Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Pertemuan dengan Aulia


__ADS_3

Di lain tempat. Varo tengah memeriksa laporan yang dikirim Adam lewat email.


Asistennya itu menjelaskan kalau ada seseorang yang sedang mencarinya. Seorang bapak tua pemilik kios yang dulu dibelinya untuk Rena.


Varo meminta Adam untuk menghubungi nomor telepon yang ditinggalkan oleh bapak itu. Menyuruh Adam mencari tau apa yang diinginkan orang itu hingga sampai menghubunginya lewat email kantor.


.


.


.


"Sayang, apa kabarmu sekarang? dua tahun tak mampu menghapus luka itu, aku masih sangat mencintaimu" Varo mengusap foto Rena yang terbingkai indah di meja kerjanya.


"KLIKKK" pintu ruangan Varo dibuka dari luar.


"Maaf bos, ada berita penting yang harus kita bahas" wajah Adam nampak tegang.


"Ada apa?" Varo yang masih menatap foto Rena tak memalingkan wajahnya.


"Saya sudah menghubungi bapak pemilik kios itu. Dia melaporkan kalau nona Rena tak pernah muncul selama ini, kios yang sudah direnovasi tak pernah ada yang mengurus, bahkan kunci kios itu masih dipegang oleh si bapak" Adam menjelaskan.


Varo mengernyit heran, dia mengusap usap pelipisnya.


Dan untuk memastikan dimana keberadaan nona Rena, kami memeriksa apartemen. Dan ternyata selama dua tahun ini apartemen tidak ada yang menghuni. Kondisi apartemen masih rapi, semua pakaian dan peralatan nona Rena masih ada pada tempatnya. Kemungkinan besar setelah pesta pernikahan itu, Rena tak kembali ke apartemen. Nona Rena menghilang" terang Adam.

__ADS_1


"Arghhh, temukan dia, gak mungkin dia bisa pergi begitu saja, dia tak mandiri, dia tak mungkin bisa sendirian" Varo histeris, emosinya tak terkendali.


"Aku mau pulang ke Indonesia, segera siapkan" perintah Varo kepada Adam.


Varo gelisah dalam hatinya karena semua yang direncanakan tak sesuai dengan keinginannya. Dia berharap Rena bisa hidup dengan harta yang ditinggalkannya. Tapi ternyata Rena pergi meninggalkan semuanya. Saat Varo mengecek saldo tabungan bersama yang diberikan kepada Rena, pria itu tercengang. Uang di tabungan itu tak pernah diambil sedikitpun. Semuanya masih utuh.


.


.


.


Varo saat ini berada dalam pesawat penerbangan khusus menuju Indonesia. Meskipun tanpa memberitahu mamanya, Varo memutuskan untuk pulang. Hatinya gelisah karena terus dihantui perasaan bersalah kepada Rena beberapa hari ini.


Brakkk... Seseorang menabrak Varo.


"Sorry sir i'm..." ucapan itu terputus saat pandangan keduanya bertemu.


"Aulia" Varo menyapa wanita yang baru saja menabraknya didepan pintu toilet.


"Sorry gue gak sengaja" Aulia melengos meninggalkan Varo yang masih mematung.


Varo tersadar dan segera mengejar wanita itu.


Langkah Varo terhenti persis disaat Aulia duduk di kursinya dengan seorang bocah kecil di sampingnya.

__ADS_1


"Aul, bisa bicara sebentar" Varo tak ingin kehilangan kesempatan mencari tau soal Rena.


"Ngomong aja, Gue dengar kok" Aulia menjawab dengan ketus.


"Tante siapa om ini?" bocah kecil yang imut itu bertanya.


"Dinda jangan dekat dekat ya, om itu orang jahat, jangan mau kalau diajak ngobrol" suara Aulia sengaja dibikin kencang agar Varo bisa mendengar sindirannya dengan jelas.


"Glekkk" Varo menelan salivanya. Aulia benar benar frontal menghadapinya.


"Aul, maaf" Varo mengucapkan kata kata itu.


"Mau ngomongin apa?, buruan gue mau tidur nih" Aulia kembali mengucapkan nada ketus.


"Di..dia apa kabar?" Varo tak berani menyebut nama Rena.


Aulia berdiri dari duduknya dengan gemetar menahan emosi.


"Dia sudah gak ada, dia yang anda permainkan udah menghilang gak tau kemana, soal ucapan maaf anda tadi, tidak perlu anda berikan kepada saya, karena wanita yang anda sakiti bukan saya, tapi dia Re Na Ta".


Varo menunduk menahan perih di hatinya. Sakit itu ternyata masih sama. Dua tahun melarikan diri ternyata tak mengubah apapun. Sakit yang dirasakannya masih seperti dulu.


"Tolong kembali ke tempat anda, jangan merusak mood saya" Aulia mengusir Varo dengan kasar.


Adam yang memperhatikan dari jauh perdebatan antara dua orang itu hanya bisa diam tak berkomentar apapun. Dalam hatinya iya membenarkan apa yang diucapkan oleh Aulia. Varo pantas mendapatkan perlakuan itu. Varo pantas dihukum.

__ADS_1


__ADS_2