
Pemakaman berjalan lancar tanpa halangan apapun. Jasad Nathan telah dikubur didalam tanah dan disaksikan oleh seluruh keluarganya, termasuk Rena.
"Sayang, apa kau lelah?" Varo mengkhawatirkan kondisi Rena yang tampak lelah dan pucat.
Rena menggelengkan kepala. Dia terus menatap gundukan tanah basah yang bertaburan bunga di depannya.
"Sudah waktunya kita pulang, kau harus beristirahat" Varo mengambil keputusan tegas. Tak mungkin ia membiarkan Rena terus melamun didepan makam pria mantan suaminya itu.
"Pak Hitler, kami pulang dulu" Varo yang menggandeng Rena, berpamitan kepada pengacara Hitler yang berada di sebelahnya.
"Umur gak ada yang tau ya kak, rasanya baru kemarin aku menyumpahi dan sangat membencinya, sekarang ia benar benar telah tiada" Rena berbicara kepada Varo saat berada didalam mobil.
"Semua sudah ada takdirnya masing masing. Sekarang waktunya kita menata masa depan yang indah, semua masa lalu yang buruk itu telah pergi" Varo mengusap lembut kepala Rena yang tertutup hijab.
"Masih ada satu lagi kak, aku yakin kebahagiaan kita tak akan sempurna sebelum masalah yang satu ini diselesaikan" Rena berkata dengan tatapan lurus ke depan.
"Temui Alya, selesaikan semua masalah itu, beri apa yang dia mau kak" Rena mengeluarkan kalimat yang membuat Varo terkejut. Pria itu tak menyangka akan mendapat perkataan seperti itu dari istrinya.
"Sayang, sepertinya kau lelah, istirahat dulu saja, aku tak mau membahasnya" Varo terpancing emosi.
__ADS_1
Rena diam membisu mendengar penolakan Varo. Pengaruh hormon kehamilan begitu kuat menguasainya hari ini. Rena masuk dalam mode melankolis, hatinya saat ini begitu sendu diliputi kegundahan yang ia sendiri tak tau apa penyebabnya.
.
.
.
Varo dan Rena baru saja memasuki gerbang perumahan mereka. Rencananya hari ini Varo akan membawa Rena menginap di rumah utama miliknya, namun sebuah kabar mengejutkan merubah rencana itu.
"Mas Varo, kak Alya masuk rumah sakit, ia mencoba bunuh diri" panggilan masuk dari Zifa membuat Varo shock.
Rena mengangguk seolah memberikan kode sepemikiran dengan Varo. Mobil yang dikemudikannya memutar arah menuju rumah sakit yang disebutkan Zifa.
Tak menunggu lama, Varo dan Rena sudah sampai di depan kamar perawatan VIP tempat Alya dirawat. Sungguh hari ini hari yang melelahkan. Terutama bagi Rena yang dalam kondisi hamil muda harus wara wiri di rumah sakit sedari pagi.
"Kak, masuklah temui dia, aku tunggu disini" Rena memberi perintah yang menurut Varo sangat aneh.
"Sayang, aku hanya akan masuk kalau kami ikut bersamaku" Varo tak ingin terlibat dalam fitnah selanjutnya jika hanya berdua dengan Alya.
__ADS_1
"Aku capek, mau istirahat sebentar disini" Rena memberi senyuman tipis seolah ia menganggap biasa saja saat meminta Varo menemui mantan kekasihnya
"Alya saat ini pasti hanya ingin menemui dirimu, kasihan dia, untuk sementara biarlah aku mengalah" Rena kembali memberikan penjelasan.
Varo mengusap kasar wajahnya, tak percaya dengan permintaan Rena yang tak masuk akal menurutnya. Bagaimana mungkin seorang istri merelakan suaminya menemui wanita lain di hadapannya.
"Sebaiknya kita pulang, kau sepertinya terlalu lelah sayang" Varo berusaha memaksa Rena untuk mengubah permintaannya.
"Tidak kak, temui dulu dia" Rena menepis tangan Varo yang hendak membawanya pulang.
"Aku ingin hidup damai, sebelum bayi ini lahir buatlah dia mengerti akan kekuatan cinta kita" Rena tak mengubah permintaannya.
"Huftt" helaan nafas Varo terasa berat. Rasanya terlalu berat untuk melangkah ke ruangan dimana Alya dirawat dan meninggalkan Rena sendirian di ruang tunggu.
"Berjanjilah kalau kamu akan kuat sayang, aku akan buat Alya menyadari kesalahannya secepat mungkin" Varo mengalah dan memilih mengabulkan permintaan Rena.
"Tunggulah disini, aku tak akan lama" Varo berjalan menuju pintu masuk ruang perawatan Alya.
Tangis Rena pecah saat melihat Varo perlahan menghilang dibalik tembok.
__ADS_1
Dia takut tindakannya saat ini adalah tindakan yang salah. Dia takut Varo benar benar akan bersama Alya saat nanti keluar dari pintu itu. Tapi perasaan kasihan kepada Alya yang sedang menanggung sendiri kehamilannya membuat Rena berusaha tegar. Dia memilih mundur selangkah untuk maju seribu langkah nantinya