
"Ya ampun Rena, kamu pucat sekali" Rena baru saja membuka kostum badutnya dan kepalanya bersandar di sandaran kursi tempatnya saat ini duduk. Tangannya mengipas ngipas keringatnya yang bercucuran.
Alvaro tampak panik dan segera mengambil posisi duduk di samping Rena. Dia khawatir gadis itu akan pingsan sebentar lagi.
Varo kembali menyodorkan botol air mineral yang dibawanya. Rena tak menolak kali ini, bahkan dia meneguk lebih dari setengah isi botol tersebut, cuaca panas dan air sejuk memang pasangan yang tepat.
"Kenapa kesini sih kak, nanti aku dapat masalah lagi, belum puas kemarin udah rekomendasikan pemecatan ku sama bos cafe" Rena dengan jutek mengeluarkan kekesalannya.
"Re, aku kesini karena mau minta maaf masalah ini, aku gak bermaksud membuat kamu dalam masalah" Varo mengucapkan dengan tulus.
"Hmm santai aja kak, udah terjadi juga" Rena masih tetap dalam mode dingin.
"Maaf Re" Varo kehilangan kata kata, dia tak mampu membela diri dan menjelaskan apapun kepada Rena."
"Iya, udah dimaafin" kali ini Rena memberi senyum tipis kepada Varo.
"Ngobrolnya udah dulu ya, badut ini mau kerja lagi" ada getir dalam ucapan Rena kali ini.
"Tunggu Re" Varo menarik tangan Rena yang sudah hendak melangkah dari tempatnya tadi duduk.
Karena tarikan tangan Varo yang terlalu kuat, atau karena tubuh Rena yang ringkih, tubuh kecil dan kurus itu duduk terjerembab tepat di pelukan Varo. Seketika mereka berdua menjadi kaku dan bingung menguasai degup jantung masing masing.
Rena selama ini tak pernah dekat dengan laki laki. Hidupnya habis untuk belajar dan bekerja. Bahkan pada saat remaja pun, dia jarang menikmati waktu bermain. Hidupnya terlalu berat untuk dijalani.
"Maaf Re" lagi lagi hanya itu ucapan yang keluar dari mulut Varo. Pemuda yang biasanya banyak bicara itu tiba tiba kehilangan kemampuannya. Dia salah tingkah tak menentu.
Rena tak menjawab perkataan Varo. Dengan terburu buru dia memasang kembali kepala badutnya dan berlari kecil menuju pintu masuk wahana permainan tempatnya tadi berdiri.
Rena memilih fokus dalam pekerjaannya. Dia tak lagi mempedulikan Varo yang masih duduk mengawasinya.
Sementara Varo, pemuda itu yakin sebentar lagi jam kerja Rena akan selesai. Karena sesuai informasi yang didapatkan dari Aulia tadi, Rena akan selesai jam 4 sore, itu artinya sebentar lagi. Pemuda itu memilih tetap menunggu Rena, dia masih berharap setelah Rena pulang kerja akan lebih banyak waktu untuk mengobrol dan meminta maaf. Varo sudah memiliki rencana untuk gadis itu. Dia akan mengajak Rena untuk kerja di restoran miliknya. Sebagai bentuk tebusan rasa bersalahnya.
.
.
.
__ADS_1
Jam setengah lima sore.
Rena telah berganti pakaian, penampilannya pun sudah lebih rapi. Setelah memastikan kostum badutnya tersimpan dengan aman di loker penyimpanan, dan telah berpamitan dengan sang koordinator, Rena bergegas pulang.
Sebelumnya, Rena mengambil upah harian yang diterimanya di kantor taman bermain tersebut.
Sambil menghitung uang yang didapatnya, Rena terus berjalan kearah luar, nanti setelah sampai diluar gerbang dia akan naik angkot yang melewati jalanan tersebut. Rena tersenyum senang, karena hasil yang didapatnya cukup lumayan, diluar ekspektasinya.
"Yah walaupun panas banget, tapi Alhamdulillah" Rena bergumam sendiri.
Gadis itu tak menyadari, kalau seorang Varo masih menunggunya dan tersenyum sendiri melihat tingkah gadis itu yang lucu.
"Hmmm, banyak nih duitnya, bagi dong" Varo yang sudah berdiri di samping Rena menggodanya.
"Astagfirullah, kak Varo masih ada disini?" Rena menjerit kaget.
Varo lagi lagi tersenyum melihat tingkah tak biasa dari Rena. "Dia lucu" gumam Varo dalam hati.
"Yuk kuantar pulang" Varo menawarkan tumpangan kepada Rena.
"Oh, ok" Varo tak memaksa, namun juga tak beranjak dari posisinya. Dia masih berdiri tegak di samping Rena.
"Ya udah, kak Varo ngapain masih disini" Rena mulai merasa terganggu dengan kehadiran pria itu.
"Ada larangan kah berdiri disini? apakah ini tanah milik seseorang? yang aku tau sih iniasih tanah negara, dan aku warga negara, jadi berhak disini" Varo menjawab kalimat Rena dengan tengil.
"Huffftt"
Rena menghela nafas kesal atas jawaban Varo.
Varo melirik gadis disampingnya itu. Wajah gadis itu semakin lucu saat cemberut. Varo menjadi gemas karenanya. Senyuman kembali tersungging di bibir Varo.
Rena semakin gelisah karena angkot yang ditunggu tak kunjung datang. Bolak balik melihat jam di tangannya untuk memastikan berapa lama dia sudah menunggu.
Sementara Varo, tetap dengan mode cool, berdiri di samping Rena tak bicara apa apa.
"DUARRRRR"
__ADS_1
Tiba tiba petir yang menggelegar mengagetkan kedua orang itu. Karena posisi mereka berada di ruangan terbuka, getaran petir itu cukup terasa dan terdengar sangat keras.
"Aaaaaaaa" Rena berteriak histeris karena kaget. Tubuhnya terasa gemetar, mungkin saja karena terlalu kaget. Rena refleks mencari perlindungan. Lengan Varo yang ada di sampingnya menjadi sasaran. Rena memeluk lengan itu kuat, seakan hendak berlindung dibaliknya.
"Tenang Re, udah aman" Varo memberanikan diri mengusap rambut Rena untuk menenangkannya.
"Hik,,,hik" terdengar isakan lemah dari balik kepala Rena yang dibenamkan didalam lengan Varo.
"Udah, tadi cuma petir, mungkin saja sebentar lagi hujan lebat" Varo mulai menakut nakuti. Kali ini dia yakin, Rena akan mau diajak masuk ke mobilnya.
Rena tersadar akan sikapnya yang tiba tiba memeluk lengan Varo. Gadis itu segera mengubah posisinya. Kepalanya yang tadi bersembunyi dibalik lengan kokoh itu segera kembali ke posisi awal. Dan tangannya pun segera dilepaskan dari tubuh pemuda itu.
"Rena mau tetap disini?" Varo memulai lagi intimidasinya.
"Lihat tuh sebelah sana, udah gelap banget langitnya, aku yakin udah gak ada angkot yang berani lewat sini, kawasan ini sering banjir, sopir angkot gak akan mau cari penumpang kearah sini" Varo tak henti melancarkan aksinya.
"Maaf nih, aku juga harus balik, kalau bertahan disini mobil aku bakal terendam banjir" Varo berkata sambil menahan geli melihat wajah Rena yang penuh ekspresi ketakutan. Lucu, benar benar sangat lucu.
"Rena mau ikut kak Varo atau tetap bertahan nunggu angkot?" Kalimat Varo dibuat semanis mungkin untuk membujuk gadis itu.
"Iya kak, Rena ikut ya, numpang di mobil kak Varo, minimal sampai ketemu angkot" akhirnya Rena luluh.
"Yes" hati Varo melompat bahagia, misi berhasil.
"Ayo" Varo menjulurkan tangannya ingin menggandeng Rena masuk kedalam mobil.
"Makasih kak", Rena tak menyambut uluran tangan itu tapi malah berjalan sendiri mendahului Varo.
"Re, petir gede" teriak Varo usil.
Rena yang kaget kembali mundur dan mengapit lengan Varo lagi.
"Hahaha, tapi boong" Varo menggoda Rena.
Melihat Varo yang tertawa begitu lepas, membuat Rena menjadi terbawa. Bukannya marah, gadis itu hanya mencubit lengan Varo dan ikut tertawa bersama.
"
__ADS_1