
Rena yang terbiasa membereskan rumah begitu semangat membersihkan setiap sudut di kamar Varo. Sejenak dia lupa dengan masalah yang baru saja menimpanya.
Rena tak menyadari, sepasang mata Varo mengawasi dirinya sedari tadi. Mengawasi dengan tatapan *****.
Piyama seksi yang dipakai itulah penyebabnya. Setiap gerakan yang dilakukan Rena tampak sangat sensual di mata Varo.
"Hufttt" Rena menarik nafas lega, suasana kamar Varo lebih rapi dibanding saat dia datang tadi.
"Kamu kesini buat istirahat, kok malah bersih bersih" Varo memeluk Rena dari belakang dan berbisik di telinganya.
"Gimana mau istirahat kalau kondisinya seperti tadi" balas Rena.
"Makasih ya calon istri, kamu memang bisa diandalkan" ucap Varo sambil mengecup pipi Rena.
"Aku tidur dimana kak?" Rena melepas pelukan Varo yang terasa semakin merambat di gaun tidur tipisnya.
"Disini, bersama aku, kamar cuma ada satu" Varo tak mempedulikan Rena yang sibuk hendak melepas pelukannya, Varo justru semakin mempereratnya.
"Kamu menggoda" bisik Varo lagi.
Rena merinding mendengar nada suara Varo yang terdengar begitu mesum.
"Kak, aku cuci muka dulu ya" Rena berusaha menghindar.
__ADS_1
"Gak usah, aku suka bau asem kamu" Varo terus mengendus leher Rena dengan agresif.
"Kak jangan, aku gak mau" Rena meninggikan nada suaranya, takut dan khawatir bercampur.
Varo melepas pelukan di tubuh Rena.
"Maaf sayang, aku cuma mau peluk kamu, janji gak akan pernah melakukan hal itu lagi sebelum kamu mengizinkan" ucap Varo lembut.
"Iya kak, janji ya, aku gak mau bikin kesalahan seperti itu lagi, sebelum kita sah" tegas Rena.
"Janji sayang" ucap Varo dan kembali memeluk Rena.
.
.
.
Hampir sepuluh menit Varo berbincang di ponselnya sebelum akhirnya dia kembali masuk kedalam kamar.
Varo melihat Rena masih duduk di pinggir ranjang, termenung.
"Sayang, kok belum tidur? udah tengah malam" Varo ikut duduk di sebelah Rena.
__ADS_1
"Ini beneran cuma ada satu ranjang kak?" Rena ragu ragu.
"Iya, nanti aku tidur di situ" Varo menunjuk sofa di pojok kamar.
"Kak, siapa ya yang kirim ular ular tadi ke kios aku?" Rena kembali mengingat kejadian menakutkan yang dialaminya.
"Aku akan cari tahu, kamu tenanglah, untuk sementara kamu aman disini, dan besok gak perlu buka warung dulu, kamu harus istirahat" perintah Varo.
"Jahat banget sih yang mau nyakitin aku, se benci itukah sama aku, padahal aku gak pernah jahat" Rena ngomong sendiri.
"Iya sayang, kamu gak pantas di jahatin, pantasnya disayang" Varo merasa tersindir.
"Boleh aku peluk sekali lagi, sebelum tidur?" Varo bertanya menggoda Rena.
"Iya sini" Rena membentangkan tangannya lebar menyambut pelukan Varo.
Pria itu menghirup nafas dalam, info yang baru saja didapatnya dari Adam membuat hatinya gelisah.
Ya, panggilan telepon yang baru saja dijawab oleh Varo tadi ternyata dari Adam, asisten kepercayaannya.
Varo memerintahkan Adam mencari tahu siapa pelaku sabotase yang memasukkan ular ke kamar Rena. Dan memang tak butuh waktu lama bagi Adam. Karena satu satunya orang yang sangat membenci Rena adalah Bu Lidya, calon mertua Rena.
Dalam waktu kurang dari dua jam, Adam dapat menemukan orang suruhan Bu Lidya. Orang tersebut mengakui kalau Bu Lidya membayarnya dengan harga tinggi untuk mensabotase warung Rena.
__ADS_1
"Mama benar benar sudah sangat membahayakan Rena, aku gak bisa diam, aku akan bertindak" Varo menguatkan hatinya. Masih dengan Rena dalam pelukannya.