
Rena saat ini sedang berada di ruangan rektor kampus tempatnya kuliah. Tangannya gemetaran saat menerima surat keputusan kalau dirinya dikeluarkan dari kampus kebanggaannya tersebut.
Permintaan maaf dan permohonan dispensasi yang diucapkan Rena berkali kali seolah tak mempan buat para petinggi kampus itu. Mereka tak bergeming, keputusan sudah bulat, beasiswa Rena dicabut dan dikeluarkan dari kampus.
Rena melangkah gontai keluar dari gerbang kampusnya. Kali ini dia semakin hancur. Cita citanya yang tinggi dan hidup mandiri dengan sukses di masa depan pupus sudah. Apalagi yang bisa dibanggakan darinya. Gadis miskin, tak berpendidikan, tak memiliki harga diri pula.
Drtttt....drtttt....
Ponsel di tas Rena kembali berdering.
"Siang kak Varo" Rena menjawab sapaan dari video call Varo.
Pria itu memang sengaja melakukan panggilan video untuk menikmati seberapa hancurnya Rena saat ini.
Rena menampilkan senyum tipis meski hatinya hancur. Varo sudah sangat tahu dengan sikap sok tegar Rena yang satu ini.
"Ada yang mau diceritakan? ayo makan siang bersama" Varo mengajak Rena bertemu.
"Kak Varo udah gak sibuk?" tanya Rena.
"Sebenarnya masih ada kerjaan, tapi aku pengen ketemu kamu, rindu" ucap Varo.
"Kamu dimana sekarang, aku jemput".
"Didepan kampus kak" jawab Rena.
"Tunggu disana, aku berangkat sekarang" jarak antara kantor Varo dan kampus Rena tak jauh. hingga menunggu sebentar takkan menjadi masalah bagi keduanya.
.
__ADS_1
.
.
"Aku rindu" Varo yang baru turun dari mobilnya langsung memeluk Rena dan mencium dahinya dengan sayang.
Apa yang dikatakan Varo memang benar, dia gelisah menahan rindu kepada Rena. Dia tak bisa berkonsentrasi bekerja.
"Kak, malu dilihat orang" Rena tak menyangka Varo akan memeluknya di tengah keramaian seperti saat ini.
"Ya udah, ayo ke mobil" Varo menggenggam tangan Rena dan membukakan pintu mobil untuk gadis itu.
Varo mengajak Rena ke apartemen, sebelumnya mereka memesan makanan lewat aplikasi online. Varo ingin menghabiskan waktu berdua dengan Rena lagi hari ini. Gadis itu membuatnya mabuk kecanduan.
"Ini apartemen milik kak Varo?" Rena terpukau dengan keindahan interior didalam apartemen mewah tersebut.
"Bagus sekali kak, mewah semua barang barangnya" ucap Rena terkagum kagum.
"Kakak orang kaya ya?" tanya Rena polos.
"Aku baru sadar, aku gak tau sama sekali kehidupan kak Varo. Aku gak tau siapa orang tua kak Varo, aku gak tau kak Varo sebenarnya siapa" Rena yang suasana hatinya sedang buruk melampiaskan kepada Varo.
Varo hanya diam membiarkan Rena terus mengomel. Dia menatap dalam seolah ingin menerkam mangsa di hadapannya.
"Sudah selesai ngomelnya nyonya Varo?" akhirnya pria itu memulai pembicaraan setelah Rena diam.
"Kenapa harus pakai nada tinggi sih, aku ngajakin kesini karena mau memulai mengenalkan diriku kepadamu. Tapi malah dimarah marahin" Varo merajuk. Wajahnya dibuat seolah-olah sangat sedih.
"Ini foto orangtua ku, mereka masih berada di luar negeri. Aku tinggal sendiri di apartemen ini karena ingin hidup mandiri, keluarga ku tinggal didaerah bagian selatan" Varo menjelaskan detail, namun berbumbu bohong.
__ADS_1
Rena melihat sekilas wajah kedua orang tua Varo. Gadis itu punya ingatan lemah tentang mengingat wajah orang. Karena itu dia mencoba merekam lama dalam ingatannya wajah calon mertuanya ini, takut sewaktu waktu jumpa dijalan dan tak mengenali.
"Gimana tuan putri? masih mau marah lagi" Varo kembali menunjukkan kepada Rena kalau dia sedih dimarahi.
"Iya maaf kak, tadi gak sengaja marah marah" Rena yang masih duduk di pangkuan Varo mengalungkan lengannya ke leher Varo.
"Terus cuma minta maaf? gak mau" ide mesum muncul di otak Varo.
"Mana tadi bibir yang menuduh aku seenaknya?" akting Varo.
"Ini" Rena memasang wajah menggoda.
Varo langsung ******* bibir yang membuatnya candu itu. Menyesap dan terus ******* tanpa ampun.
"Emphh...emphhhh" Rena gelagapan.
"Awww" Varo menjerit, Rena menggigit bibirnya hingga dia kesakitan.
"Kak Varo nakal, aku gak bisa nafas" rengek Rena manja.
"Salah sendiri, ini begitu nikmat, aku gak bisa tahan" Varo mengusap lembut bibir Rena.
"Tinggal disini bersamaku malam ini ya" nada suara Varo serak menahan *****.
"Jangan kak, kita belum resmi" tolak Rena.
"Tapi aku sangat menginginkan mu sayang" Varo menempelkan bibirnya ke ceruk leher Rena. Mengendus leher indah itu, berharap sedikit bisa melampiaskan tegangan di tubuhnya.
"Nikahi aku kak, setelah itu silahkan lakukan apa saja" tegas Rena. Gadis itu mulai tak nyaman dengan pelukan Varo. Bila diteruskan bisa jadi dia akan menerkam pria itu sebentar lagi. Badannya mulai panas dingin tak bisa menahan.
__ADS_1