Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Varo di Indonesia


__ADS_3

Pesawat yang ditumpangi Varo akhirnya mendarat dengan mulus di bandara internasional kebanggaan Indonesia, Soekarno Hatta.


Varo turun dari pesawat, menghirup udara tanah kelahirannya, tempat dimana sang kekasih hati berada meskipun tak tau di belahan tempat yang mana.


"Aul, sampai jumpa lagi ya" Varo masih terus mencoba menyapa Aulia dengan sopan saat mereka kembali berpapasan di pintu keluar bandara.


Aulia tak menjawab sapaan Varo, dia terus melangkah menggeret koper besarnya menuju taxi yang telah menunggu.


Seorang wanita dan seorang anak kecil yang berjalan bersama Aulia kebingungan melihat gadis itu yang memasang muka jutek.


"Kita kemana bos?" Adam menanyakan kemana tujuan Varo pertama.


"Aku mau ke apartemen" ucap Varo tegang. Untuk pertama kali sejak hari perpisahannya dengan Rena, dia akan kembali masuk kedalam apartemen yang penuh kenangan itu.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Varo sampai di gerbang apartemen Star X. Tempat bersejarah dalam hidupnya. Tempat yang menjadi saksi bisu bagaimana cinta tumbuh diantara dia dan Rena.


Dia pernah merasakan kebahagiaan teramat sangat di tempat itu, tapi saat ini, dia kembali untuk mengupas kembali luka yang masih basah.


Varo menghembuskan nafas berat sebelum akhirnya memberanikan diri masuk kedalam lift menuju lantai 11 dimana unitnya berada.


"Tinggggg" pintu lift terbuka. Pintu apartemen milik Varo telah didepan mata. Jantungnya tak henti berpacu, dia seolah mengalami Dejavu. Seolah kembali ke masa lalu, dibalik pintu itu Rena akan menyambut dengan senyuman manis dan pelukan hangat.

__ADS_1


"Bos, are you oke?" Adam mengagetkan Varo yang terus melamun.


Varo menghentikan lamunannya dan memencet password untuk membuka pintu apartemennya itu.


Aroma pengap menyeruak saat pertama kali pintu dibuka. Varo mengedarkan pandangannya. Semua benda masih berada di tempatnya persis seperti saat ditinggalkannya dua tahun lalu.


Setelah Rena keluar dari apartemen karena ucapannya dihari pernikahan waktu itu, Rena memang tak pernah kembali ke tempat ini.


Varo masuk kedalam kamar dan menatap ranjang. Bayangan saat bercinta bersama Rena disana masih terpampang jelas.


Varo terus memegang satu persatu benda yang ada di kamarnya. Benda benda yang juga pernah dipegang Rena.


Pandangannya jatuh ke lemari pakaian. Mata Varo basah saat membuka benda itu. Puluhan baju Rena dengan berbagai macam model masih tergantung dengan rapi disana.


Varo buru buru menutup kembali lemari itu. Ini baru permulaan, dia baru sampai, dia tak ingin semangatnya langsung hilang saat ini. Dia masih membutuhkan tenaga yang banyak untuk mencari tahu keberadaan Rena.


Jika hanya dengan selembar baju milik Rena saja Varo bisa begitu takut, bagaimana nanti saat takdir benar benar mempertemukan mereka. Varo tak berani membayangkan apa yang akan dilakukan Rena kepadanya. Varo yakin Rena pasti sangat membencinya.


"Bos, apa yang harus saya lakukan?, siap menunggu perintah" Adam kembali menyapa Varo yang terus menerus melamun.


"Pergilah, temui dulu keluargamu, biarkan malam ini aku sendiri" Varo memberi perintah.


"Baik bos, saya pamit, jika ada yang anda butuhkan, saya siap kapan saja" Adam berlalu dan meninggalkan Varo sendirian.

__ADS_1


Sepeninggal Adam, Varo membersihkan diri dan berganti pakaian. Dia tak berniat kemana mana malam ini, dia akan menikmati sepi dan sendiri di apartemen ini.


.


.


.


Sementara itu, di tempat lain, tepatnya di yayasan tempat Rena berada.


"Malam Rena, gimana kabar kamu" dokter Desi seorang dokter ahli kejiwaan yang sekaligus pemilik utama yayasan menyapa Rena.


"Baik kak Desi" Rena menjawab dengan sopan.


"Kita mulai terapi ya, Rena udah siap?" dokter baik hati yang sudah seperti kakak Rena itu akan melakukan terapi rutin untuk Rena.


Rena akan melakukan hipnoterapi untuk merilekskan syarafnya. Terapi ini sangat berfungsi untuk Rena, untuk menghilangkan semua ketakutannya selama ini.


"Siap kak" jawab Rena pendek.


Mereka pun masuk kedalam sebuah ruangan khusus, disana proses terapi akan dilaksanakan.


Nantinya Rena akan meluapkan semua tekanan dalam hatinya, ketakutan ketakutannya, hingga nanti pelan pelan Rena menjadi kembali normal secara psikologis.

__ADS_1


__ADS_2