
Hari berlalu.
Suasana pagi hari di ruangan perawatan Rena.
"Selamat pagi nona Renata" seorang wanita cantik berpakaian dokter menyapa Rena.
"Selamat pagi dokter" Rena membalas sapaan.
"Perkenalkan saya dokter Kiara, saya dokter ahli bedah plastik" Kiara memperkenalkan diri.
Rena mengernyitkan kening. Dia belum memahami apa maksud dokter ini.
"Saya datang kesini, khusus untuk memberikan perawatan terhadap luka anda" dokter Kiara menjelaskan sambil berusaha melihat luka di wajah Rena.
"Saya tidak meminta perawatan ini dokter, maaf saya tidak mungkin bisa membayar anda"Rena menolak.
"Tenanglah. Ini program kami setiap tahun. Rumah sakit menghubungi saya, anda beruntung, terpilih untuk tahun ini" Kiara kembali menjelaskan. Kiara berbohong namun hanyalah Allah, dia dan Varo yang tahu.
"Benarkah?" Rena kembali bingung. Dokter yang menanganinya tak berbicara apapun.
"Iya, tenang saja, nanti aku akan jelaskan program nya, semua penjelasan dan dokumen lengkapnya masih ada di kantor. Aku kesini untuk memastikan sejauh mana kondisi mu" Kiara menjelaskan. Kehangatan cara bicara Kiara membuat Rena nyaman dan tak terintimidasi.
.
.
.
Sementara itu, di ruangan berbeda, Varo sedang mendengarkan penjelasan dari dokter mengenai keadaan sang mama.
Dokter menjelaskan kalau Bu Lidya akan terus ditidurkan dalam jangka waktu yang lama dengan bantuan obat. Karena kerusakan pembuluh darah yang parah.
__ADS_1
Dalam jangka waktu sebulan ke depan, Varo akan memindahkan mamanya itu untuk mendapatkan perawatan lebih intensif di luar negeri.
"Waktu ku sebulan lagi, selanjutnya aku akan pindah ke tempat mama dirawat, aku harus pastikan Rena terlebih dahulu" Varo berdialog dengan dirinya sendiri.
Varo menuju ke ruangan administrasi rumah sakit. Menyelesaikan pembayaran untuk mamanya sekaligus biaya perawatan Rena.
Varo bahkan mendepositkan sejumlah uang untuk cadangan perawatan Rena. Varo sudah berpesan kepada petugas rumah sakit untuk tidak membebankan biaya apapun terhadap Rena. Dia yang akan menanggung semuanya.
Begitu juga dengan Kiara. Varo meminta dokter itu secara khusus dan tentu saja dengan biaya yang tak murah untuk bisa menyembuhkan luka di wajah Rena. Varo melakukan satu persatu hal yang bisa membuat Rena kembali normal.
Saat ini Varo keluar rumah sakit karena janjian bertemu dengan Adam asistennya. Adam mengabarkan kalau dia telah menemukan siapa orang yang menemui ibunya pada hari sebelum sang ibu sakit.
Tak sampai satu jam, Varo sudah sampai di sebuah cafe miliknya di bilangan mewah pusat kota.
Varo melihat rekaman video yang berhasil diambil Adam melalui ponselnya. Di dalam rekaman tersebut, tampak suasana ruang tamu dimana mamanya dan pria itu berbincang.
"Saya membawa orang itu bos, dia ada di mobil, apa mau bertemu bos?" Adam bertanya.
"Bos, ini orangnya, namanya Frans, dia seorang detektif swasta" Adam menjelaskan.
"Maafkan saya pak Varo, saya tidak terlibat kejahatan apapun, kenapa saya disekap?" Frans bertanya dengan panik.
"Tenanglah, kami tidak menyekap mu" Varo berjalan mendekati pria yang ketakutan itu.
"Ceritakan padaku, apa urusanmu dengan Bu Lidya mamaku?" Varo mulai mencari informasi.
"Saya diminta Bu Lidya menyelidiki asal usul seorang wanita bernama Renata" Frans membuka percakapan.
Wajah Varo berubah tegang.
"Lanjutkan" perintahnya.
__ADS_1
"Saya menyampaikan kepada nyonya apa saja informasi yang sudah saya dapatkan, saya menyebut kalau Renata adalah anak angkat keluarga Agung Suwito, dia adalah anak korban penculikan di umurnya masih dua tahun kala itu" Frans mulai bercerita.
Varo merasa harus berbincang lebih lanjut, dia membawa Frans kembali masuk kedalam cafe.
"Adam, tinggalkan kami berdua" perintah Varo saat Frans sudah duduk di hadapannya.
"Lanjutkanlah, jangan sampai ada satu hal pun yang terlewat dari ceritamu" perintah Varo.
"Renata kecil adalah tulang punggung keluarganya. Dia dipaksa mencari uang setiap hari. Tidak diizinkan masuk kedalam rumah kalau tidak membawa uang.
Gadis kecil itu bekerja menjadi tukang cuci piring di warung didekat rumahnya. Bahkan pernah mengamen di pinggir jalan tapi tak lama.
Gadis kecil itu juga mendapatkan pendidikan yang layak berkat kecerdasan otaknya. Dia mendapatkan beasiswa full mulai dari sekolah dasar sampai kuliah.
Jadi intinya secara umum, Renata itu adalah korban dari kejahatan keluarga Agung Suwito" Frans mengakhiri penjelasannya.
Varo diam membeku.
Dulu saat pertama bertemu Rena dia ingat kalau gadis itu sering mengalami luka lebam. Andai saja matanya tak ditutup dendam, pastilah tanda tanda itu disadarinya.
"Benarkah semua keterangan mu ini?" Varo memastikan.
"Iya pak Varo, tak ada yang saya tutup tutupi, semua sudah saya pastikan melalui tetangga sekitar rumah Rena tinggal saat masih kecil. Saya juga menemui teman teman anak jalanan Rena dahulu. Hampir semua orang yang saya temui mengatakan kalau mba Rena itu orang baik" Frans menegaskan.
Varo sebenarnya sudah mendengar semua tentang Rena ini, tapi tak spesifik seperti yang dijelaskan oleh Frans.
"Baiklah, terimakasih atas informasi mu, tolong lanjutkan, cari tahu siapa orang tua kandung Rena" Varo memerintahkan tugas baru untuk Frans.
"Wah, tugas baru ini ya bos, terimakasih, tadinya saya berpikir Anda dan ibu anda adalah orang yang jahat karena menyakiti gadis seperti Renata. Tapi sepertinya pemikiran saya salah" Frans berkata dengan polos.
"Pergilah" Varo kesal mendengar ucapan Frans.
__ADS_1