Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Siapa Zifa?


__ADS_3

"Assalamualaikum" suara serak khas Varo mengiringi langkahnya masuk kedalam rumah orangtuanya.


Rumah ini adalah tempat dimana dia menghabiskan masa kecil bersama kedua orangtuanya. Namun sejak lulus kuliah, Varo memilih mandiri dan membeli satu unit apartemen mewah di pusat kota. Tentu saja dengan uang hasil gajinya sendiri.


"Waalaikumsalam" seorang gadis manis menyambut kedatangan Varo.


"Woiiii tuan muda kembali, kok gak ngabarin" gadis itu menyapa dengan akrab.


Gadis itu bernama Zifa. Dia adalah adik sepupu Varo yang sangat dekat dengan keluarganya. Karena Varo anak tunggal, Zifa sering dititipkan ke mama Varo. Bu Lidya pun sudah menganggap Zifa anaknya sendiri. Gadis itu bebas melakukan apapun layaknya Varo dirumah ini.


Varo memeluk adik sepupunya itu. Lama sekali mereka tak berjumpa. Gadis itu tumbuh menjadi anak yang manis.


"Mama mana dek?" tanya Varo kepada Zifa.


"Tante sekarang sibuk mas, ini aja udah gak dirumah dua hari, katanya lagi ada misi penting" Zifa menjelaskan.


"Emang Tante gak tau ya mas balik ke Indonesia?" Zifa bingung.


"Enggak dek, mas pulang mendadak, mama gak tau" jawab Varo.

__ADS_1


"Hmmm komunikasi yang buruk antara ibu dan anak" ejek Zifa cuek.


Varo hanya melayangkan senyum tipis. Apa yang diucapkan Zifa memang benar. Komunikasinya dengan sang mama memburuk sejak pernikahannya yang gagal, terlebih lagi soal masalah perjodohan yang selalu dibahas mamanya, membuat Varo lelah dan menjauh.


"Gue lagi mau pesan makanan nih, loe mau gak mas gue pesan sekalian?" Zifa menawarkan.


"Ini makanan lagi viral lo, enak banget, review nya bagus bagus, terus makanan ini diproduksi di sebuah yayasan perlindungan korban kekerasan gitu mas" celoteh Zifa.


"Gak berubah ya kamu, masih gembul aja mikirin makanan terus" Varo mengacak acak rambut adiknya itu.


"Ih gue serius mas, cobain deh, pasti ketagihan" Zifa terus mempengaruhi.


"Dimsum mas, tapi yang ini beda, pakai kuah spesial" Zifa terus mempromosikan.


Varo tersenyum. Dia kembali mengingat Rena. Gadis itu selalu menyukai dimsum.


"Dimsum itu enaknya dimakan pakai kuah yang spesial, bersama orang yang spesial" ucapan Rena kala itu kembali terngiang ngiang oleh Varo.


"Ya udah, aku mau, dimsum spesial meski tanpa orang yang spesial" ujar Varo reflek.

__ADS_1


"Huekkk, puitis ya mas loe sekarang" lagi lagi Zifa mengejek Varo.


Mereka tertawa riang, sebelum akhirnya Varo pamit masuk ke kamarnya, dia ingin mandi dan menyegarkan diri sebelum mamanya pulang.


"Astaga Zifa, loe apain kamar gue" Varo kaget dengan kondisi kamarnya yang sudah berubah drastis.


"Hehe, ya maaf, siapa suruh loe berkelana gak pulang pulang lama banget, jadi sekarang kamar ini udah gue ambil alih" jawab Zifa santai.


Varo menggeleng geleng kan kepalanya melihat kondisi kamarnya saat ini.


Cat dinding berwarna pink dengan banyak hiasan hiasan poster boyband asal Korea. Belum lagi printilan lampu hias, boneka dan berbagai jenis aksesoris lainnya.


"Gue walaupun gak pulang pulang tapi masih tercatat di kartu keluarga disini. Loe seenaknya aja ambil alih lahan gue" Varo menyentil jidat Zifa.


"Yeiii salah sendiri, harusnya tuh loe udah punya kartu keluarga sendiri" Zifa lagi lagi mengejek Varo.


"Iya tunggu bentar lagi, gue pulang juga karena mau jemput istri gue, awas loe ya" Varo berlalu ke kamar tamu dengan kesal.


"Hahaha, dasar jomblo baperan" Zifa masih sempat mengejek Varo sebelum pria itu membanting pintu masuk kedalam kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2