
Waktu berlalu. Rena dan Varo semakin tak tau ujungnya. Rena disibukkan dengan terapi kaki dan perawatan luka di wajahnya.
Sementara Varo, terus memantau dan memastikan keadaan Rena meski tak pernah sekalipun muncul secara nyata.
Dua minggu sudah terlewatkan. Rena sudah tak lagi berada di rumah sakit. Terapi untuk kakinya bisa dilakukan dirumah dengan bantuan petugas home service. Begitu juga dengan perawatan bekas luka di wajahnya. Kiara rajin berkunjung ke yayasan untuk merawat luka Rena.
Sampai saat ini Rena masih berpikiran kalau semua biaya perawatannya ditanggung oleh dokter Desi, dia berusaha tak mengingat Varo.
Hubungannya dengan Niko pun semakin hangat. Setiap hari Niko mencurahkan perhatian dan kasih sayangnya kepada Rena.
Sementara itu Kiara dan Rena juga semakin akrab. Seperti sore ini, Kiara mengajak Rena berfoto bareng.
"Aku senang dengan perkembangan mu Re, wajah mu sudah semakin glowing dan bekas luka mu memudar, hampir tak lagi kelihatan" Puji Kiara tulus.
"Benarkah?" Rena tersipu malu.
"Iya, ayo kita foto, aku mau update di media sosial, kamu perlu ku pamer kan sebagai pasien dengan tingkat keberhasilan terbaik" lagi lagi Kiara memberi pujian.
Namun ada maksud lain dibalik foto yang diambil Kiara bersama Rena.
__ADS_1
Dokter kecantikan itu mengirim perkembangan signifikan Rena kepada Varo sang pengagum rahasia.
"Woi, nih udah gue bikin tambah cantik bidadari lu, transferan gue jangan ampe telat" Kiara mengirim foto dengan caption nyeleneh kepada Varo.
Varo yang sedang sibuk dengan tumpukan file di meja kerjanya tersenyum senang melihat senyuman Rena yang tampak semakin cantik.
"Makasih ya Bu dokter, siap ditransfer, cek rekening mu sekarang" Varo membalas dengan emoticon bahagia.
"Setidaknya ini caraku menebus semua dosaku kepada mu Re, walaupun tak akan mungkin aku mendapatkanmu lagi" gumam Varo sendirian sambil mengusap wajah cantik Rena.
"Drtttt.... drtttt" ponsel Varo bergetar pertanda ada panggilan masuk. Nama Adam muncul dari layar yang berkedip kedip.
"Bos, it's over, kita tak bisa mempertahankan, semua sudah bukan milik kita lagi" Adam memberi kabar buruk.
.
.
.
__ADS_1
Saat ini kondisi bisnis restoran yang dikelola Varo dalam keadaan benar benar buruk. Di ambang kebangkrutan.
Satu persatu cabang restorannya di berbagai negara tutup. Alasannya karena tak mampu bersaing dengan restoran lain yang banyak bermunculan, dan juga karena sang owner yang terlalu sibuk dengan urusan pribadi hingga tak memperhatikan perkembangan bisnisnya.
Adam yang diperintahkan untuk mengatasi kondisi buruk di restoran induk yang berpusat di Australia baru saja mengibarkan bendera putih. Mereka kembali kalah. Aset yang satu inipun juga harus tutup.
Huftttt... hembusan nafas Varo terasa berat.
Foto Rena yang masih terpajang di ponselnya saat inilah yang bisa membangkitkan semangatnya.
"Pak Varo, dewan direksi menunggu anda di ruangan rapat sekarang" sekretaris Varo membuyarkan lamunan panjang pria itu.
"Ya Allah apa lagi sekarang" Varo terbebani.
.
.
.
__ADS_1
Rapat dewan direksi yang dilakukan mendadak tanpa sepengetahuan Varo membuatnya terkejut. Terlebih lagi keputusan yang diterimanya. Para pemegang saham yang merupakan orang orang kepercayaan ayahnya dulu memutuskan untuk me non aktifkan Varo sebagai direktur utama. Keputusan ini diambil karena menurut mereka performa Varo jauh menurun, sering mengakibatkan kerugian terhadap perusahaan.
Varo benar benar di titik nadir. Usaha yang dirintis nya bangkrut, perusahaan yang diwariskan sang ayah pun harus ditinggalkan karena kelalaiannya dalam mengurus. Varo kecewa dengan dirinya sendiri. Kutukan Rena dahulu terjadi kepadanya saat ini.