
Setengah jam setelah segala upaya dokter menstabilkan kondisi Bu Lidya, Varo akhirnya harus menerima kenyataan. Satu persatu alat bantu penunjang kehidupan wanita itu dilepaskan dari tubuhnya. Bu Lidya telah pergi, wanita itu tak mampu bertahan, ajal telah menjemputnya.
Varo melihat semua proses yang dilakukan dokter, tubuh yang masih hangat itu perlahan menjadi dingin dan kaku.
.
.
.
Rena dan Kiara sedang bersiap kembali ke tanah air. Urusan Kiara di negara ini sudah selesai dan ia tak bisa mencari alasan lagi untuk berlama lama. Cuti pekerjaannya pun akan segera berakhir, jadi meskipun usahanya belum maksimal untuk mempersatukan Rena dan Varo, dia tetap harus segera menyelesaikan misi itu.
"Re, kita pamitan sebentar sama Varo ya" Kiara meminta izin Rena.
"Iya" Rena menjawab singkat, dia masih terus memasukkan beberapa barang bawaannya kedalam koper.
Berkali kali Kiara mencoba menghubungi lewat ponsel namun Varo tak kunjung mengangkat.
"Re, gak diangkat sama Varo, ya udah kita lanjut aja" Kiara memutuskan.
Di rumah sakit Varo kebingungan mencari Rena, saat ia melihat jam di tangannya, Varo sadar, kemungkinan Rena telah pulang sendiri dan balik ke Indonesia sebentar lagi.
Varo merogoh kantongnya, ia tak menemukan ponselnya. Pria ini memang selalu ceroboh. Tak ada waktu buatnya untuk memikirkan hal kecil seperti handphone, karena jenazah sang ibu harus segera diselesaikan administrasinya.
Varo memutuskan akan membawa pulang jenazah sang ibu ke Indonesia, dimakamkan di tanah kelahirannya berdampingan dengan makam sang ayah.
__ADS_1
Saat semua prosedur telah selesai diurus, Varo menghembuskan nafas kasar. Perjuangannya selesai sudah. Semua yang dipertahankannya telah musnah.
Varo kembali teringat Rena. Saat ini Rena lah orang yang paling dicintai Varo.
"Rena pasti telah kembali ke Indonesia" ucap Varo sendu.
Varo menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Batin dan fisiknya lelah. Hari ini begitu berat untuknya.
"Kak Varo" suara lembut mendekat menyapa Varo yang tengah duduk sendirian di depan kamar jenazah.
Varo terkesiap. Suara Rena, itu adalah suara Rena.
Varo mendongakkan kepala melihat kearah sumber suara dan benar saja, suara itu berasal dari Rena. Rena berada di depannya, Rena tak meninggalkannya sendirian.
"Rena" Varo bangkit dan langsung memeluk tubuh itu. Varo butuh pegangan saat ini. Hanya Rena lah yang bisa memberikan ketenangan kepada Varo.
"Aku turut berdukacita kak" Rena mengucapkan dengan tulus.
Varo semakin mempererat pelukannya. Rena benar benar penyejuk hati.
Kiara yang berdiri di belakang Rena terharu melihat kedua orang itu. Begitu besarnya rasa yang mereka miliki, namun takdir mempermainkan.
Namun saat ini situasi rumit. Kiara dan Rena harus segera ke bandara. Penerbangan yang seharusnya sudah dilakukan sekitar dua jam lalu dimundurkan oleh pihak maskapai karena suatu alasan, karena itulah Kiara masih bisa membawa Rena untuk menemui Varo.
Tujuan awalnya adalah berpamitan, tapi tak disangka saat menanyakan ruangan dimana Bu Lidya dipindahkan Rena dan Kiara diberitahukan oleh petugas rumah sakit kalau Bu Lidya meninggal. Hingga akhirnya sampailah mereka berdua di depan ruangan jenazah.
__ADS_1
"Varo, gue turut berdukacita atas meninggalnya tante" Kiara akhirnya menyapa.
Varo melerai pelukannya karena sadar ada orang lain di tempat itu saat ini.
Varo menatap mata Rena sekilas, "Maaf Re" ucapnya dan kembali menunduk.
"Terimakasih Kiara" Varo menjawab ucapan belasungkawa dari Kiara.
"Jadi apa rencana lu sekarang?" Kiara bertanya. Dia sangat ingin membantu Varo, karena selama ini Varo telah banyak berjasa dalam hidupnya.
"Gue akan bawa jenazah mama balik ke Indonesia, ini masih mengurus proses administrasi" Varo menjelaskan.
"Oh rencana yang bagus" Kiara ikut menyetujui.
"Tapi maaf banget nih, gue dan Rena tak bisa lama, penerbangan kami delay hanya dua jam, dan kami harus segera kembali ke bandara" Kiara menjelaskan.
Varo terdiam, dia sadar tak mungkin menahan kepergian Rena. Meskipun Varo sangat menginginkan Rena menemaninya saat ini, tapi dia bukanlah siapa siapa yang berhak atas Rena.
"Em, Kiara aku sebaiknya tetap disini menemani kak Varo, nanti aku akan beli tiket sendiri untuk pulang, apakah boleh?" Rena tiba tiba memutuskan untuk tetap tinggal.
Varo dan Kiara kompak menatap Rena dengan tatapan tak percaya. Rena bersedia mendampingi Varo? apakah ini naluri sebuah cinta?.
"Rena kamu yakin?" Kiara memastikan. Didalam hatinya dia sangat mendukung keputusan Rena. Rena menunjukkan perasaannya, dia masih peduli dengan Varo.
Rena mengangguk.
__ADS_1
"Karena kak Varo adalah sahabatku, gak mungkin ditinggal sendirian" jawab Rena polos.
Varo kehilangan kata kata, Rena bersedia menemaninya hanya sebagai seorang sahabat.