Benci Untuk Rena

Benci Untuk Rena
Pertemuan dengan Aldi


__ADS_3

Rena memandang dari balik jendela kaca yang memisahkan ruangannya berdiri saat ini dengan ruang ICU. Pikiran Rena melayang jauh. Entah bagaimana perasaannya saat ini diapun tak tau.


"Ibu, ada banyak pertanyaan yang ingin Rena tanyakan kepada ibu, cepatlah sadar bu" Rena bergumam sendiri.


Rena menyangka dirinya hanya sendiri di ruangan itu, dia tak menyadari kalau ternyata Varo masih ada bersamanya.


Sebenarnya Varo sudah hendak pergi, namun saat didalam mobil Varo melihat jaket milik Rena tertinggal di kursi penumpang. Varo khawatir Rena akan melewati malam dengan kedinginan, karena itulah pria itu memutuskan untuk balik lagi kedalam rumah sakit dan menemukan Rena yang sedang melamun menatap ibu angkatnya.


"Re" Varo menyapa.


Rena tersadar dari lamunannya dan segera menoleh kearah sumber suara.


"Kak Varo masih disini?" tanya Rena.


"Iya, ini ketinggalan" Varo menyampirkan jaket ke tubuh Rena.


"Disini dingin" tambah Varo lagi.


"Oh iya, lupa bawa tadi saat turun dari mobil" Rena baru menyadari.

__ADS_1


"Sekalian tadi ada yang jual minuman hangat dan makanan di depan, nanti kalau tengah malam lapar lagi, ini bisa membantu" Varo meletakkan sekantong makanan yang dibawanya.


"Ya ampun kak Varo, aku kan mau jagain orang sakit, kok kayak lagi piknik" Rena tak menyangka makanan yang dibawa Varo sebanyak itu.


"Aku khawatir kamu sendirian malam ini, aku temani aja ya Re" Varo mencoba mengajukan penawaran.


"Jangan kak, di peraturan rumah sakit hanya diperbolehkan satu orang saja, lagian juga kan besok kak Varo harus kerja" Rena menjelaskan alasannya menolak.


"Aku udah biasa sendiri kok kak, jangan khawatir" Rena membuat Varo kembali tersindir.


.


.


.


"Ya Allah, tuntunlah hamba selalu" Varo khusuk berdoa sebelum berangkat ke tempat kerja barunya. Sebuah bangunan gedung kecil yang jauh berbeda dengan kantor miliknya dahulu. Pria itu telah rapi, menggunakan pakaian khas orang kantoran, lengkap dengan jas dan dasi semakin menambah ketampanannya.


Setelah menemui bagian HRD, Varo dibawa ke ruangan direktur perusahaan untuk diperkenalkan.

__ADS_1


"Silahkan menunggu disini pak Alvaro, bapak Aldi sedang ada tamu, sebentar lagi akan menemui anda" sekretaris direktur perusahaan itu menjelaskan.


Varo mengikuti arahan dan duduk menunggu seseorang yang menjadi pimpinannya saat ini.


Tak menunggu lama, akhirnya tibalah waktunya Varo berjumpa dengan sang pemimpin perusahaan.


"Selamat pagi pak Aldi, ini bapak Alvaro yang akan menempati posisi staf produksi di perusahaan kita" sang sekretaris memperkenalkan Varo dengan pria yang duduk di meja direktur. Pria itu telah menatapnya dalam sedari tadi, ada senyuman sinis yang terpampang jelas di wajahnya.


"Aldi?" Varo spontan bereaksi saat melihat siapa yang sedang ditemuinya.


"Silahkan duduk tuan Alvaro Prasetya yang terhormat" jawab Aldi sinis.


"Syukurlah anda masih mengingat saya, cukup memprihatinkan melihat kondisi anda saat ini, roda berputar dan saat ini anda ada dibawah saya" Aldi berbicara penuh penekanan.


Varo mulai menyadari apa yang terjadi. Pantas saja saat dirinya mengajukan lamaran pekerjaan di kantor ini, dengan sangat cepat langsung direspon dan diterima bahkan tanpa tes yang biasa.


Aldi, direktur utama perusahaan ini adalah mantan sahabat sekaligus sahabatnya Rena yang menjadi saksi mulai dari awal kisah cinta mereka terjalin hingga akhirnya berakhir dengan tragis.


Aldi lah saksi mata yang melihat betapa kejamnya Varo mencaci maki Rena di hari pernikahan yang gagal itu.

__ADS_1


Wajar bila saat ini Aldi begitu marah melihat Varo. Siapapun orangnya tak akan bisa membenarkan perbuatan kejam Varo kala itu.


__ADS_2