Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Rasa iba


__ADS_3

Varo berjalan di belakang Rena dan Kiara. Dia lebih tampak seperti pengawal kedua gadis itu.


Varo tersenyum senang melihat cara berjalan Rena yang sekarang, tampak lebih stabil dan tak lagi menyeret sebelah kakinya, meski masih belum pulih seratus persen.


"Pak Varo tinggal dimana?" Kiara memancing percakapan. Dokter cantik itu gregetan sendiri melihat dua orang yang sedang bersamanya ini terus diam dan membuat suasana menjadi kaku.


"Tak jauh dari sini, rumah tempat dulu saya dibesarkan" Varo menjawab.


Rena kembali teringat, Varo memang selalu bercerita masa kecilnya yang indah di negara ini. Rena tak menyangka jika ternyata posisi hotelnya berada di sekitar rumah masa kecil Varo itu.


"Eh pak, ngapain di belakang sih jalannya, susah nengok nya, itu sebelahnya Rena kosong" Kiara menyindir.


"Tak apa, saya takut membuat nona Rena tak nyaman, saya hanya berniat mengawal sampai kalian aman tiba di hotel" ucap Varo lirih.


Rena hanya diam tak menanggapi obrolan kedua orang itu.


Dan tak menunggu lama, Varo, Rena dan Kiara telah sampai di depan lobby hotel yang mereka tempati.


"Mau mampir pak" Kiara ber basa basi.


"Terimakasih, sudah malam, saya pamit" Varo bergegas pergi sebelum keinginannya untuk menahan Rena muncul.


Rena memandang tubuh Varo yang perlahan hilang menjauh. Ada rasa iba di hati Rena melihat Varo yang sekarang. Pria yang dulu sangat dicintainya itu tampak lebih kurus dan tak terurus. Varo juga lebih banyak menunduk. Dan yang lebih memprihatinkan saat Rena melihat Varo mencuci tumpukan piring yang banyak sendirian. Seorang pangeran yang biasa hidup mewah mengapa sekarang menjadi pelayan. Batin Rena bertanya tanya.


"Aku heran Re, gak cocok ya cowok setampan itu jadi pelayan di coffee shop kecil sederhana kayak tadi" Kiara mulai memancing.


"Kalo dilihat dari penampilannya dia kayak orang kaya ya kan, apa mungkin dia bangkrut?" Kiara terus mengipasi.

__ADS_1


"Eh aku baru ingat, dia kan dulu seorang selebriti chef juga di Indonesia, terkenal, kaya raya, anaknya pengusaha ternama Bimo Prasetya" Kiara terus bercerita hingga pintu lift yang mereka gunakan sudah terbuka dan mereka sampai di kamar.


"Bimo Prasetya" Rena merasa sering mendengar nama itu. Dia mengingat ingat apa yang berhubungan dengan nama itu, tapi memang dari dulu kelemahan Rena adalah pelupa. Dia sangat susah menghafal nama dan wajah orang.


.


.


.


Sementara itu di yayasan xxx Jakarta, Zifa kembali bertamu untuk menemui Rena dan anak anak. Gadis itu telah jatuh hati dengan suasana kekeluargaan yang terjalin dan juga kenyamanan.


"Assalamualaikum" suara cempreng Zifa mengucapkan salam. Kedatangannya disambut oleh anak anak yang kebetulan sedang bermain bersama.


"Kak Zifa" anak anak berebut memeluknya.


"Kakak bawa es krim, mainan dan baju baru untuk semuanya" Zifa memberi kabar bahagia buat mereka.


"Yeiii, terimakasih kak Zifa" anak anak kembali memeluk gadis kecil mungil itu.


"Kak Rena mana?" Zifa bertanya kepada seorang bocah yang masih sibuk membongkar kadonya.


"Kak Rena pergi keluar negeri" jawab bocah itu santai.


"Wah, kak Zifa ketinggalan nih, kapan berangkatnya?" Zifa kembali bertanya.


"Kemarin sore" anak kecil itu kembali menjawab.

__ADS_1


"Ke luar negeri nya kemana dek?" Zifa masih terus bertanya.


"Ke Australia" jawab anak anak serempak.


"Apa? Australia? mas Varo harus tau nih" pikiran Zifa langsung tertuju kepada Varo.


Segera gadis itu mengambil ponselnya dan menelpon ke nomor Varo. Namun sayang, tak diangkat meski sudah beberapa kali dicoba.


"Ah mas Varo nih, ada kabar heboh gini dia malah gak angkat telepon" Zifa menggerutu sendiri.


"Dek kak Zifa haus, boleh minta minum gak?" gadis itu kembali mengajak anak anak di sekitarnya mengobrol.


"Boleh kak, itu ada di dapur, kakak ambil sendiri ya" anak itu tetap sibuk dengan mainan di tangannya.


"Huft dasar bocah" Zifa mengacak acak rambut anak itu pertanda gemas.


Saat Zifa sedang minum, sebuah suara dari depan mengucapkan salam.


"Assalamualaikum adek adek" suara seorang laki laki didengar Zifa.


"Om Niko" anak anak bersorak kegirangan.


"Om niko?" Zifa mengulang nama yang disebut anak anak.


Dan saat Zifa melangkah keluar menemui tamu yang datang, kadar kenorakan nya meningkat, Zifa ikut berteriak histeris layaknya bocah.


"Om ganteng" teriak gadis itu histeris.

__ADS_1


__ADS_2