
"Maaf Re, aku mendadak harus menyelesaikan laporan hari ini juga. Aku terpaksa batal mengajak kamu jalan hari ini, maaf banget ya Re" Kiara menjawab panggilan telepon dari Rena dengan berpura pura panik.
Saat tadi dia menerima telepon dari Varo, bibirnya mengembangkan senyuman lebar. Dia yakin saat ini Rena sedang bersama Varo. Rencananya untuk membuat kedua orang itu jalan berdua akhirnya berhasil.
"Yah kamu, aku udah di taman nih" Rena protes.
"Maaf ya cantik" Kiara membujuk.
"Ya udah, mau gimana lagi, aku balik aja" Rena memaafkan Kiara.
Rena berjalan mendekat kearah Varo, dan mengembalikan ponsel yang tadi dipinjamnya.
"Makasih kak, Kiara gak jadi datang, aku balik dulu ya" Rena berkata sembari memberikan ponsel milik Varo.
"Re, sebentar disini dulu menikmati pemandangan alam" Varo membujuk.
"Maaf kak, aku balik aja" Rena mulai tak nyaman.
Varo berdiri dari duduknya dan mendekati Rena.
"Sejak kejadian itu, kita belum pernah berbicara berdua secara langsung, Rena mungkin ini saat yang tepat, mari kita selesaikan semua yang mengganjal di hati" Varo berbicara dengan menatap dalam kepada Rena.
"Bicara apa kak?, semuanya sudah jelas, bukankah semuanya sudah selesai" Rena mulai mengalah.
"Apa yang kamu tahu selama ini, yang ku ucapkan saat itu bahwa aku tak mencintaimu itu salah Rena. Aku sangat sangat mencintaimu. Keadaan memaksa ku untuk harus meninggalkanmu" Varo menahan emosinya.
__ADS_1
"Duduklah Re, kita bicara, aku mohon sekali ini saja, dengarkan semua penjelasan ku, dan jika memang tak bisa dimaafkan, aku ikhlas melepas mu" nada suara Varo bergetar.
Rena kali ini benar benar mengalah, dia lelah jika harus terus menerus didesak Varo untuk mendengar alasannya.
"Ok kak, kita bicarakan, tapi setelah ini berjanjilah tidak akan mengungkit masa lalu lagi" pungkas Rena.
Varo menarik nafas lega karena akhirnya Rena luluh, dan menuntun gadis itu duduk di sampingnya.
.
.
.
"Rena, apa kau tau siapa aku sebenarnya?" Varo memulai percakapan.
Rena menggeleng, dia tak tau.
"Ayahku adalah orang yang dibunuh oleh seorang pria bernama Agung Suwito" Varo kembali melanjutkan.
Rena terkesiap. Pantas saja nama Bimo Prasetya merasa pernah sangat familiar di telinganya, ingatannya kembali.
"Awalnya inilah yang menjadi niat ku untuk mendekati mu, ingin membalas dendam, ingin membuat keluarga mu menderita seperti apa yang keluargaku rasakan" suara Varo kali ini terdengar bergetar.
Rena terus mendengarkan semua cerita Varo dalam diam. Sakit rasanya mendengar semua penjelasan langsung keluar dari mulut Varo.
__ADS_1
"Seiring berjalannya waktu, rasa cinta itu tak bisa ku hindari, kau berhasil membuat ku jatuh cinta, aku berusaha membujuk mama untuk mengakhiri semuanya, aku benar benar ingin menikahimu karena cinta, tapi mama mengancam akan bunuh diri jika pernikahan itu terjadi" Varo berkata sejujur jujurnya.
Rena berusaha keras menahan air matanya yang hendak tumpah. Perih sekali hatinya mendengar semua pengakuan Varo.
"Sudah puaskah sekarang? atau masih mau melanjutkan dendam itu?, mumpung aku masih hidup kak, jika masih ingin melampiaskan semuanya lakukanlah" tangis Rena akhirnya pecah.
"Tahukah kamu, aku pernah merasa menjadi manusia paling bahagia dan dihargai saat itu. Aku pikir cinta untukku kala itu tulus, aku serahkan segalanya, masa depan bahkan harga diriku. Sekarang aku hanyalah sampah, aku gak punya apapun yang bisa ku banggakan. Kehidupan yang buruk setelah kepergian mu terus menghantuiku sampai kapanpun" Isak Rena.
"Apa yang kau inginkan sekarang? jika sebuah kata maaf dari mulut, aku bisa melakukannya, tapi memaafkan dari hati itu sangat sulit dan sampai sekarang aku masih belum mampu melakukannya" tambah Rena.
Varo baru saja ingin menjawab Rena, saat ponselnya bergetar.
"Madam Grace" Varo panik karena perawat mamanya menelepon, ini artinya sang ibu dalam keadaan tak baik.
"Rena, tunggu sebentar" Varo menjeda perdebatan mereka. Dia meminta izin untuk mengangkat telepon.
"Tuan Varo segeralah datang, nyonya kritis" suara panik dari seberang telepon membuyarkan konsentrasi Varo.
"Rena maaf aku harus segera pergi, mama kritis" jelas Varo.
Rena terkesiap. Dia masih ingat dengan jelas wajah bu Lidya yang dulu sering menemaninya di yayasan.
"Aku ikut" ujar Rena.
"Ayo cepat" Varo menggenggam tangan Rena dan membawanya berjalan beriringan menuju penitipan skutter.
__ADS_1
Kendaraan itu mereka titipkan sementara disana dan mereka berangkat menuju rumah Varo dengan naik sebuah taksi.