
Pagi hari menjelang.
"Mas Varo mau kemana?" Zifa baru saja hendak menyiapkan sarapan saat menemukan Varo yang telah rapi dengan pakaian serba hitamnya.
"Aku mau ke makam mama" jawab Varo lesu.
"Mas Varo gak kerja?" Zifa kembali bertanya, karena setahunya ini masih hari Jumat, seharusnya Varo bekerja di kantor.
"Aku izin cuti dek, hari Senin masuk lagi, lagian kerjaan di kantor juga lagi gak padat" Varo menjawab sambil mengancingkan lengan kemeja nya.
"Oh ya udah mas, mas aku gak bisa temani, ada kuliah pagi" Zifa memberi alasan.
"Iya tak apa" Varo bergegas pergi.
.
.
__ADS_1
.
Pemakaman Damai Abadi.
Varo menaburkan bunga dan berdoa di makam sang ibu. Setelah meluapkan isi hatinya dengan berbicara di depan makam, hati Varo sedikit lebih tenang.
"Ma, doakan Varo ya ma, doakan aku kuat menata hidupku yang udah tak beraturan ini. Setelah kehilangan Rena, semoga aku mampu menjalani hidup sendirian, dia harapan ku ma, dia yang selama ini membuat ku bersemangat, dan dua hari lagi, dia akan resmi menjadi istri orang" Varo kembali terisak.
Hampir satu jam Varo berada di tempat itu, panas terik matahari memaksanya menyudahi kegiatan di makam itu.
"Varo pamit ya mah" pria itu kembali menaburkan bunga dan berjalan perlahan menjauh dari tempat itu.
Varo bergegas melangkah menuju kearah Rena. Dalam jarak hanya beberapa meter, Varo menghentikan langkahnya. Posisinya saat ini persis di belakang tubuh Rena yang khusyuk berdoa.
Varo dapat membaca nama di batu nisan yang sedang diusap oleh Rena. Makam yang kecil itu menandakan kalau penghuni didalamnya tentulah seorang bayi atau anak kecil. Keringat dingin muncul di dahi Varo. Mungkinkah ini makam bayinya yang telah meninggal, yang tak pernah ingin dibahas oleh Rena.
"Putra bin Alvaro Prasetya" bibir Varo bergetar membaca nama di batu nisan itu. Namanya jelas terpampang sebagai orang tua dari jenazah yang terkubur dibawahnya.
__ADS_1
Konsentrasi Rena terusik karena suara berisik di belakangnya. Dan lebih terkejut lagi saat menemukan Varo yang sedang berdiri menatapnya. Kacamata hitam yang dipakai pria itu tak mampu menyembunyikan tajamnya tatapan Varo kepadanya.
Rena segera berdiri dari posisinya.
"Kak, kak Varo sejak kapan ada disini?" Rena gelisah karena apa yang disembunyikannya akan segera terungkap.
"Apakah ini makamnya?" Varo tak menjawab bahkan memberi pertanyaan baru.
"Maaf aku harus segera pulang" Rena tak ingin membahas dan berniat pergi dari tempat itu.
Varo mencengkeram pergelangan tangan Rena dan menahan kepergian wanita itu.
"Ini makam putraku?" Varo kembali mengeluarkan suara. Kali ini terdengar bergetar akibat menahan rasa haru yang meluap.
Rena merasa tak lagi berguna menyembunyikan semuanya. Perlahan Rena mengangguk, mengakui semuanya.
Tubuh Varo kian gemetar. Dia mendekati makam dan memeluk pusara di depannya.
__ADS_1
"Maafkan papa nak" kalimat pendek itu mampu membuat Rena yang mendengarnya merasa semakin sedih.
Varo menangis tergugu, airmata yang deras tak henti mengalir di pipi Varo. Rasanya lebih sakit daripada beberapa waktu lalu, saat ia kehilangan sang ibu. Rasa bersalah yang lebih banyak mendominasi. Rasa bersalah karena tak mampu menghadirkan bayi kecil tak berdosa itu ke muka bumi.