Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Rasa haru


__ADS_3

Varo mengantarkan ke hotel tempat mantan kekasih yang sekarang menjadi sahabatnya itu sekarang menginap.


"Terimakasih kak" Rena berniat turun dari mobil, dia tak sama sekali menawarkan kepada Varo untuk mampir.


Varo mengekor di belakang Rena, dia membawa tumpukan kantong plastik belanjaan yang tadi dibelinya.


"Lo kak, mau kemana bawa itu?" Rena bingung.


"Mau dibawa sampai ke kamar kamu" jawab Varo cuek.


"Eh, aku kan gak mau beli itu, lagian itu terlalu banyak, besok rencananya aku dan Kiara udah balik ke Indonesia" Rena menolak.


DEG....Varo tersadar.


Dia lupa kalau Rena hanya sementara berada di negara ini, dan akan kembali ke kehidupannya yang lama.


Dan yang lebih membuat Varo galau adalah, di Indonesia nanti sudah ada Niko yang menunggunya, bisa jadi akan langsung melamar Rena.


Varo lemas, impian untuk memiliki Rena semakin buram.


"Em, ya udah aku bawa sebagian lagi, tapi sebagian tinggalkan disini ya" Varo memohon.


"Ya udah, sini aku bantu" Rena mengalah.


Mereka melangkah bersama masuk kedalam lift menuju kamar yang disewa Kiara.


Pintu lift terbuka.

__ADS_1


"Maaf kak, sampai disini aja ya, aku gak nyaman kalau ada orang lain masuk kedalam" ujar Rena.


"Baiklah, aku ke kamarku dulu" Varo bergegas pergi. Rena kembali mengingatkan kalau dirinya bukan siapa siapa. Hati Varo bagai dicubit, nyeri tak tertahankan.


Satu jam berlalu, Varo dan Rena berada di kamar yang bersebelahan.


Karena semalaman tak tidur, Varo kelelahan dan langsung tidur tanpa membersihkan diri. Hingga tengah malam pria itu masih belum terbangun.


Kiara baru saja selesai dengan kegiatannya dan pulang ke kamar, dia melihat banyak sekali makanan yang masih berada didalam kantong plastik berlogo swalayan terkenal di kota itu.


"Rena habis belanja ya, banyak sekali?" Kiara bertanya dengan bingung.


"Itu dari kak Varo, buat kamu" jawab Rena.


"Hahaha, buatku? masa sih?" Kiara tertawa mengejek.


"Ini kan udah malam, gak enak ah ganggu orang" Rena tak setuju.


"Dia tinggal di sebelah unit kita kan, lagian dia juga pasti belum makan, kasihan" Kiara memaksa.


Pokoknya aku mandi dulu, tolong panggil dia ke sebelah ya Re" Kiara memaksa dan berlalu menuju ke kamar mandi.


Rena yang sejatinya anak penurut dan tak suka membantah berjalan ke depan, membuka pintu kamar dan mengetuk pintu kamar Varo.


"Tok...tok...tok...."


Tak ada sahutan dari dalam.

__ADS_1


"Mungkin udah tidur, sebaiknya aku gak ganggu" Rena bermonolog sendiri.


"Ceklekkkk"


Saat Rena hendak pergi, pintu dibuka dari dalam.


Varo keluar dengan wajah yang sangat pucat. Tubuhnya dibungkus dengan selimut. Pria itu tampak menggigil kedinginan, sepertinya iya demam.


"Kak Varo kenapa?" Rena cemas.


"Rena ngapain kesini?" Varo tak menjawab bahkan memberi pertanyaan balik.


"Mau ajak makan, Kiara pulang bawa banyak makanan" Rena menjelaskan tujuannya datang.


"Kak Varo demam?" Rena kembali bertanya karena melihat Varo yang begitu lemas.


Rena spontan menempelkan tangannya ke dahi Varo dan terasa sangat panas.


"Duh beneran demam" Rena berceloteh sendiri.


"Ayo kak Rena bantu" naluri kebaikan gadis itu muncul. Dia menuntun tubuh Varo kembali kedalam dan membaringkan diatas kasur.


"Kak Varo tunggu bentar biar Rena kompres" dengan sigap Rena membentangkan selimut yang tadi melilit Varo, dan meninggalkan pria itu menuju kearah telepon kamar.


Rena menghubungi petugas hotel untuk meminta air panas. Sementara menunggu, Rena melepaskan sepatu yang masih di pakai Varo.


Rena tak sadar kalau perbuatannya ini membuat rasa haru dihati Varo. Pria itu kembali meneteskan air mata penyesalan. Rena yang tulus tak pernah berubah, selalu menebarkan kebaikan kepada semua orang yang ada di dekatnya.

__ADS_1


KADANG AIRMATA ADALAH SATU SATUNYA CARA BAGAIMANA MATA BERBICARA KETIKA BIBIR TAK MAMPU MENJELASKAN ISI PERASAAN YANG SEBENARNYA.


__ADS_2