk menjaga ibu angkat kakak ipar kesayangannya itu. Dengan dibantu seorang suster untuk memantau kesehatan wanita itu.


"Maafkan saya nak Zifa, kamu jadi repot karena saya" suara lemah dari Bu Wiya berkata kepada Zifa.


"Tidak apa Bu, kak Rena mengajarkan saya untuk terus berbuat baik kepada orang lain" Zifa menjawab kekhawatiran Bu Wiya.


"Rena memang anak yang sangat baik, saya malu jika mengingat betapa kejamnya saya dulu kepadanya" Bu Wiya terisak pilu. Penyesalan paling menyakitkan adalah ketika orang yang kita sakiti justru membalas dengan perbuatan baik kepada kita.


"Sekarang yang penting ibu cepat pulih, doakan kak Rena dan mas Varo yang tengah merintis usaha baru mereka" Zifa berkata sangat bijak.


Bu Wiya mengangguk setuju. Pelan pelan ia akan perbaiki semua yang dulu pernah dia lakukan kepada Rena.

__ADS_1


Sebuah ingatan tentang Nathan, mantan suami Rena yang terus menerornya, membuat miskin keluarganya hingga membuat dirinya jatuh sakit melintas tiba tiba.


"Saya harus menyelesaikan masalah dengan tuan Nathan. Dia tak boleh tau kondisi Rena saat ini. Saya yang memulai saya yang akan mengakhiri" tekad Bu Wiya telah bulat. Secepatnya masalah dengan pria kejam itu harus dituntaskan.


__ADS_2