Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Kembali kritis


__ADS_3

"Please tuan, lebih cepat mengemudinya" Varo terlihat sangat panik didalam taksi yang mereka tumpangi.


Rena dan Varo duduk di kursi bagian belakang dengan jarak berjauhan. Rena tak berkata apapun agar tak menambah panik. Dia hanya terus memperhatikan Varo yang kacau.


Tak lama, mereka sampai di halaman depan rumah kediaman Varo. Bergegas pria itu membukakan pintu buat Rena dan berlari masuk kedalam rumah.


Madam Grace dan dua orang ART tambahan yang dipekerjakan Varo terlihat panik di depan pintu kamar yang ditutup.


"Tuan Varo, didalam sedang ada dokter yang menangani ibu anda" madam Grace langsung melaporkan situasi terkini.


Varo mengangguk dan membuka pintu kamar mamanya perlahan. Tangan Rena masih terus digenggam hingga mau tak mau gadis cantik itu ikut masuk kedalam. Madam Grace mencuri pandang kearah keduanya. Akhirnya tuan mudanya pulang membawa seorang wanita.


"Dokter bagaimana keadaan mama?" dengan menggunakan bahasa daerah setempat Varo menanyakan kondisi sang ibu.


"Semakin sulit keadaannya, kita harus segera memindahkannya ke ICU" dokter menjelaskan.


"Bukannya kemarin beliau sudah lebih baik, bahkan bisa menggerakkan jari" Varo tak terima dengan kabar yang didapatnya.


"Kondisi seperti ini tak bisa diduga, semua kemungkinan bisa terjadi" dokter kembali menjelaskan.


"Tapi dokter" Varo tetap ingin protes namun Rena menahannya. Tangan gadis itu yang masih setia dalam genggamannya ditarik oleh si pemiliknya.


"Kak, patuhi saja perintah dokter, jangan membantah" tegur Rena.


Varo menatap Rena dengan pandangan sedih, rasa takut akan kehilangan mamanya sangat kuat.


"Percayalah semua akan baik baik saja" Rena kembali menasihati.

__ADS_1


.


.


.


Malam menjelang. Saat ini Varo dan Rena berada di rumah sakit menunggu kamar perawatan untuk Bu Lidya, ibunya Varo.


"Re, capek gak? ini minum dulu" Varo memberi sebuah air mineral kepada Rena.


"Gak capek kak" jawab Rena datar. Gadis itu sedang duduk di kursi yang disediakan di ruangan tersebut.


"Maaf ya kamu jadi ikut repot kesini" Varo merasa tak enak hati.


Rena hanya tersenyum tipis, dia bingung harus bagaimana menanggapi. Tiba tiba dia masuk kembali kedalam hidup Varo. Hal yang dari dulu susah payah dilakukannya.


Posisi Rena yang menyandarkan kepalanya miring ke dinding membuat Varo berpikir Rena kelelahan menemaninya.


"Re, ayo aku antar kamu pulang dulu" ucap Varo.


"Nanti aja kak, selesaikan dulu urusan mamanya" jawab Rena tulus.


"Maaf Re, aku merepotkan mu lagi" Varo merasa tak enak hati melibatkan Rena dalam kesusahan.


Tiba tiba Kiara datang dari arah belakang dan langsung menemui kedua orang itu.


"Rena, Varo apa yang terjadi?" tanya Kiara.

__ADS_1


"Mama gue kritis" ucap Varo sendu.


"Gue turut sedih bro, semoga semua bisa terkendali dengan baik ya" ucap Kiara menghibur Varo.


"Lu pasti belum makan, ini gue bawain makanan" Kiara menyerahkan bungkusan kepada Varo.


"Ku tau darimana gue disini?" Varo baru menyadari kalau sebelumnya dia tak mengabari siapapun.


"Rena yang minta gue antar makanan buat lu kesini, tapi dia gak jelasin apa yang terjadi" jawab Kiara.


"Rena masih aja perhatian sama lu, naluri sebuah cinta" ledek Kiara sambil mencolek Varo.


Varo berjalan mendekati Rena yang masih duduk di pojokan.


"Ayo makan kamu dari tadi terus temani aku, sampai lupa kalau belum makan" ajak Varo.


"Buat kamu aja kak, aku sebentar lagi pulang, nanti makan di hotel aja" Rena menolak.


"Ini ponsel kak Varo masih sama aku" Rena kembali menyerahkan ponsel berwarna hitam itu.


Varo baru ingat, iya menitipkan semua barang barangnya kepada Rena data tadi berangkat ke rumah sakit, karena Rena adalah type manusia yang rapi dan teratur. Tak seperti dirinya yang apabila panik bisa melupakan semuanya, bahkan barang bawaan.


"Makasih ya Re" Varo menatap Rena penuh cinta.


"Aku pamit pulang ya kak, kasihan Kiara nungguin, jadwalnya padat kasihan kalau kecapean" Rena beralasan.


Varo mengangguk dan melepas kepergian Rena.

__ADS_1


__ADS_2