Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Semua hal indah part 1


__ADS_3

Kiara menggandeng Rena masuk ke ruangan pemeriksaan khusus ibu hamil. Gadis itu hanya berniat menemani sang sahabat melakukan check up lengkap untuk persiapan perjalanan jauh. Karena Kiara adalah seorang dokter ahli kecantikan, ia tak berwenang mengambil alih tugas memeriksa Rena.


"Kiara, kenapa kau bersama pak Adam?" Rena bertanya kepada sahabatnya itu saat mereka berjalan menyusuri koridor.


"Hehe, sejak perjalanan kita ke Australia waktu itu, aku dan dia berkomunikasi intens setiap hari, dan bahkan saat ini kami menjalin hubungan serius" Kiara menjelaskan dengan malu malu.


"Wah, sudah banyak yang ku lewatkan ya" Rena merasa terkejut sekaligus senang mendengar kabar dari sang sahabat.


"Kami juga akan ikut kalian ke Australia, Adam ingin memperkenalkan ku kepada orang tuanya disana" Kiara kembali menjelaskan rencananya.


"Ah aku sangat senang, kita bisa berlibur bersama" Rena sangat bersemangat.


"Oh iya, apa kau tau sekarang nama besar Varo kembali berkibar di dunia bisnis? beberapa majalah bisnis ternama memasang profilnya di halaman depan sebagai penyambutan sang master bertangan dingin kembali bangkit dari tidur panjangnya" Kiara memuji Varo dengan hiperbola.


"Em tau sih, tapi gak sampai segitunya, kan dari dulu ia memang menguasai bidangnya, berbisnis dan mengolah makanan merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupannya suamiku" Rena menjawab ucapan Kiara.


"Itu semua karena ada wanita hebat yang mendampinginya. Saat kau tak bersamanya Varo benar benar merasakan jatuh dan kesulitan, ia bahkan sempat tak mempunyai semangat hidup" Kiara kembali mengingat bagaimana nasib Varo dulu.


"Benarkah?" Rena mengulik informasi yang belum diketahuinya dari sang sahabat.


"Iya, aku benar benar mengkhawatirkan kondisinya saat itu, dia cuma hidup namun tak bersemangat, tak bergairah, yah pokoknya gak ada aura positifnya" Kiara dengan polos dan ekspresi lucu menjelaskan kondisi Varo kepada Rena, hingga membuat wanita itu tertawa.


"Tapi sekarang, ia kembali tampan, begitu mempesona, kurasa aku mulai menyukainya" Kiara mencoba menggoda Rena.

__ADS_1


"Aww" sebuah cubitan kecil dilayangkan Rena di pinggang gadis nakal itu. Mereka tertawa terbahak bahak hingga menarik perhatian beberapa pengunjung lain.


.


.


.


"Semuanya normal, dan saya rasa anda siap untuk melakukan perjalanan, tak ada yang perlu dikhawatirkan, tapi ingat untuk terus menjaga kondisi anda saat ini nyonya" dokter spesialis kandungan menjelaskan setelah selesai memeriksa kondisi Rena.


"Silahkan ambil obat dan vitamin yang telah saya resepkan untuk anda konsumsi selama perjalanan di bagian depan" dengan ramah sang dokter mengarahkan Rena ke bagian selanjutnya.


Baru saja Rena dan Kiara keluar ruang pemeriksaan, Varo telah menyambutnya. Pria itu memberikan senyuman hangat sembari merangkul sang istri.


"Semua aman, kita diijinkan melakukan perjalanan" Rena menjelaskan kepada sang suami sesuai penjelasan dokter.


"Syukurlah, terimakasih sayang kau menjaga buah hati kita dengan baik, cupp" Varo mengecup lembut pipi Rena.


"Oh Tuhan, aku tak dianggap ada di tempat ini" Kiara mengumpat kesal melihat kelakuan bucin Varo. Semuanya tertawa renyah melihat tingkah Kiara.


"Dimana Adam?" Kiara baru menyadari kalau pria yang telah resmi menjadi kekasihnya itu tak ada bersama Varo.


"Dia ku suruh antri mengambil obat di bagian sana" Varo menunjuk kearah apotik tempat pengambilan obat.

__ADS_1


"Hei, dia bukan bekerja padamu lagi, jangan sembarangan memberi perintah" Kiara memprotes tindakan Varo.


"Dia akan selalu mematuhi perintah ku, bahkan jika kuminta dia menikahi mu saat ini dia pasti akan melakukannya" dengan sombong Varo menjawab perkataan Kiara.


"Uhukk" Kiara langsung tersedak dengan wajah merah padam menahan malu.


.


.


.


Kedua pasangan itu berpisah menuju tujuan masing masing. Rena dan Varo bergegas menuju yayasan untuk memberitahu rencana keberangkatan mereka kepada kak Desi, Bu Indah dan semua penghuni yayasan.


Tentu saja rencana impian ini didukung oleh semua keluarga mereka. Dokter Desi bahkan paling heboh mempersiapkan semua perlengkapan Rena.


"Kalian beristirahat lah, butuh tenaga ekstra untuk perjalanan jauh" perintah dokter Desi. Rena dan Varo mematuhi perintah tersebut dan masuk ke kamar mereka.


"Cup, muach" Varo tak henti mengecupi wajah Rena begitu masuk kedalam kamar. Bahkan leher dan pundak wanita itu juga tak luput dari sasaran bibirnya.


"Kak, geli" Rena mencoba mengelak menjauhi diri dari sasaran mesum sang suami.


"Sayang, aku sangat mencintaimu" Varo menatap Rena penuh cinta. Tatapan mata pria itu tampak lain, begitu sayu dan penuh hasrat.

__ADS_1


"Mmphhhh...mmppphhhh" Rena gelagapan karena Varo kembali ******* bibirnya. Rena sangat paham suaminya saat ini dalam mode on penuh gelora menggebu. Dirinya pun pasrah saat akhirnya penyatuan penuh cinta terjadi dan membawa mereka berdua melambung tinggi menggapai langit ke tujuh.


__ADS_2