Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Masakan Rena juara


__ADS_3

Hari hari berlalu, warung Rena sudah mendapatkan popularitas di kalangan kuli bangunan. Meskipun keuntungan yang didapat Rena naik turun, tapi dia sangat bersyukur sekali dagangannya selalu habis tak bersisa.


Hari ini sudah seminggu berlalu dari awal kedatangan chef Bayu. Itu artinya hari ini adalah hari terakhir chef Bayu membantu Rena di warung.


"Makasih ya Chef, Rena benar benar sangat terbantu dengan adanya Chef disini" ucap Rena sangat tulus.


Varo sedang berdiri di samping Rena, menemani gadis itu melepas chef Bayu kembali ke tempat kerja aslinya.


"Mba Rena sama mas Varo, saya pamit ya. Semoga hubungan kalian langgeng.


Oiya mba, mas Varo ini sangat perhatian sekali sama mba Rena. Saya didatangkan kesini dengan tebusan besar ke perusahaan, demi mba Rena senang, mas Varo mengeluarkan banyak uang" Chef Bayu mengeluarkan rahasia Varo didepan Rena.


"Ehm,,, terlalu ramah saya sepertinya ya pak tua" Varo menepuk nepuk bahu chef Bayu. Varo memang dekat dengan Chef yang satu ini, hingga kadang terlihat becanda keterlaluan.


"Sudah sangat pintar sekali anda ngomong ya, sebaiknya segera masuk mobil kalau masih mau pulang dengan kaki yang normal" ancam Varo mengintimidasi, tentu saja itu semua hanya candaan.


"Hahaha, baik bos, saya pamit" Chef Bayu tak henti tertawa cekikikan karena berhasil menggoda Varo di hari terakhirnya bekerja.


Setelah melambaikan tangan dan mobil yang membawa chef Bayu menghilang diujung jalan, Varo merangkul Rena yang tampak sedih.


"Kamu kenapa? jelek banget wajahnya" goda Varo.


"Sedih kak, chef itu baik banget, masakannya juga enak banget, kenapa cuma seminggu sih dia disini" ujar Rena.


"Eh ngelunjak kamu ya" Varo mencubit hidung Rena.


"Aww sakit lo, orang lagi sedih bukannya dihibur" rengek Rena manja.

__ADS_1


"Aku datang kesini mau tes kemampuan kamu selama belajar dengan chef profesional. Siapkan aku tiga jenis masakan dalam waktu sepuluh menit dimulai dari sekarang" Varo bergaya seolah olah sedang menjadi juri lomba memasak.


"Baiklah siapa takut" sahut Rena.


Gadis itu ternyata memang cepat dalam belajar. Buktinya selama satu minggu dibawah arahan chef Bayu, dia sudah terlihat layaknya chef profesional di dapurnya.


Rena memasak dengan cepat sesuai permintaan Varo. Tak sampai sepuluh menit, tiga macam hidangan telah tersedia di hadapan pria itu. Lengkap dengan kopi spesial buatannya.


"Hmmm. Mencurigakan, jangan jangan kurang matang nih" ledek Varo.


"Cobain aja dulu" Rena menantang.


Varo mencicipi semua hasil karya Renayang dibuat dengan tangannya sendiri tanpa bantuan siapapun.


"Wah hebat kamu ya, enak banget, pas semua bumbunya" puji Varo tulus.


"Iya dong, aku kan pintar" Rena memuji dirinya sendiri.


"Eh beneran, aku kan dari kecil meraih beasiswa murid paling pintar, tapi sekarang gak lagi" Rena teringat nasib kuliahnya yang gagal.


"Rena mau kuliah lagi? pindah kampus ya, nanti kak Varo daftarin" bujuk Varo.


"Gak perlu kak, uang tabungan aku udah mulai banyak, nanti aku bisa bayar biaya kuliah sendiri, bisa, pasti bisa" Rena sangat optimis.


"Ya udah, kalau udah gak sanggup bilang ya, ingat ada aku yang akan selalu mendukungmu kapanpun dimanapun" ucap Varo sambil menatap Rena.


"Makasih kak Varo" Rena memeluk pria itu.

__ADS_1


"Makasih juga karena kamu udah kirim chef Bayu kesini, aku udah diceritain semua sama beliau, dia mau kerja disini karena bayaran besar dari kamu" Rena terus berbicara didalam pelukan Varo.


"Apapun demi kamu akan ku lakukan, aku sangat menyayangimu Rena" ucap Varo tulus.


.


.


Malam menjelang.


Rena bersiap untuk beristirahat. Sepuluh menit yang lalu dia baru saja bertelepon ria dengan Varo kekasihnya.


Setelah sholat isya dan mengoleskan krim malam, Rena bergegas naik ke atas ranjangnya. Hari ini cukup melelahkan baginya.


Tapi baru saja membentang selimut, Rena menjerit histeris.


"Aaaaaaaa" teriakan Rena memecah keheningan malam.


"Drtttt....drtttt" ponsel Varo bergetar. Dia yang masih berkutat dengan laptopnya melirik sekilas kearah ponselnya.


"Rena sayang" penampakan layar ponselnya membuat Varo mengernyitkan dahi.


"Tadi katanya udah mau tidur" gumam Varo.


Segera dia mengangkat panggilan itu.


"Kak Varo tolong,,hik" jeritan Rena mengagetkan Varo.

__ADS_1


"Sayang, ada apa?" Varo bergegas mengambil kunci motor dan berlari ke parkiran, sambil tetap berbicara kepada Rena.


"Hik..hik..ada ular besar dan banyak kak disini" jerit Rena ketakutan.


__ADS_2