Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Preman pengganggu


__ADS_3

Perih rasa hati Varo saat mendengar semua isi hati Rena. Rena yang selama ini selalu lemah lembut dalam bertutur kata, kali ini benar benar dalam keadaan penuh emosi.


Varo sadar dan memaklumi apa yang saat ini diucapkan Rena kepada dirinya.


"Baiklah, terimakasih kamu sudah mau mengungkapkan semuanya, ada saatnya nanti kita bertemu dalam keadaan baik baik, aku harap aku punya kesempatan itu" Varo menjawab keluhan Rena.


"Aku gak akan disini lagi, aku pamit Re" Varo segera berlalu dari hadapan Rena.


Air mata Rena bercucuran karena merasa ucapan yang dilontarkannya kepada Varo sangatlah tajam.


Rena menatap punggung pria itu yang perlahan menghilang dibalik pintu.


.


.


.


Hari hari berlalu. Seminggu setelah Rena mengusir Varo, rutinitas gadis itu sudah kembali normal.


Rena berusaha sekuat mungkin menghapus ingatannya tentang Varo. Rena menyibukkan diri untuk mengurus anak anak di yayasan.


Saat ini, Rena tengah membawa setumpuk besar pakaian kotor untuk diantar ke tempat laundry.


Karena petugas yang mengambil tak kunjung datang, Rena berinisiatif mengantar sendiri semuanya ke tempat laundry yang tak terlalu jauh dari yayasan.


Gadis itu berjalan perlahan sambil menikmati indahnya cuaca sore hari. Sejuk dan tak terlalu panas.

__ADS_1


Langkahnya terhenti saat iya merasakan ada seseorang yang terus mengikutinya sedari tadi.


Rena mempercepat langkahnya dan berhasil menarik nafas lega saat tempat yang ingin ditujunya sudah didepan mata.


Selesai dengan semua urusan pakaian kotornya, Rena berniat ingin kembali pulang. Namun nyalinya ciut kala mengingat ada orang yang sedang mengikutinya.


"Duh aku pulangnya gimana ini?" Rena galau.


"Ah, bismillah gak boleh lemah, harus berani" Rena menguatkan dirinya sendiri.


Rena berjalan bak orang diburu hantu, meskipun terseok seok.


Di pertengahan jalan, dua orang laki laki misterius menghampiri Rena.


"Sore mbak Rena, kami orang kepercayaan tuan Nathan. Beliau saat ini mencari anda, mohon ikuti kami" kedua orang itu membisikkan berita yang membuat Rena ketakutan.


"Gak mau, saya gak ada urusan lagi dengannya" Rena histeris.


"Gak mau, tolong,, tolong" Rena ketakutan. Melihat kondisi jalanan yang sepi Rena putus asa, kejadian penculikannya yang dulu kembali teringat.


"Bughhhh" seseorang datang tepat waktu, menghajar para preman itu tanpa ampun.


Rena menangis sambil memeluk lututnya,. tubuhnya bergetar ketakutan.


Keributan itu memancing orang orang yang lewat untuk datang dan membantu mengusir para preman itu.


"Re tenanglah, aku disini" Varo memegang bahu Rena memberinya ketenangan.

__ADS_1


Rena mendongakkan kepala dan menemukan bahwa Varo lah yang menemukannya.


Rena melihat pelipis dan ujung bibir Varo berdarah. Pria itu terluka saat menolongnya. Hati kecil Rena sedikit tersentuh.


"Te... terimakasih" Rena menghapus airmata nya sendiri dan berdiri sejajar dengan Varo.


"Aku antar sampai yayasan ya, biar gak digangguin lagi sama mereka" Varo menawarkan bantuan.


"Aku janji gak akan mampir, cuma mengantar aja" Varo kembali meyakinkan.


Rena mengangguk, selain rasa takut, rasa sakit di kakinya juga tak tertahankan. Dia tak mungkin meneruskan perjalanannya dengan berjalan kaki. Kakinya sudah membengkak dan merah meradang.


Baru saja Rena melangkah, tubuhnya limbung dan hampir jatuh. Varo dengan sigap menangkap tubuh Rena.


"Awww" Rena kesakitan.


Rena kembali duduk di pinggiran jalan sambil meluruskan kakinya. Gadis itu kesakitan.


Varo langsung memeriksa kondisi kaki Rena dengan menyingkap sedikit keatas bagian kaki celana yang dipakai Rena.


"Astaga" Varo bergidik ngeri melihat kondisi kaki Rena yang seperti itu.


"Kita kerumah sakit dulu, ini harus segera diobati" Varo mengambil keputusan.


Tanpa meminta izin Rena, Varo langsung menggendong tubuh itu. Rena tak mampu berontak dengan perlakuan Varo. Kakinya benar benar sakit.


Varo menggendong tubuh Rena menuju kedalam mobilnya. Sepanjang jalan Varo berusaha memfokuskan diri. Dia hanya ingin membantu Rena. Tak boleh tergoda oleh wangi tubuh Rena yang sangat dirindukannya.

__ADS_1


Sementara Rena, dia berusaha memejamkan mata. menolak kenyataan kalau saat ini dia kembali berada sangat dekat dengan Varo.


Kalau saja kakinya tak terlalu sakit, Rena tak akan mau bersentuhan lagi dengan pria ini.


__ADS_2