
Varo mengetuk pintu yayasan yang tertutup rapat.
"Assalamualaikum" ucapan salam dilantunkan untuk memanggil penghuni didalamnya.
"Waalaikumsalam" suara lembut seorang wanita perlahan mendekat.
"KLIKKK" pintu dibuka dari dalam.
Rena yang membuka pintu seketika membeku.
Wajah pria yang telah menghancurkan hidupnya saat ini berada di depan matanya. Hanya berjarak beberapa langkah darinya.
Tak beda dengan Varo. Pria itu tak kalah terkejut. Gadis manis yang selama ini dicarinya ada dibalik pintu. Tatapan mereka bertemu.
Rena melangkah mundur, wajahnya pucat pasi, tampak jelas ketakutan dari raut wajah itu.
"Rena" suara Varo lirih memanggil nama itu.
Rena menggeleng geleng kan kepalanya berusaha menyadarkan diri kalau apa di hadapannya tak nyata. Langkahnya terus mundur menjauh, apalagi saat ini Varo berjalan mendekat ke arahnya.
Rena kehabisan oksigen untuk dihirup di sekitarnya, gadis itu lemas dan ambruk ke lantai.
Varo dengan cepat menangkap tubuh kurus itu yang nyaris menabrak lantai. Dia tak bisa menahan air mata yang jatuh saat melihat kondisi Rena yang tergeletak lemas di pangkuannya.
Anak anak yang kebetulan berada di dekat Rena berteriak histeris melihat kakak kesayangan mereka pingsan.
__ADS_1
Keributan itu membuat Bu Indah, Bu Lidya dan dokter Desi yang sedang sedang sibuk dengan urusannya masing masing keluar kearah sumber suara.
Jarak kamar dokter Desi yang lebih dekat dengan lokasi pingsannya Rena membuat dia sampai terlebih dahulu dan langsung memeriksa kondisi Rena.
"Ya Allah dek, ada apa lagi ini" dokter Desi yang menyayangi Rena selayaknya adik sendiri merasa sangat iba dengan kondisi Rena yang lemah.
"Tolong,,, tolong bawa Rena masuk kedalam" perintah dokter Desi kepada Varo yang sedang memeluk Rena dengan panik.
Varo mengangkat tubuh itu dalam pelukannya, dengan perlahan membaringkannya di ranjang milik dokter Desi.
"Tolong keluar dulu, saya mau memeriksa keadaan Rena" perintah dokter Desi.
Varo masih belum loading sempurna terlihat tampak bodoh, dia linglung, semuanya sangat mendadak. Bahkan pria itu tak mendengar apa yang diperintahkan oleh Desi.
Zifa sedari tadi yang terus mengikuti Varo, akhirnya menarik pria itu keluar. Meskipun tak mengerti apa yang sedang terjadi sebenarnya, tapi Zifa memilih menjadi pihak yang menjaga keamanan. Untuk sementara keamanan Varo.
"Mama" Varo mendekati sang ibu dan memeluknya. Tak lupa anak baik itu mencium tangan orangtua terkasihnya.
"Ma, itu Renata, apa yang terjadi ma? apalagi kalo ini, jangan sakiti dia lagi ma" Varo kembali mengingat kekejaman sang mama yang memisahkan mereka.
"Apa ini maksudnya?" Bu Indah yang berdiri di sebelah Bu Lidya angkat bicara. Dia merasa aneh atas sikap Varo yang aneh.
Kenapa Rena pingsan melihat Varo? kenapa Varo yang katanya masih di luar negeri muncul di tempat ini dan histeris dengan keadaan Rena. Semua serba membingungkan.
"Tenanglah nak, mama disini karena ingin memperbaiki keadaan, mama mohon tenanglah" Bu Lidya terisak.
__ADS_1
Varo mengusap kasar wajahnya. Rena masih berada didalam ruangan yang tak bisa dilihatnya.
Saat tadi Varo mengangkat tubuh Rena, di wajah manis itu terdapat sebuah luka cukup besar, Varo tak tau itu luka apa, tapi cukup membuat otaknya berpikir cepat.
"Apa yang sudah kamu alami sayang?" Varo bergumam dalam hatinya.
Pria itu terus bolak balik di depan pintu ruangan kamar dimana saat ini Rena tengah ditangani.
.
.
.
KLIKKK...pintu terbuka dari dalam.
Varo yang berada persis di depan pintu langsung menghambur kearahnya berniat masuk.
"Kamu yang namanya Varo?" dokter Desi mengajak Varo berbicara tapi tak membolehkan pria itu masuk.
"Iya" Varo menjawab cepat meskipun bingung kenapa dokter yang menangani Rena mengetahui siapa dirinya.
Dokter Desi memberikan senyuman sinis, dan berkata.
"Kalau mau Rena hidup lebih lama, sekarang pulang lah, jangan temui dia untuk saat ini".
__ADS_1
Ini kartu nama saya, besok temui saya di rumah sakit Kencana jam sembilan pagi, saya akan jelaskan semuanya" ucap Desi menjelaskan.