Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Ungkapan perasaan


__ADS_3

Hari berganti.


Pagi hari di rumah sakit tempat Rena dirawat.


Varo bersikeras menjaga Rena. Meskipun gadis itu memaksa Varo pulang, tapi tetap tidak berhasil. Varo bertahan sampai pagi di sisi Rena.


"Selamat pagi" Dokter dan suster datang untuk memeriksa keadaan Rena.


Kondisi Rena membaik, dan dia diperbolehkan pulang siang ini.


Rena menarik nafas lega, akhirnya dia bisa pulang. Bertambah lega lagi, karena sesuai aturan dari asuransi kesehatan yang dimilikinya, batas perawatan yang bisa ditanggung full adalah 3 hari. Jadi Rena tak perlu memikirkan biaya tambahan untuk pulang dari rumah sakit.


"Re, aku urus administrasi dulu ya" Varo ijin pamit sebentar meninggalkan Rena.


"Iya kak, maaf merepotkan lagi," jawab Rena. Sungguh dia merasa sangat tak nyaman terus menerus merepotkan Varo.


Sesampainya di depan petugas administrasi Varo langsung menyelesaikan urusan dokumen pulang Rena.


Varo lagi lagi dibuat terkejut atas informasi yang didapatkannya. Rena memiliki asuransi kesehatan meskipun dalam jaminan yang rendah, namun dapat menjamin keseluruhan biayanya.


Petugas administrasi pun menjelaskan kalau Rena meminta untuk tak menerima pembayaran apapun dari orang lain. kecuali atas ijin Rena sendiri.


"Gadis yang luar biasa, sangat mandiri" gumam Varo kagum.


Saat kembali ke ruangan rawat, langkah Varo terhenti, karena melihat penampilan Rena. Gadis itu sudah berganti pakaian, dan berdandan tipis. Meskipun wajah pucatnya masih belum bisa dihilangkan.


Infus dan peralatan medis lainnya juga sudah dilepas oleh suster, Rena bersiap pulang kerumah.


"Kenapa perban kepalanya dilepas Re?" Varo merasa khawatir, karena luka di kepala Rena hanya ditutup sedikit saja.


"Biar lebih nyaman aja kak, aku mau balik kerumah, nanti orangtua ku khawatir kalo melihat perban segede itu" jawab Rena santai.


"Aku heran sama kamu, kenapa harus banyak rahasia sih sama keluarga sendiri, biarkan mereka tau sakitnya kamu, biar mereka ikut merasakan dan bertanggung jawab atas apa yang kamu alami" Varo terpancing emosi dan meluapkan kekesalannya kepada Rena.


Selama ini dia mengincar Rena sebagai sasaran balas dendam agar kedua orangtuanya terutama sang ayah sadar. Agar dia tahu bagaimana rasa sakitnya saat orang yang kita cintai menderita.


Namun apa yang dilakukan Varo beserta orang suruhannya selama ini selalu saja gagal. Rena terlalu tegar. Menanggung apapun sendiri. Bahkan untuk sesuatu yang bukan kesalahannya.


Rena menatap Varo bingung, kenapa pria itu tiba tiba emosi dan menyudutkan orangtuanya.

__ADS_1


"Rena, kami datang" Aulia dan Aldy datang disaat yang tepat. Rena dan Varo belum sempat membahas masalah mereka.


"Aul, bantu dorong kursi roda aku ya" suara Rena terdengar serak.


Rena memilih diam dan tak menatap Varo. Rasa kesal menyelimutinya. Varo tiba tiba memarahinya tanpa alasan. Bahkan Rena menyangka Varo capek karena mengurusnya semalaman. Karena itulah Rena lebih memilih meminta bantuan Aulia. Dia tak mau merepotkan Varo lagi.


Varo masih terpaku di tempatnya. Ucapannya barusan kepada Rena memang tak pantas dan pasti Rena merasa aneh.


"Ishhh bodoh bodoh" Varo mengutuk dirinya sendiri.


Varo segera menyusul Rena dan sahabatnya yang sudah jauh meninggalkannya. Sampai akhirnya Varo menemukan mereka di depan parkiran mobil.


"Re, ikut mobilku aja, aku antar kamu pulang" bujuk Varo kepada Rena.


"Terimakasih kak Varo, aku sudah banyak merepotkan. Aku pulang sama teman teman saja" Rena menjawab Varo sembari memberikan senyum tipis.


Varo hanya bisa menatap mobil yang dikemudikan Aldy membawa Rena menjauh dan semakin menjauh. Sementara Varo, masih berdiri di tempatnya dengan tangan dikepal menahan emosi. Emosi kepada dirinya sendiri yang kembali menyakiti Rena.


.


.


.


Setiap hari Varo memohon kepada sang ibu, menceritakan betapa polosnya Rena, Kebaikan hatinya, dan penderitaan yang dialami gadis itu akibat perbuatan keluarga Varo.


"Ma, bagaimana kalau mama mencoba dekat dengan Rena, biar mama mengetahui siapa Rena sebenarnya" bujuk Varo lagi pagi ini.


Saat ini mereka tengah sarapan bersama di meja makan.


"Stop Varo, lama lama mama stres mendengar ocehan kamu, pagi siang malam anak pembunuh itu terus yang kamu sebut" bentak mama Varo kehilangan kesabaran.


"Ya Tuhanku, mama begitu keras hatinya, apa yang harus ku lakukan" jerit hati Varo.


Sang mama sudah pergi masuk kedalam kamarnya. Wanita paruh baya itu sangat marah karena perubahan sikap putranya. Kebencian yang ditanamkannya sia-sia. Putranya tak membenci Rena bahkan mengaguminya.


.


.

__ADS_1


.


Varo menunggu Rena di gerbang kampus. Sebelumnya Varo telah mendapat info dari Adam bahwasanya Rena sudah mendapatkan pembagian shift untuk pekerjaannya.


Rena meminta jam bekerjanya pada sore hari. Karena cuti kuliahnya telah selesai dan akan kembali kuliah di pagi hari.


"Renata" Varo menghampiri Rena yang baru saja keluar.


"Kak Varo kenapa kesini?" tanya Rena canggung. Pertemuan terakhirnya dengan pria itu berkesan tak baik, sulit bagi Rena bersikap biasa saja.


"Re, aku minta maaf" tutur Varo.


"Udah ngomongnya?, aku buru buru harus segera ke restoran" jawab Rena ketus.


"Ada yang penting yang aku mau omongin" sambung Varo lagi.


"Apalagi kak?" Rena masih dengan mode ketus.


"Aku..aku sayang kamu Re" Varo menyerah, dia tak bisa lagi menahan rasa yang dimilikinya untuk Rena.


"Aku ingin menjaga mu Re, jadilah kekasihku" Varo sangat serius kali ini. Dia bertekad akan memperjuangkan Rena di hadapan mamanya.


"Jangan becanda kak Varo" wajah Rena merah semerah tomat. Dia tak menyangka seorang Varo, pemuda tampan nan kaya mengungkapkan perasaan kepadanya.


"Aku gak bercanda Re" Varo berusaha meyakinkan Rena.


"Bagaimana dengan kak Alya?, apa hubungan kak Varo dengannya sudah selesai?" Rena mengingatkan.


Degggg.....


Varo bagaikan tertampar dengan ucapan Rena.


Alya, dia telah melupakan Alya. Dia lupa kalau gadis itu masih berstatus pacarnya ,dan dia tak bisa begitu saja mengacuhkannya.


Saat ini Alya tengah berlibur ke luar negeri, hingga tak terlalu mengganggu Varo dengan kemanjaannya.


Karena jarak itu pulalah maka perlahan lahan rasa cinta untuk Alya terkikis dihati Varo, berganti dengan nama Rena, nama yang seharusnya masuk dalam daftar kebenciannya.


"Aku akan secepatnya menyelesaikan semuanya dengan Alya, aku berharap mendapatkan kesempatan dari kamu" Varo berusaha meyakinkan Rena.

__ADS_1


"Kita lihat nanti saja kak" Rena bergegas pergi dari hadapan Varo. Secara kebetulan angkot yang biasa ditumpanginya menuju rumah lewat di depan kampus. Rena langsung masuk kedalam angkot tanpa menoleh kepada Varo.


Rena tak bisa menguasai hatinya. Sebagian dari kepingan hatinya berbunga-bunga karena Varo ternyata mencintainya. Namun sekeping lainnya merasa takut, merasa kalo itu hanyalah mimpi karena seorang Varo tak mungkin suka dengan gadis kampung berwajah pas pasan


__ADS_2