
"Lu dimana?, dia gimana kabarnya?" Varo menulis pesan kepada Kiara, sang sahabat.
Varo yang baru saja menutup coffee shop nya masih berdiam diri didalam. Seluruh lampu dimatikan, dia ingin menikmati kesunyian. Ya lupa foto foto Rena didalam ponselnya menjadi penghibur.
Drttt ....drttttt
Baru saja pesan dibaca oleh dokter cantik itu, sebuah panggilan video langsung masuk ke ponsel Varo.
"Gue lagi di rumahnya Rena, gue video kan tapi lu diam ya, jangan bersuara, jangan muncul di layar" Kiara berbisik bisik di ponselnya.
Varo mengangguk angguk pertanda patuh.
Kiara meletakkan ponselnya di meja yang menghadap kearah Rena yang sedang makan.
Rena tak menyadari ponsel itu masih hidup dan ada orang yang sedang memandanginya, karena layar ponsel yang gelap.
"Rena makan apa sih, kayaknya enak" Kiara memulai percakapan.
"Ini bubur ayam, kamu mau? aku ambilin ya" Rena menjawab Kiara dengan senyuman manis. Luka di wajah Rena tak berbekas sama sekali saat ini.
DEG....
Jantung Varo berdebar begitu kencang melihat Rena. Rasa rindu yang berusaha dipendamnya sekarang kembali bangkit dan meronta ronta.
Varo berhasil merekam layar saat Rena tersenyum dengan begitu manis.
__ADS_1
"Aku ambil sendiri aja, kamu tunggu sini ya, aku ke dapur dulu" Kiara meninggalkan Rena sendiri di meja makan.
Rena melanjutkan makannya ditemani Varo dibalik layar.
.
.
.
Kiara balik lagi dengan semangkok bubur di tangannya.
Kedua orang itu terlibat percakapan ringan sambil mengunyah makanan.
"Re, jalan jalan yuk, kamu udah cantik gini tapi gak mau kemana mana, gimana mau dapat cowok" Kiara memancing.
"Oh iya, udah ada pak Niko ya, kalian udah jadian" Kiara sengaja memancing Rena. Dia tau Varo masih mendengar semua percakapan mereka.
"Gak lah, pak Niko dan aku cuma berteman. Aku gak ada hubungan apa apa sama beliau. Aku menghormati dia sebagai Abang" Rena mengklarifikasi.
"Terus kamu mau gimana selanjutnya, masa gak mau menikah seumur hidup?" Kiara kembali memancing.
"Iya, aku udah bahagia begini aja, aku gak mau ada laki laki lain dalam hidupku" Rena menjawab.
"Karena buat aku, jatuh cinta itu hanya sekali, hati aku gak bisa dibagi bagi buat orang lain" Rena tiba tiba mengucapkan kalimat begitu sendu.
__ADS_1
"Kalau ternyata orang yang kamu cintai itu juga masih mencintai mu gimana? kalian mau bersatu lagi?" Kiara tak henti bertanya.
"Duh pembahasan apa ini, udah ah berat mikirnya sakit kepala ku" Rena tiba tiba mengalihkan pembicaraan.
"Aku udah selesai, aku ke dapur dulu ya" Rena bangkit dari duduknya dan berjalan menuju dapur.
Setetes air mengalir di pelupuk mata Varo. Membasahi hatinya. Jawaban Rena menyirami kembali cinta yang hampir kering di hati Varo.
"Woi, dah dengar kan?, buruan pulang, dia masih nungguin lu" Kiara kembali berbisik di ponselnya.
"Makasih ya, tetap jagain dia, gue akan berusaha memperbaiki diri disini, agar gue pantas untuk mendampinginya" ucap Varo.
Setelah mematikan sambungan teleponnya dengan Kiara, Varo seolah memiliki semangat hidup berlipat ganda. Langkah kakinya terasa lebih ringan. Semangat membara untuk kembali memperjuangkan Rena muncul lagi.
Varo memacu mobilnya dengan kecepatan sedang menuju ke rumah. Sang mama sudah menunggunya disana.
Tak sampai setengah jam, Varo sudah berada didalam rumah dan membersihkan diri.
"Good night madam Grace, gimana perkembangan mama?" dengan bahasa daerah setempat Varo menyapa perawat penjaga sang ibu.
"Kesinilah, perhatikan, tangannya sudah bisa bergerak sedikit" madam Grace menceritakan dengan antusias.
Varo memperhatikan jari ibunya bergerak saat dia menyapa.
"Ma, mama dengar suara Varo?" pria itu begitu bersemangat.
__ADS_1
Jari tangan Bu Lidya kembali bergerak. Varo langsung memeluk sang ibu. Hatinya diliputi kebahagiaan malam ini.