
"Apa kalian akan menikah?" Varo kembali bertanya.
"Untuk saat ini belum kak, Rena hanya berteman" jawab Rena.
"Bukankah dia lelaki yang baik?" cecar Varo lagi.
"Iya. Pak Niko baik, sangat baik, karena itulah Rena merasa sangat tidak pantas untuknya" Rena kembali menjawab.
"Kenapa Re, kamu berhak bahagia" Varo mendesak.
"Rena udah bahagia kok dengan begini aja, tanpa pasangan" tegas Rena lagi.
"Apa kamu gak mau menikah lagi dengan siapapun?" Varo memastikan.
"Tidak kak, bagi Rena pernikahan bahagia bukan buat Rena, cukup Rena dan Alif saja berdua. Rena gak mau memaksakan punya suami bila tak saling cinta.
"Apa kamu tak mencintai Niko?" Varo terus mengejar, entah jawaban apa yang diinginkannya.
"Untuk saat ini belum" jawab Rena lagi. Gadis itu menjawab pertanyaan Varo sambil mengupas buah yang ada di meja.
"Apa kamu masih mencintai ku Re?" Varo memberanikan diri bertanya.
Karena jawaban Rena ini akan menjadi penentuan apakah iya harus menyerah atau memperjuangkan cinta.
__ADS_1
"Buatku jatuh cinta hanya sekali, aku pernah memberikan seluruh hati dan cinta buat seseorang dan itu gak akan bisa terjadi dua kali" jawab Rena puitis. Ekspresi nya datar, tangannya terus lincah mengupas buah.
Varo terdiam mendengar ucapan Rena.
"Apa ini artinya Rena meminta ku untuk berjuang?" Varo takut menduga duga.
"Ini kak buahnya makan dulu biar ada tenaga" Rena mengagetkan Varo yang sedang melamun.
"Re, apa cinta satu satunya itu aku?" Varo kembali bertanya.
Rena hanya tersenyum dan duduk kembali di posisinya yang tadi.
"Istirahat lah kak, nanti ngobrol lagi" Rena menghindar.
Varo kembali menatap Rena yang menunduk di sampingnya. Rasa bersalah itu muncul lagi karena jawaban Rena barusan.
Varo menyerah, dia merebahkan tubuhnya membelakangi Rena. Setetes air mata penyesalan kembali mengalir membasahi bantal.
.
.
.
__ADS_1
Sementara itu di Indonesia.
Zifa dan Niko semakin akrab. Kedatangan Zifa setiap hari ke yayasan menarik perhatian Niko perlahan lahan.
Meskipun mereka masih seperti Tom dan Jerry tapi setidaknya Niko sudah merasa khawatir atau mungkin rindu saat Zifa tak muncul di yayasan.
"Zifa, lagi dimana? hari ini ke yayasan gak?" sebuah pesan masuk ke ponsel Zifa.
"Ish, ngapain sih om om genit ini nanya nanya mulu" Zifa membatin. Dia tak membalas pesan itu.
Drttttt....drtttttt
Panggilan masuk dari Niko muncul di ponsel Zifa.
"Ya Om, ngapain sih telpon telpon" Zifa menjawab dengan jutek.
"Anak anak nanyain kamu nih" Niko menjelaskan.
"Aku masih ada kuliah, kayaknya hari ini gak kesana" gadis itu akhirnya menjelaskan.
"Nanti aku telpon ya om, mau lanjut kelas dulu" Zifa memutus sambungan teleponnya.
Niko tersenyum sendiri. Segera pria itu menyimpan ponselnya kedalam kantong dan bergegas melajukan mobil ke arah kantor. Setumpuk pekerjaan menunggunya. Dan yang lebih membuatnya bersemangat adalah hari ini hari kepulangan Rena.
__ADS_1
Niko sudah sangat rindu dengan gadis pujaannya itu. Saat Rena sampai, Niko akan kembali mengutarakan perasaan cintanya. Dan kalau perlu segera mengikat Rena dalam ikatan pertunangan, agar hatinya tenang dan tak lagi dibayangi ketakutan Rena akan dibawa pergi pria lain.
Ucapan Zifa tempo hari yang menyebutkan Rena adalah calon kakak iparnya sedikit mengusik hati Niko. Sayangnya gadis kecil itu selalu mengelak saat Niko ingin mendapatkan informasi lebih lanjut.