
"Aku aja yang nyetir" Zifa merebut kunci mobil dari tangan Varo dan mengambil keputusan. Melihat Varo yang linglung Zifa khawatir mereka akan berakhir dengan kecelakaan jalan raya kalau mobil dikemudikan olehnya.
Varo diam, dia masuk ke kursi penumpang di sebelah kiri sopir. Tangannya tak henti bergerak, entah itu merapikan rambut, mengusap wajah bahkan mengetuk ngetuk dashboard mobil. Sungguh sangat terlihat gugup sekali.
Zifa menoleh kearah Varo. Ide jahil kembali melintasi pikirannya untuk menggoda Varo.
"Siap mas?" Zifa bertanya.
Varo hanya mengangguk linglung.
"Nanti kuat ya mas, jangan sampai nangis, malu ada banyak tamu lain" ucap Zifa tega.
Varo diam, menyandarkan kepalanya di sandaran kursi dan memejamkan mata.
"Kasihannya kamu mas Varo" ucap hati Zifa. Namun bukannya prihatin, gadis itu malah semakin bersemangat memanas manasi.
"Duh gak sabar melihat kak Rena bersanding sama suaminya, pasti romantis banget ya, ah mereka bulan madu kemana ya mas?" ucap Zifa usil.
Varo membuka matanya yang tadi terpejam. Menatap tajam kearah Zifa, menunjukkan ketidaksukaannya terhadap ucapan Zifa barusan.
"Sstttt, berisik. Diam dan konsentrasi menyetir" Varo menghentikan ocehan Zifa dengan kejam.
Zifa cekikikan tertahan karena melihat wajah kesal Varo.
Hampir satu jam perjalanan ditempuh di tengah kemacetan hari libur. Zifa memarkirkan mobilnya di parkiran khusus tamu yang disediakan tuan rumah.
"Mas Varo, ayo" Zifa setengah memaksa Varo yang tampak tak berniat turun dari mobil.
__ADS_1
"Duh y Allah, ini kah waktunya, kuatkan hamba ya Allah" Varo terus bergumam didalam hati.
"Ayo mas" Zifa menarik narik tangan Varo agar segera turun dari mobil.
Varo menyerah dengan rengekan Zifa yang terus menerornya. Perlahan ia melangkah, berjalan beriringan dengan Zifa masuk menuju ruangan resepsi.
.
.
.
Tema akad nikah Aulia dan Aldi adalah kekeluargaan, hangat dan eksklusif. Tak terlalu banyak tamu undangan yang hadir, hanya keluarga terdekat saja yang ada di ruangan tersebut.
Varo terus menunduk menatap sepatunya, entah sejak kapan benda itu menjadi lebih menarik dibanding yang lain di ruangan itu.
Karena terlalu gugup, Varo tak sadar kalau tak ada satupun keluarga Rena di tempat itu. Pikirannya tertutup oleh kesedihan, bahkan untuk sekedar mengangkat kepalanya saja Varo tak sanggup.
Zifa menyikut lengan Varo saat tiga orang gadis cantik berpakaian serba putih turun dari tangga lantai dua. Dua orang dari mereka adalah Rena dan Aulia. Rena mengapit Aulia disebelah kanan, dan satu orang lagi, sepupu Aulia mengapitnya di sebelah kiri.
Varo terkesima melihat kecantikan paripurna dari Rena. Wanita pujaan hatinya itu begitu anggun menuruni satu persatu anak tangga. Dandanan Rena begitu sempurna bak seorang putri, begitu juga gaun yang dikenakannya. Semua itu membuat Varo membeku dan tak bisa berhenti menatap Rena untuk beberapa saat.
"Sstttt, mas itu pengantin orang jangan dipandangi" goda Zifa dengan jahil.
Varo tersentak. Ucapan Zifa menyadarkannya. Varo segera memalingkan wajah dan kembali menunduk.
Zifa setengah mati menahan hasrat ingin tertawanya. Ekspresi wajah Varo begitu lucu dan menyedihkan.
__ADS_1
.
.
.
"Saya terima nikah dan kawinnya Aulia Putri binti bla bla bla dengan mas kawin bla bla bla" proses akad nikah berjalan lancar dengan diiringi teriakan khas dari para tamu undangan.
"SAH"
Dengan begitu artinya sudah sah Aulia dan Aldi menjadi pasangan suami istri.
Semua orang di ruangan itu berbahagia, namun tidak dengan Varo. Karena saking tak ingin menerima kenyataannya, Varo tak mendengar nama siapa yang disebut di ijab kabul. Varo sibuk dengan pikirannya sendiri, hingga saat semua orang berteriak sah, Varo meneteskan air mata putus asa.
"Mas" panggilan Zifa membuyarkan lamunan Varo.
Varo mengusap air matanya yang tak sempat dicegah. Dia tak ingin Zifa melihat betapa hancurnya dia saat ini.
"Kok masih sedih mas? pasti tadi gak lihat ya prosesi akad nikah" Zifa berkata dengan senyum senyum penuh arti.
Varo mengangguk. Rasanya dia ingin segera pergi dari tempat itu.
"Nih lihat" Zifa memperlihatkan rekaman akad nikah yang baru saja berjalan.
"Apaan sih kamu" Varo terpancing emosi. Zifa tampak sengaja mengoyak hatinya yang sudah sangat luka.
Varo menepis tangan Zifa yang masih menahannya. Ruangan itu sudah terlalu pengap untuknya, Varo memutuskan untuk segera pergi, pergi menjauh sejauh jauhnya.
__ADS_1