Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Kenapa satu persatu muncul?


__ADS_3

"Duduklah" Aldi berhasil menguasai emosinya dan mulai bersikap wajar selayaknya seorang atasan dan bawahan.


"Bagaimana kabarmu?" Aldi tak lagi dalam mode mengintimidasi. Jauh didalam hati kecilnya Aldi merindukan sahabatnya ini.


Nona sekretaris yang tadi memantau perubahan emosional sang direktur utama menjadi terheran heran dan mengernyitkan kening. Baru kali ini dirinya melihat seorang atasan yang dalam waktu beberapa menit bisa berubah dari mode galak menjadi ramah.


"Siska, tinggalkan kami, pak Alvaro Prasetya ini adalah teman lama saya, kami akan ngobrol santai sejenak sebelum membahas soal pekerjaan" Aldi memahami kebingungan sekretarisnya.


"Baik pak" Siska bergegas keluar meninggalkan ruangan.


"Oke, Apa yang terjadi padamu Varo? ceritakan lah" Aldi tak berbasa basi, mereka hanya berdua di ruangan itu.


"Gue bangkrut, perusahaan dan bisnis gue gagal, nyokap gue meninggal dan sekarang gue hanyalah seorang Varo yang gagal, manusia sampah yang mencoba untuk kembali bangkit" Varo berbicara begitu lirih.


Varo memang sangat dekat dengan Aldi,. dahulu saat masih bersama Rena. Varo bisa menceritakan apa saja yang dirasakan di hatinya kepada Aldi, sahabat yang terkenal bijak dan dewasa.


Pada awalnya Rena lah yang mengenalkan Aldi kepadanya. Aldi juga berterus terang tentang perasaan yang disimpannya untuk Rena. Namun karena ingin melihat Rena bahagia, Aldi mengalah dan mengikhlaskan Rena bersama Varo, bahkan merangkul keduanya sebagai sahabat, ditambah satu orang lagi yaitu Aulia.


Mereka berempat senantiasa menghabiskan waktu bersama di apartemen Varo.


Dan setelah kejadian itu, semuanya berubah, Varo tak lagi mengetahui keberadaan sahabat sahabatnya itu, hingga akhirnya kini satu persatu bagian dari masa lalu itu muncul lagi.

__ADS_1


"Gue turut prihatin, tapi gue rasa ini kutukan atas perbuatan buruk lu di masa lalu" Aldi berkata begitu pedas.


"Iya, gue juga merasa begitu, karena itulah gue bertekad menikmati ini semua, jika ini bisa menebus semua dosa dosa gue di masa lalu, maka akan gue jalani tanpa mengeluh" ucap Varo tegas.


"Oke kalau begitu, gue doakan semoga lu kuat, dan obrolan kita cukup sampai disini dulu, gue ada meeting setengah jam lagi, banyak yang harus gue persiapkan".


"Gue harap lu enjoy kerja disini, meskipun perusahaan ini belum terlalu besar dan tak bisa dibandingkan dengan perusahaan lu yang lama, tapi gue bangga dengan ini semua" Aldi menambahkan.


"Thanks di, lu masih mau menerima gue disini" Varo berterima kasih dengan tulus. Hatinya lega karena Aldi sudah lebih bersikap memaafkan kepadanya.


"Nanti kita ngopi saat pulang kerja ya, silahkan lu temui sekretaris gue, dia yang akan bantu lu beradaptasi dengan karyawan lain" Aldi berdiri dari duduknya dan memandu Varo menemui sekretarisnya yang berada diluar ruangan.


.


.


.


Siang hari di perusahaan.


Varo masih berkutat dengan adaptasi sistem di kantor barunya ini. Ada banyak file di hadapannya yang dituntut untuk segera dipelajari.

__ADS_1


"Huft" Varo memijat mijat batang hidungnya untuk menghilangkan pusing di kepalanya.


"Sebaiknya gue ngopi sebentar di kantin" Varo bergumam sendiri.


Pria tampan itu berjalan kearah kantin karyawan untuk membeli secangkir kopi. Dia belum terbiasa dengan banyaknya tumpukan dokumen yang sangat jauh berbeda dengan bidang keahliannya. Otaknya benar benar dipaksa bekerja keras kali ini.


Saat Varo menikmati kopi miliknya di pojokan kantin perusahaan, sebuah suara menyapanya.


"Hai Varo, kamu ada disini?".


"Astaga, apalagi ini, kenapa orang orang dari masa laluku muncul satu persatu" gumam Varo dalam hatinya.


Bagaimana tidak keheranan, dalam sehari Varo bertemu dengan dia orang yang pernah dikenal dekat dengannya di masa lalu.


Tadi pagi, Aldi si sahabat lama yang kini menjadi atasannya muncul, belum hilang keterkejutan Varo, Alya sang mantan pacar ikutan muncul ke hadapannya.


Ya orang yang menyapa Varo saat ini adalah Alya. Wanita cantik dan kaya yang dulu berstatus kekasih Varo.


"Alya?" Varo berusaha mengendalikan raut wajah tak nyamannya.


"Akhirnya kita ketemu juga ya" Alya segera duduk mendekat ke sebelah Varo. Membuat pria itu semakin tak nyaman.

__ADS_1


__ADS_2