Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Desi dan Rena


__ADS_3

"Apa yang terjadi dengannya? apa yang telah dialaminya?" Varo terus mengulang pertanyaan.


"Kau laki laki yang menghancurkannya, setelah kau dapatkan semua lalu pergi meninggalkannya begitu saja, lihatlah sekarang, puas?" dokter Desi menyudutkan Varo.


"Rena bukanlah gadis yang kuat, dia rapuh, dia lemah, sejak insiden pernikahan kalian yang gagal, dia dipaksa menikah oleh orangtuanya dengan seorang pria tua, sebagai istri ketiga.


Lebih tepatnya dia dijual oleh orangtuanya, karena pria itu tak menikahi Rena karena cinta, pria itu membeli Rena untuk mendapatkan tubuhnya, tapi pria itu kecewa karena Rena tak lagi suci.


Yang membuat pria itu bertambah kecewa adalah, Rena tak pernah mau disentuh olehnya, Rena terus menolak, bahkan lebih memilih mendapatkan siksaan fisik daripada memberikan hak suaminya.


Kekecewaannya disalurkan melalui hukuman fisik bertubi tubi hampir setiap hari" dokter Desi menjelaskan.


Dokter itu sengaja tak menyebut mengenai kehamilan Rena kepada Varo. Biarlah itu nanti menjadi bagian Rena sendiri.


Rena dibawa kesini dalam keadaan sekarat, persis seperti itu" foto yang dipegang Varo ditunjuk oleh Desi.


Tubuh Varo gemetar, bagaimana bisa Rena mendapatkan semua itu akibat ulahnya.


"Pria itu dihukum tapi hanya dengan hukuman ringan, tak sebanding dengan trauma yang dialami Rena seumur hidup.


Rena yang malang itu takut bertemu dengan keramaian, takut berjumpa orang baru terutama laki laki, bahkan dia ketergantungan obat penenang karena tak bisa mengendalikan kecemasan yang berlebihan" Desi terus menjelaskan kondisi Rena.


"Rena aku bawa ke yayasan dan tinggal bersama ibu ku disana. Keluarganya tak mempedulikan bahkan tak pernah sekalipun datang dan menanyakan keadaannya" lanjut Desi lagi.


Suami yang menyiksa Rena sudah mendapatkan hukuman, meskipun tak seimbang, sedangkan dirimu? apakah sudah mendapatkan karma?" Desi sangat emosi, ini terdengar dari nada bicaranya.

__ADS_1


"Nah kurasa sudah cukup cerita ini, silahkan tanyakan hati nurani mu, apakah masih sanggup untuk bertemu dengan Rena dan meminta pengampunan darinya".


"Oiya satu lagi, Rena menderita jantung lemah, selain karena efek obat obatan yang dikonsumsinya, juga karena banyaknya beban pikiran.


Sudah pernah kan melihat Rena tak bisa bernafas saat pertama kali berjumpa dengan mu kemarin?, jika masih menginginkan Rena terus hidup di dunia ini, sebaiknya berpikir ulang untuk menemuinya, biarkan dia menata masa depannya, biarkan dia mencari bahagia yang tak pernah dimilikinya" suara Desi kali ini bergetar.


"Silahkan tinggalkan ruangan ini, pasien saya sudah menunggu" Desi mengusir Varo yang diam membatu. Dia melihat air mata yang menggenang di pelupuk mata Varo.


Varo berjalan keluar dari ruangan dengan langkah gontai, pupus sudah harapannya. Apa yang diucapkan dokter Desi benar. Bagaimana iya bisa menemui Rena, terlalu banyak penderitaan itu, dia sendiri pun tak mampu membayangkan, apalagi Rena yang mengalami.


.


.


.


"Hari itu aku tak pernah menyangka akan mendapatkan pasien dengan keadaan mengenaskan.


Seorang wanita korban kekerasan dibawa masuk kedalam ruangan ku. Tubuhnya kurus dan banyak luka lebam bekas kekerasan.


Yang paling menyakitkan adalah saat ku ketahui wanita itu tengah hamil besar, namun darah segar terus mengalir dari jalan lahirnya.


Setelah memeriksa keadaannya, aku dan beberapa tim dokter yang menangani terpaksa harus memilih mengoperasi wanita itu secepatnya untuk mengeluarkan janin di kandungannya yang telah meninggal.


Wanita itu awalnya masih tampak kuat dan terus menjaga kesadarannya. Dia memegang tanganku dan memohon untuk menyelamatkan bayinya, karena hanya bayi itulah yang membuatnya ingin tetap hidup.

__ADS_1


Tapi suatu kesalahan membuatku menyesal. Aku memberikan bayi mungil yang masih merah itu ke hadapan Rena. Bayi yang tak lagi bernyawa. Maksud hati ingin membiarkan Rena mencium bayi itu untuk terakhir kali tapi justru ini memancing masalah buruk bagi kesehatannya.


Kondisi Rena memburuk, saat bayi itu dipeluknya tubuhnya kejang dan langsung tak sadarkan diri. Aku lupa kalau kondisi psikologis seorang wanita pasca melahirkan sangat rentan. Aku melakukan kesalahan besar.


Setelah kejadian itu Rena koma hampir dua bulan. Berbagai macam obat obatan tak mampu menyembuhkannya.


Suatu keajaiban datang, saat di sebelah ruangan Rena dirawat ada tangisan bayi yang ibunya baru saja meninggal. Suara bayi itu membuat Rena terbangun. Akhirnya kami memutuskan untuk membiarkan Rena merawat bayi kecil tak berdosa itu. Rena memberinya nama Alif, yang berarti permulaan. Rena ingin memulai semua yang hancur di hidupnya dari awal.


Sebagai seorang dokter seharusnya aku tak boleh melibatkan perasaan dalam bertugas. Tapi entah mengapa, sejak awal aku bertemu Rena hatiku merasa sangat dekat. Aku merasa menemukan kembali adik kecilku yang hilang.


Iya, aku kehilangan adik bayi. Adikku menjadi korban penculikan dan sampai sekarang tidak ditemukan.


Tak hanya aku, saat Rena ku bawa ke yayasan dan bertemu dengan ibu, beliau sangat terharu. Ibu bahkan menangis memeluk Rena dan berkata kalau Rena mirip dengan anaknya yang hilang.


Ah, andai saja benar Rena adikku, aku pasti tak akan membiarkan iya disakiti seperti saat ini. Tapi untuk saat ini, aku akan menganggap nya seperti itu, Rena adikku, adik kecilku yang membutuhkan perlindungan.


Dan akan ku pastikan, laki laki yang ada di masa lalu yang membuatnya hampir gila itu mendapatkan karmanya.


Anak anak di yayasan pun begitu mencintai Rena. Dia memang sangat menyenangkan. Begitu gampang menemukan alasan untuk terus menyayanginya.


Setelah kedatangan Rena dan Alif, kondisi yayasan berubah ceria meskipun dirinya sendiri menyimpan luka.


Gadis itu sangat hebat dalam hal memasak makanan, anak anak yayasan sangat beruntung bisa menikmati hidangan dari seorang Rena yang manis setiap hari"


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2