Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Cerita masa lalu langsung dari Rena


__ADS_3

"Hai Zifa" Niko muncul persis saat Zifa baru saja keluar dari kelasnya.


"Eh kamu disini?" Zifa tak percaya dengan penglihatannya.


"Ayo jalan sekarang, takut keburu sore" Niko menggenggam tangan Zifa dan membawa gadis itu masuk kedalam mobilnya.


"Mau kemana kita?" Zifa bersikap tak biasa. Sikapnya terasa lebih dingin dan banyak diam.


"Kita nonton yuk, ada film bagus hari ini" Niko terus bersikap manis untuk menebus rasa bersalahnya.


"Ayo" Zifa tak menolak. Mobil pun melaju membelah jalanan menuju ke sebuah mall terkenal di kota itu.


Sementara itu, Rena yang berada di depan ruangan ICU memperhatikan perkembangan kesehatan sang ibu angkat.


Baru saja petugas rumah sakit mengabarkan kalau biaya pengobatan Bu Wiya sudah melebihi limit asuransi. Sebagai pihak keluarga, Rena harus secepatnya memberikan tambahan deposit agar proses pengobatan dapat terus dilanjutkan.


"Drtttt....drtttt" ponsel yang tadi diberikan Varo kepada Rena berbunyi. Nada dering di ponsel itu cukup keras hingga mampu membuat Rena kaget.


"Hallo" Rena menjawab dengan ragu.


"Aku jalan ke rumah sakit sekarang ya Re" Varo mengabari Rena.


"Iya kak" Rena hanya menjawab pendek.


Rena mendekati Bu Wiya dan berbisik di telinganya.


"Ibu, Rena masih menunggu ibu kembali sehat, terus berjuang ya Bu, Rena menyayangi ibu" wanita itu berkata dengan tulus.


Tak menunggu lama, Varo telah sampai di depan ruangan ICU dan menemukan Rena yang masih mengusap lembut rambut sang ibu angkat.


"Kamu memang anak yang berbakti" gumam Varo. Hatinya terbawa damai saat melihat Rena yang begitu tulus kepada semua orang.


"Permisi pak, saya dari bagian administrasi, tadi diminta untuk mengantarkan ini ke penanggung jawab pasien didalam" seorang perawat menghampiri Varo.


Varo menerima dokumen itu, dan membaca isinya.


"Tagihan rumah sakit, Rena pasti kebingungan membayarnya" Varo bergumam sendiri.


Pria itu segera turun ke ruangan utama administrasi, Varo melunasi semua tunggakkan beserta tambahan deposit yang diminta rumah sakit.


Varo mengurut dada melihat sisa saldo di rekeningnya yang kurus dan semakin kurus, tapi demi Rena dan senyumannya semua itu tak menjadi masalah buat Varo.

__ADS_1


Varo sama sekali tak memberitahu apa yang telah dilakukannya kepada Rena. Saat ia kembali dan menemui Rena, Varo segera mengajak Rena pergi.


.


.


.


Rena dan Varo berada didalam mobil dengan suasana canggung.


"Niko tau kamu pergi bersamaku?" Varo membuka pembicaraan.


Rena menggeleng lemah.


Varo tersenyum melihat tingkah Rena.


"Apa kamu bahagia bersamanya Re?" Varo bertanya dengan lugas.


"Emmm, bahas yang lain aja ya" Rena menghindar.


"Ya udah, selama sama aku, bahas yang bahagia bahagia aja ya" Varo mengusap lembut hijab Rena.


Rena tersenyum, biarlah dia menikmati apa yang menurutnya bisa membuat bahagia, terserahlah takdir hendak mau membawanya kemana.


"Ayo masuk" Varo mengajak Rena segera masuk.


Saat sampai didalam rumah, Varo menunjukkan satu kardus besar barang barang yang berhasil dikumpulkan oleh orang suruhannya, barang barang yang berkaitan dengan semua tentang Rena.


Mata Rena berbinar senang melihat kumpulan memori masa lalunya ada di tempat itu.


"Kak, aku mau bongkar, boleh?" Rena bersikap manja layaknya anak kecil meminta mainan.


"Ayo kita bongkar berdua" Varo membuat ekspresi lucu untuk membuat Rena tertawa.


Kedua insan itu tertawa bersama sebelum memulai kegiatan yang akan mereka lakukan.


.


.


.

__ADS_1


Kak lihat ini, ini waktu aku ikut lomba mewakili sekolah, yang fotoin guru pembimbing aku" Rena menceritakan sejarah foto yang dipegangnya kepada Varo.


Varo melihat foto yang diberikan Rena, gadis kecil dengan rambut dikuncir dua, begitu manis dan lucu.


"Re, kamu kurus banget waktu kecil" Varo mengomentari foto masa kecil Rena.


"Hahaha, iya, masa masa perjuangan di jalanan, gak dapat duit gak makan" Rena menjelaskan dengan santai, tangannya masih terus membuka halaman demi halaman album foto tersebut.


Varo menatap kagum kepada Rena. Gadis hebat yang tak pernah menyalahkan takdir. Dulu saat Varo seusia Rena, hidupnya bak seorang sultan kecil. Semua kebutuhannya tercukupi bahkan berlebihan. Jalan jalan ke luar negeri adalah hal biasa bahkan sudah hampir seluruh dunia dijelajahinya. Tak ada satupun keinginannya yang tak dikabulkan, sungguh jauh berbeda dengan Rena.


"Ini foto aku lulus SMA nih kak" Rena kembali menyodorkan sebuah foto dirinya yang sedang bergaya di depan gerbang sekolah.


"Hahaha, kamu narsis juga ya ternyata" Varo menanggapi dengan godaan.


"Hahaha, sekali sekali kak" Rena menjawab godaan Varo, senyuman terkembang di wajahnya.


"Foto masa kecil kamu mana Re, kita butuh itu buat dilihatkan kepada kak Desi, dia hanya ingat wajah adiknya saat terakhir kali diumur dua tahun" Varo menjelaskan.


"Disini gak ada kak, aku cari lagi ya" Rena kembali membongkar isi kardus itu hingga ke bagian bawah.


Varo pun tak kalah bersemangat, dia ikut mencari benda benda yang kira kira penting, yang sudah berserakan kembali di ruangan itu.


Varo menemukan sebuah buku kecil dibalik semua tumpukan. Varo menarik buku itu dan membukanya. Isinya adalah catatan tanggal dan jam, wajah Varo mengernyit.


"Re, ini apa?" Varo menanyakan buku di tangannya kepada Rena.


"Eh, itu buku...." Rena menggantung ucapannya. Dia malu untuk menjelaskan.


Varo terus membalik lembaran buku itu, di belakangnya ada tulisan.


"Welcome tahun baru, cukup buat tahun ini, sampai jumpa di tahun selanjutnya, dengan pukulan pukulan yang baru (emoticon menangis)".


"Re, setiap kali kamu dipukul kamu mencatatnya?" Varo bertanya dengan hati hati. Dia mulai paham maksud buku catatan Rena itu.


"Hehe, iya, itu dulu cara aku menghibur diri, dengan menulis apa saja yang terjadi" Rena malu sendiri menjelaskan kelakuannya dahulu.


"Kayaknya ada banyak banget buku berisi curhatan ku, tapi gak tau deh pada kemana, aku gak bisa cerita dengan orang lain tentang kelakuan orang tuaku, karena itulah aku jadikan buku sebagai pelampiasan. Habis menulis ini aku biasanya lebih plong" Rena menjelaskan kembali.


"Eh malah bengong, duh jadi malu aku, aneh banget ya kelakuanku" Rena tak tahan melihat ekspresi wajah Varo yang tegang.


Varo tersadar, tetesan air mata itu jatuh lagi, sebegitu menderitanya Rena dulu.

__ADS_1


Varo segera mengusap air matanya agar Rena tak melihat. Tekad Varo semakin kuat untuk membahagiakan Rena.


__ADS_2