Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Rena dan Niko jadian


__ADS_3

Pagi hari datang.


Hari ini adalah hari Sabtu, dimana sebagian karyawan di tempat Varo bekerja libur. Namun Varo mendapatkan job tambahan yang mengharuskannya datang.


Setelah berkutat dengan dokumen hampir dua jam lebih akhirnya Varo bisa menarik nafas lega, pekerjaannya selesai.


"Selamat siang pak, ini dokumen yang sudah dipersiapkan untuk pertemuan dengan klien siang ini, silahkan dicek, jika ada kekurangan bisa saya perbaiki langsung" Varo masuk kedalam ruangan Aldi dan berkata sesopan mungkin layaknya bawahan kepada atasan.


Aldi menatap kearah Varo dengan aneh.


"Duduklah, gue cek dulu" Aldi mengambil dokumen dari Varo dan mempelajarinya.


"Oke, kerja bagus, silahkan serahkan ini langsung ke bagian marketing, mereka yang nanti akan mempresentasikan kepada klien" perintah Aldi kepada Varo.


"Serahkan ke Bu Alya, manajer marketing, lu kenal kan?" Aldi menanyakan pertanyaan yang tak seharusnya dijawab oleh Varo.


"Oiya semalam dia chat gue, dia senang dan berterimakasih ke gue karena telah menerima lu kerja disini, dia bilang lu semakin tampan, dan dia optimis bisa kembali merebut hati lu" tutur Aldi.


"Duh, gak bisa lu aja atau orang lain yang disuruh untuk antar ini ke dia, jangan ngerjain gue dong" Varo yang tadi dalam mode resmi kepada Aldi kembali bersikap biasa layaknya teman.


"Hahaha, kenapa? lu takut dekat dengan dia lagi?" Aldi memancing.


"Dia belum menikah lo, cantik, kaya pula" Aldi semakin memanas manasi.


"Dihati gue cuma ada satu wanita, gak bisa buat yang lain" jawab Varo tegas.


"Mungkin saatnya lu buka lembaran baru, semalam Rena dilamar oleh Niko" Aldi sengaja menggantung kalimatnya.


"Apa?" Varo tercekat.

__ADS_1


"Iya, semalam gue lihat sendiri, setelah lu pergi Niko melamar Rena, dan sore ini keputusannya, kalian memang sulit untuk berjodoh, sudahlah ikhlaskan, biarkan Rena dengan Niko dan lu kembali ke Alya" ucap Niko tanpa beban.


Wajah Varo pias, apa yang selama ini dikhawatirkannya terjadi. Niko akhirnya melakukan hal yang paling Varo tak ingin dengar.


"Woi, malah bengong" Aldi tak dapat menahan rasa ingin ketawanya. Varo tampak sangat linglung, mungkin saja dia shock dengan apa yang baru saja disampaikan.


"Apa yang harus gue lakukan? gue gak ingin Rena dimiliki orang lain, tapi dengan kondisi gue saat ini dan dosa gue di masa lalu, gak pantas rasanya gue memaksa Rena" nada suara Varo begitu sendu.


Niko yang tadinya ingin menertawakan Varo malah ikut terbawa suasana dan bersimpati. Ternyata perasaan Varo benar benar sedalam itu kepada Rena, hingga aura kesedihannya sampai ke orang lain.


"Gue tau Rena, dia tak pernah dendam kepada lu, dan gue rasa dia juga masih menyimpan rasa buat lu, temuilah, yakinkan dia" Aldi menasihati Varo.


"Iya, gue masih punya kesempatan untuk meyakinkan Rena, gue akan temui dia sekarang"Varo membulatkan tekad.


"Varo, ingatlah ini kesempatan terakhir buat lu, jangan pernah sia siakan lagi" Aldi sedikit berteriak karena Varo sudah berlari kearah pintu keluar.


.


.


.


Selepas kepergian Varo Aldi menghubungi wanita itu.


"Kapan kamu pulang ke Indonesia? aku ada kejutan buatmu, kejutan yang benar benar kamu inginkan" ujar Aldi.


Seseorang dibalik layar ponsel itu tampak begitu penasaran sekaligus gembira dan menjanjikan akan kembali secepatnya, sebelum akhir bulan.


.

__ADS_1


.


.


Varo sampai dirumah yayasan saat sore hampir usai. Macet parah akibat weekend membuatnya terjebak berjam jam di jalanan.


Varo bergegas masuk kedalam dan menemukan Rena yang sedang duduk di kursi meja makan menyuapi si kecil Alif didepannya.


"Rena" Varo langsung menyapa wanita itu.


"Kak...kak Varo" Rena tampak kikuk dan salah tingkah.


"Re, ada yang ingin aku sampaikan" Varo tak ingin membuang buang waktu.


"Re, apa aku masih boleh meminta kesempatan untuk memperbaiki semuanya?, apa aku masih boleh memiliki cinta darimu?" Varo gerak cepat mengutarakan semuanya kepada Rena.


Rena hanya diam di posisinya dengan wajah murung.


"Rena, aku mohon, beri aku satu kesempatan, bukankah sudah ada janji bahwa kita akan ungkap satu persatu mengenai orangtuamu, dan setelah itu kau akan mempertimbangkan untuk menerima ku kembali? please Re, aku mengorbankan tiga tahun ini untuk meratapi kebodohan ku meninggalkan mu, tolong beri aku kesempatan itu" Varo memohon kepada Rena.


"Wow, pertunjukan drama yang memukau, tapi maaf tuan Alvaro Prasetya yang terhormat, kesempatan anda telah habis, kami akan segera menikah" sebuah suara menyahuti kalimat panjang Varo.


Suara itu milik Niko. Pria itu ternyata berada di area dapur dan melihat semua yang dilakukan Varo.


"Apa maksud anda?" Varo masih tak mau mempercayai.


"Rena dan saya baru saja jadian, kami akan menikah secepatnya" ucap Niko dengan santai.


Varo menggelengkan kepalanya tanda tak percaya.

__ADS_1


"Re, bilang kalau ini semua cuma omong kosong dia saja, ini gak benar kan?" Varo memaksa Rena.


"Maaf kak Varo, apa yang diucapkan pak Niko benar, kami akan segera menikah" Rena menjawab dengan sendu.


__ADS_2