
Satu bulan berlalu.
Varo saat ini berada di negara Australia. Kehidupan yang dijalaninya saat ini benar benar berbeda. Dia yang tadinya hidup bergelimang harta berubah menjadi seorang yang biasa. Seorang pemuda yang membuka usaha coffee shop sederhana di kawasan pusat kota.
Varo merintis semuanya dari awal kembali. Setelah bisnisnya hancur dan jabatannya sebagai presdir dicabut Varo mulai belajar menerima kenyataan. Dia menyadari bahwa semua yang dialami merupakan hukuman atas kesalahannya dimasa lalu.
Beberapa aset dan tabungan yang dimilikinya dialokasikan untuk biaya pengobatan sang mama dan Renata. Meskipun gadis itu tak tau sama sekali kalau Varo terus berjuang demi menebus rasa bersalahnya.
Sementara itu, Bu Lidya sang mama belum menunjukkan perkembangan yang signifikan semenjak mendapatkan perawatan medis intensif di negara maju ini.
Bu Lidya masih terdiam dengan posisi tidur dan tak merespon apapun yang dilakukan Varo.
"Morning madam Grace, bagaimana perkembangan mama hari ini?" Varo menyapa perawat yang bertugas menjaga ibunya selama ini. Perawat ini sangat membantu Varo disaat dia bekerja. Karena di negara ini Varo tak mempunyai kerabat lain. Dia anak tunggal. Zifa sang adik sepupu yang sangat dekat dengannya saat ini berada di Indonesia untuk melanjutkan studinya.
"Nyonya sangat baik kesehatannya, kita hanya perlu menunggu untuk sebentar lagi melihatnya sadar" dengan aksen bahasa setempat madam Grace menghibur Varo.
Pria itu tersenyum tipis, dia tau madam Grace hanya menghibur tapi biarlah seperti itu.
"Saya akan bekerja, tolong jaga mama ya" Varo berpamitan.
*************
Coffee shop Varo.
"Siang bos, pesanan seperti biasa ya" Adam sang mantan asisten kembali datang ke tempat usaha Varo.
__ADS_1
"Kau kesini lagi?" Varo menanggapi dengan cuek.
Asisten nya yang satu ini memang sangat loyal. Meskipun tak lagi bekerja dengan Varo, Adam masih terus membantunya. Beberapa kali bahkan Varo memintanya menjauh, mencari bos lain agar hidupnya tak terbawa susah seperti Varo.
Namun Adam tak bergeming. Setiap hari dia akan membantu Varo melayani pelanggan yang datang, meskipun hanya dua atau tiga jam di siang hari, karena dia sendiri sudah bekerja di tempat lain dari sore hingga dini hari.
Varo meletakkan kopi pesanan Adam sekaligus sebuah amplop berwarna coklat ke atas meja.
"Apa ini bos?" Adam tak membuka amplop itu hanya meraba raba.
"Meskipun kau tak kuminta untuk bekerja disini, tapi kau sangat membantu ku melayani pelanggan di jam rame, anggap lah itu gaji mu, meskipun tak banyak" jawab Varo.
"Oh ok" Adam tersenyum.
"Bos, gue pamit dulu ya" Adam menyapa Varo yang tengah sibuk membereskan meja dapurnya yang berantakan.
"Hmm" Varo hanya bergumam tak menoleh.
Saat dia berbalik kearah mesin kopi, Varo terkejut melihat amplop yang tadi diberikannya kepada Adam ada disana. Varo berpikir Adam lupa membawanya.
"Woyy,, amplop lu ketinggalan" Varo menelepon Adam tanpa basa basi.
"Itu bayaran kopi gue tadi bos, duit gue sekarang lebih banyak dari lu, jadi gue gak mau kopi gratis" Adam menjawab dengan canda.
"Sombong lu" Varo menjawab dan langsung mematikan ponselnya. Dia tau niat baik mantan asisten sekaligus sahabatnya itu. Dia bersyukur masih memiliki orang baik di sekelilingnya.
__ADS_1
Sementara di belahan negara lain.
"Duh, kenapa lagi sih ni mobil" Zifa panik. Dia baru saja pulang dari kuliah, kemalaman dan berada di daerah sepi sendirian dengan mobil yang mogok.
"Lebih baik gue cari taksi aja di depan, besok pagi baru kesini lagi bawa orang bengkel" Zifa bergumam sendiri.
Dalam ketakutan sebuah mobil menyorotkan lampu kearahnya dan perlahan mendekat.
Kepanikan Zifa semakin tak bisa dikendalikan, bayangan seperti film action ada orang yang keluar dari mobil, membawa senjata tajam dan memaksanya masuk kedalam mobil terus menghantuinya.
Sesosok pria bertubuh tinggi semakin mendekat ke arah Zifa. Wajahnya yang tertutup kegelapan membuat Zifa tak dapat melihat siapa orang itu.
"Jangan mendekat" Zifa mengayun ayunkan sandal yang dipegangnya untuk mengusir orang itu. Matanya di pejamkan untuk membunuh ketakutan yang semakin menjadi.
"Plukk" sandal Zifa diambil oleh orang itu.
"Ahhhhhh" Zifa menjerit keras.
"Hei, kamu kenapa?" suara pria itu menyapa dengan bingung.
Mendengar suara yang lembut itu, Zifa perlahan membuka mata.
Jreng....jreng...jreng....
"Om ganteng" Zifa berteriak histeris. Bedanya kali ini dengan gaya norak.
__ADS_1