Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Melepaskan


__ADS_3

Rena telah masuk kedalam ruangan ketua yayasan, sementara Niko menunggu diluar, karena keterbatasan akses, hanya satu orang yang berkepentingan yang diperbolehkan masuk.


Sementara menunggu Rena, Niko kembali turun ke lantai dua tempat tadi dia bertemu dengan Zifa.


Setelah berkeliling cukup jauh, Niko menemukan Zifa yang sedang mempresentasikan sebuah makalah di depan kelas, di hadapan dosen dan puluhan teman sekelasnya.


Pintu ruangan kelas yang sedikit terbuka membuat Niko dapat melihat aktivitas di dalam kelas tersebut.


Niko menatap kagum terpesona melihat cara Zifa berpresentasi. Tampak begitu dewasa dan pintar.


"Aku salah menilai, dia bukanlah gadis kecil manja, dia begitu mengagumkan" tak sadar Niko bergumam sendiri.


Hampir sepuluh menit Niko memperhatikan apa yang dilakukan Zifa di depan kelas, selama itu juga senyum penuh kekaguman terus muncul di bibir pria itu.


Zifa yang telah selesai melakukan presentasi, meminta izin kepada dosennya untuk ke toilet sebentar. Gadis itu tak menyadari kalau ada sepasang mata yang terus memperhatikannya sedari tadi.


"Huftt,,, Alhamdulillah selesai juga" Zifa berdiri di depan toilet di samping kelasnya, posisinya membelakangi Niko.


"Kamu hebat" suara dari seseorang menghentikan kegugupan Zifa.


Zifa memutar arah badannya dan terkejut karena melihat ada Niko yang berdiri di hadapannya saat ini.


"Ngapain kok masih disini?" Zifa bertanya dengan jutek.


"Em itu kebetulan Rena masih berbincang dengan kepala yayasan, jadi aku kesini" Niko diserang rasa gugup mendadak.


"Oh ya tentu saja, karena kak Rena tak ada makanya aku dilirik" ujar Zifa lirih.


"Hei kok kamu jadi begini?" Niko memegang lembut kedua bahu Zifa.

__ADS_1


"Aku kayaknya mau batalin perjanjian, gak usah nunggu waktu dua minggu deh, hari ini juga aku menyerah, kita gak usah menjalin hubungan sembunyi sembunyi lagi, putus aja ya" tak disangka Zifa mampu mengucapkan kalimat ini.


Niko tercekat. Perasaannya tak nyaman saat mendengar ucapan Zifa.


"Ada apa denganmu Zifa?" Niko berusaha mencari penjelasan.


"Aku mulai lelah mengejar" Zifa menjawab dengan rasa sedih tak tertahan.


"Semoga langgeng ya sama kak Rena, ditunggu undangan peresmiannya" tambah Zifa. Gadis itu segera pergi menjauh, masuk kembali kedalam kelas.


Niko menatap tak percaya dengan apa yang baru saja dilakukan Zifa. Gadis yang dulu mengejar cintanya mati matian sekarang justru menyerah dan melepaskannya.


"Kamu ngapain disini?" Rena yang sedari tadi mencari keberadaan Niko bertanya.


"Eh gak ada, tadi mau lihat lihat lokasi sekitar kampus ini" Niko mencari alasan.


Dengan suasana hati yang masih shock, Niko mensejajari langkah Rena, mereka berencana pulang kembali ke rumah sakit.


Didalam mobil, Niko terus diam dan berpikir akan mengambil keputusan.


"Re, kita mampir di coffee shop depan sebentar ya, ada yang mau aku bahas" Niko memutuskan akan menyudahi semuanya.


"Mau bahas apa? gak bisa disini aja sambil jalan? aku takut anak anak nyariin" Rena tampak enggan berduaan dengan Niko.


"Ini sangat penting buatku, aku mohon Re" Niko memaksa namun kali ini begitu lembut.


"Baiklah" Rena akhirnya mengabulkan permintaan Niko.


.

__ADS_1


.


.


"Re, aku tau perasaan mu kepadaku sebenarnya bagaimana, semua ini terpaksa kan?" Niko memulai pembicaraan. Saat ini mereka duduk di bagian pojok coffee shop, jika dilihat dari luar akan tampak layaknya dua orang yang sedang berpacaran mesra.


"Apa setelah beberapa hari ini bersamaku perasaan itu tak berubah?" Niko kembali bertanya.


Rena tak mengerti kemana arah pembicaraan Niko ini, apa yang sedang ingin dibahas Niko sebenarnya.


"Saya rasa sebelum ini sudah pernah ngomong kan pak Niko, tidak usah diulang ulang, takutnya akan saling menyakiti" Rena memulai jawabannya.


"Pak Niko tenang saja, saya bersedia menjalani takdir seperti ini, jika memang ditakdirkan untuk kita berumah tangga, ya sudah, saya akan belajar menjadi istri yang baik untuk anda" kalimat pedas ini keluar begitu saja dari mulut Rena.


Niko diam dan menatap Rena. Pria itu mulai sadar kalau selama ini dia hanya obsesi dan memaksakan kehendaknya saja. Beberapa kali Rena menolaknya, tak sedikitpun Niko sedih, namun kejadian dengan Zifa tadi langsung merasuk ke relung hatinya. Saat Zifa mengakhiri hubungan dengannya, Niko sangat sedih.


"Hufttt, baiklah dengarkan apa yang akan ku ucapkan Re" Niko menghembuskan nafas berat sebelum mengambil keputusan.


"Maafkan atas sikapku selama ini, kekonyolan ku yang memaksa mu menikah dengan ku, aku melepaskan semuanya, melepaskan mu dari ikatan cinta yang tak baik ini, kejarlah cinta sejati mu Re" Niko mengucapkan begitu lancar semua yang mengganjal di hatinya.


Rena yang sedari tadi menunduk dan sibuk mengaduk aduk minuman seketika langsung mengangkat kepala menatap kearah lawan bicaranya.


"Kamu serius?" Rena tak percaya akhirnya dengan semudah ini dirinya terlepas dari cengkraman cinta posesif Niko.


"Iya, kembalilah jadi Rena yang dulu, sahabat sekaligus adikku" Niko menggenggam tangan Rena untuk meyakinkan.


Rena tersenyum lega, kali ini senyuman yang benar benar tulus untuk Niko.


Tak disadari keduanya, sepasang mata sedang menatap mereka penuh kesedihan dari jauh. Varo yang hendak menemui rekan bisnisnya di cafe itu tak jadi masuk karena melihat Niko dan Rena sedang bermesraan. Hatinya hancur berkeping keping melihat Rena tersenyum bahagia untuk Niko.

__ADS_1


__ADS_2