
"Gudang Mr Ken" Varo mendapatkan petunjuk. Setengah jam yang lalu dia telah bangun dan mengisi perutnya yang kosong dengan sarapan yang disediakan Adam sang asisten.
Varo berhasil mendapatkan petunjuk setelah berjam jam memantau aplikasi pesan ibunya. Saat ini jarum jam menunjukkan pukul sepuluh siang.
Varo sangat gelisah dengan kondisi Rena saat ini. Hampir dua puluh empat jam Rena diculik, bagaimana kondisi gadis itu, apakah dia diberi makan atau tidak, semuanya memenuhi ruang pikiran Varo.
"Sabar ya Re, sebentar lagi aku akan menyelamatkanmu" gumam Varo.
.
.
.
Adam dan Varo beserta beberapa orang kepercayaannya saat ini sedang dalam perjalanan ke sebuah gudang di perbatasan kota. Gudang itu diyakini Varo sebagai tempat sang penculik menyekap Rena.
Sebelum berangkat mereka telah menyusun rencana, Varo meminta untuk menyelamatkan Rena tanpa ada pertumpahan darah diantara kedua belah pihak. Karena bagaimanapun, sang mama terlibat didalamnya, dan jika sampai polisi mengetahui ada keributan, otomatis wanita itu akan terseret kasus.
Mobil yang ditumpangi Varo dan tim telah berhenti di tempat yang tak jauh dari gudang. Sesuai dengan rencana, Varo akan mengendap masuk kedalam gudang, sementara yang lain membuat keributan untuk memancing fokus para penjaga terpecah.
Dan aksi dimulai.
Adam yang merupakan ketua dalam misi ini, memancing penjaga keluar dari pos dengan cara melempari batu dari luar.
Cara ini membuat beberapa orang penjaga terprovokasi dan mengejar pria itu.
Varo dengan aman berhasil menyelinap dan masuk kedalam area gudang itu.
Varo terus mencari dan berkeliling didalam ruangan gudang yang luas, banyaknya alat alat berat dan bahan bahan pabrik membuat Varo harus meningkatkan kewaspadaan. Jangan sampai sedikit gerakan yang salah memancing para penjaga berdatangan dan menangkapnya.
Varo telah sampai di ujung ruangan yang dibatasi oleh sebuah pintu. Satu satunya pintu terkunci yang ditemukannya sedari tadi. Varo sangat yakin kalau Rena ada didalamnya.
Varo berusaha mencari sesuatu benda yang bisa digunakan untuk mencongkel pintu tersebut. Akhirnya dia menemukan sebuah benda berbentuk paku dan bisa digunakannya.
KLIK... pintu terbuka tanpa menimbulkan suara yang berisik.
__ADS_1
Ruangan didalam sungguh terasa pengap dan sangat gelap. Varo ragu untuk melangkah kedalamnya.
"Mungkinkah Rena benar benar ada disini?" batin Varo.
Namun keyakinan dihati menuntunnya untuk terus masuk kedalam dan menemukan Rena disana.
Setelah berhasil menemukan tombol lampu dan semua ruangan menjadi terang, Varo juga menemukan sosok yang dicarinya. Sesosok gadis kurus dengan tangan diikat dan tengah meringkuk ketakutan di pojok ruangan.
Varo berjalan mendekati gadis itu. Sementara Rena yang ketakutan membenamkan kepalanya sedalam mungkin sambil terus berdoa, dia berpikir penjahat yang datang dan ingin menyakitinya.
"Jangan, jangan sakiti saya" Isak Rena memohon saat suara langkah itu semakin dekat.
"Re, ini aku, Varo, tenanglah aku akan membawa kamu keluar dari tempat ini" bujuk Varo menenangkan Rena.
Rena memberanikan diri mengangkat kepalanya dan melihat Varo sang penolong berada di dekatnya.
"Kak Varo, Rena sangat lega akhirnya ketakutan yang tadi dirasakannya berakhir.
Varo segera melepaskan ikatan tangan dan kaki Rena. Dan saat baru saja ikatan itu terlepas, sesuatu yang tak diduga Varo terjadi.
Rena memeluk Varo.
"Hik..hik.. Terima kasih kak" Isak tangis bercampur bahagia bersatu didalam pelukan posesif Rena.
Varo membalas pelukan itu dengan tulus, degup di jantungnya terasa berbeda.
"Kamu tenang ya sayang, sebentar lagi kita akan keluar dari sini" bisik Varo sambil terus mengelus rambut hitam milik Rena.
Deg....
Varo memanggil Rena sayang, dan Rena menyadarinya.
"Waktu kita gak banyak, kita keluar sekarang dari sini, pelan dan hati hati" ajak Varo kepada Rena.
Varo sadar posisi mereka saat ini jauh dari kata aman. Untuk itulah Varo menahan diri untuk terus memeluk dan melepas rindu kepada Rena. Mereka harus secepatnya pergi sebelum ketahuan oleh para penculik.
__ADS_1
Varo menggenggam erat tangan Rena sambil terus berjalan mengendap-endap untuk menghindari penjaga.
Dengan penuh perjuangan dan sangat menegangkan, Varo dan Rena berhasil keluar dari tempat penyekapan itu. Mobil untuk membawa Rena pergi juga sudah standby di belakang gudang.
Varo mengantarkan Rena masuk kedalam mobil, dan meminta sopir untuk membawa Rena ke tempat yang aman, Varo akan membuat perhitungan lanjutan kepada para penculik yang masih berada didalam gudang.
"Re, ikut mobil ini y, nanti aku menyusul" pinta Varo.
"Gak mau, Rena mau sama kak Varo" dengan manja gadis itu memeluk erat lengan Varo.
""Duh jantung gue kenapa sih" Varo mengutuk dirinya sendiri yang tidak bisa terkendali.
"Ya udah, ayo masuk mobil, kita pergi dari sini" Varo luluh dengan permintaan Rena. Dia memilih menemani Rena.
Varo dan Rena duduk di kursi bagian belakang, dengan posisi Rena yang terus memeluk lengan Varo. Rena masih tampak trauma dengan kejadian yang menimpanya. Pria itu hanya bisa membalas dengan mengusap lembut rambut Rena.
Tubuh Rena bergetar menahan tangis. Untuk pertama kalinya Varo melihat secara langsung Rena dari sisi yang lain. Rena gemetar dan ketakutan. Wajahnya yang pucat semakin pucat dengan tatapan mata yang kosong.
"Re, apa yang sakit?" Varo panik melihat Rena saat ini.
"Kenapa orang orang itu menculik aku kak, aku bukan siapa siapa, bukan anak orang kaya, bukan wanita cantik,hik..hik" Isak Rena.
"Aku cuma ingin hidup tenang, kenapa selalu saja masalah datang kepadaku, aku gak pernah berbuat jahat kepada orang lain" Rena histeris.
Gadis itu yang tadinya diam tiba tiba berubah panik dan ketakutan karena teringat kembali momen dirinya diculik.
Rena yang terus menangis membuat Varo tak tahan. Varo menarik Rena kedalam pelukannya. Varo berharap pelukannya bisa sedikit memberi ketenangan untuk Rena.
"Apa ini yang ku inginkan, Melihat Rena seperti ini apakah sudah membuatku puas, kenapa sakit yang kurasakan" batin Varo.
Pelukan Varo semakin kuat dan semakin dalam. Saat pelukan itu mereda, Varo tak melepaskan Rena, namun sebuah ciuman hangat didaratkan di kening gadis itu.
"Cup"
"Maafkan aku Rena" bisik Varo sambil mengusap air mata yang membasahi pipi Rena.
__ADS_1
Rena membeku, untuk pertama kali dalam hidupnya seorang pria mengecupnya.
Kesadarannya semakin tenggelam saat Varo kembali menariknya kedalam dada bidang yang wangi itu. Rena merasakan kenyamanan yang luar biasa saat bersandar disana.